Belenggu Dalam Cinta

Belenggu Dalam Cinta
Bab 10 Pernikahan


__ADS_3

Zoya yang belum siap menerima semua kalimat pedas itu memilih menangis. Bryan sangat senang melihat banyak luka dan kehancuran di mata Zoya. Namun, ia tidak akan pernah puas sebelum membalas rasa sakitnya yang sudah ditorehkan wanita itu kepadanya.


"Lusa kita akan menikah."


"Aku tidak mau menikah dengan pria yang tidak mencintaiku. Aku tidak mau."


"Apa aku sedang meminta pendapatmu?" tanyanya sinis.


"Bryan, aku mohon. Jangan herat aku dalam tali pernikahan. Aku mohon, Bryan."


Rumah ini sudah berpindah tangan, pemilik rumahnya akan datang ke sini nanti siang. Saat itu tiba, kau sudah harus pergi dari sini. Aku tidak peduli kau mau tidur di mana. Yang jelas, lusa kita akan menikah. Paham!"


Selesai dengan kalimatnya, ia segera pergi dan meninggalkan Zoya yang masih menangis. Gadis itu seketika linglung. Rumah ini memiliki banyak kenangan untuknya. Ia tidak bisa melepasnya begitu saja. Namun, jangankan untuk membelinya. Untuk uang makan pun ia tidak punya. Kemana ia akan pergi setelah ini. Zoya tidak bisa berpikir dengan jernih.

__ADS_1


"Bagaimana aku akan hidup ya Tuhan, tolong bantu aku."


Zoya sangat lemah dan tidak tahu harus bagaimana. Ia pun tertidur sebelum pergi dari rumahnya. Sekitar jam enam, pemilik rumah yang baru pun datang. Mereka masih menemukan Zoya di sana dan langsung membangunkannya.


"Mbak, bangun Mbak," ujar wanita yang tidak begitu tua.


"Gimana sih, katanya pemilik rumah tidak akan di sini lagi. Tapi kok masih tiduran di sini." kesal seorang wanita yang berusia kisaran 25 tahun.


"Sayang nggak boleh ngomong kayak gitu. Mungkin dia kelelahan makanya sampai tertidur." Peringat ibunya.


Sang ibu pun sedikit kaget dan saat mata Zoya terbuka. Ia yang awalnya masih memiliki rasa kasih. Tiba-tiba segera mengusir Zoya dari rumah tersebut. Entah kenapa ia meras marah karena ada dokter yang melakukan hal nista hanya karena seorang pria.


"Buk, setidaknya biarkan saya menginap semalam di sini. Saya mohon."

__ADS_1


"Wanita jahat seperti kamu, tidak pantas untuk ditolong sama sekali. Kamu bagusnya memang di penjara. Tapi pria yang sudah kamu buat terluka atas kehilangan kekasihnya tidak menuntutmu. Harusnya kamu bersyukur! Pergi sana dan jangan pernah kembali kemari lagi."


"Bu, saya mohon."


"Saya bilang pergi!" teriak wanita itu di ngan marah.


Zoya perlahan menjauh dari rumah yang dulu selalu memberinya perlindungan dan kenyamanan. Kini semua hanya tinggal kisah pilu yang harus ia kenang. Apa sekarang Tuhan sedang menghukumnya. Kenapa saat di puncak karier, ia harus mendapat musibah sedemikiannya. Bahkan kini alam ikut membencinya saat hujan dan petir menggelegar di langit. Dunia mulai gelap. Di bawah guyuran hujan, Zoya berjalan dengan lunglai. Ia bahkan tidak tahu harus berteduh di mana.


Sampai ia bertemu dengan gorong-gorong yang ada di depannya. Ia bisa berhenti di sana untuk menghindari guyuran hujan yang kian menggila.


"Ya Tuhan, apa sekarang semuanya ikut menghakimiku? Apa aku memang benar-benar sudah bersalah ya Tuhan." isaknya.


Tubuhnya menggigil dengan bibir yang sudah memucat. Zoya mencoba menghangatkan tubuhnya meski ia sudah tidak lagi mampu hanya untuk menyatukan kedua tangannya.

__ADS_1


 


__ADS_2