
Bryan kembali melihat ponsel yang ia belikan. Ia melihat Zoya yang begitu antusias pergi menuju makam kedua orang tuanya. Sudut bibirnya sedikit terangkat. Ia berjalan mendekat sambil menyembunyikan ponselnya di belakang punggung.
"Ini!" serunya sembari menyerahkan ponsel tersebut yang masih berada dalam kotaknya.
"Apa ini?" tanya Zoya bingung.
"Ponsel, itu akan memudahkanmu menghubungiku jika terjadi apa-apa. Di sana juga sudah kutaruh nomorku."
"Terima kasih." Zoya sedikit terharu dengan Bryan.
Bryan berdeham pelan, kemudian menutup tas bawaan Bianca. Ia memperhatikan istrinya yang memperhatikan ponsel tersebut dengan saksama. Binar di wajahnya dua kali lipat dari saat pertama ia melihatnya tadi.
"Apa kau sangat bahagia?"
"Tentu saja," ucapnya singkat.
Bryan ingat pada pemberian neneknya. Sebuah jimat yang katanya bisa menangkal iblis dan perbuatan buruk lainnya dari manusia. Ia berdecih pelan saat mengingat hal tersebut. Ia sama sekali tidak mempercayai hal mistis semacam itu. Ia tidak mau sang nenek mengompori pikiran istrinya meski pun ia tahu istrinya tumbuh dalam lingkungan keluarga yang moderen.
"Jimat yang nenek berikan, abaikan saja, nenek memang sesikit kolot dan masih mempercaysi hal-hal seperti itu."
__ADS_1
"Tidak masalah, aku akan menyimpannya untuk menghormati nenek. Jika aku tidak memakainya, nenek pasti akan merasa aku tidak menghargai pemberiannya."
"Terserah kau saja kalau begitu. Apa sudah siap semuanya?" tanya Bryan melihat sekeliling dan menyisir semua ruangan untuk memindai jika ada barang yang tertinggal.
"Sudah, apa kita akan pergi sekarang?" tanya Zoya hendak mengangkat tasnya yang tidak begitu besar. Bryan menyuruhnya membawa tas yang bisa memuat baju mereka untuk kurun waktu seharian.
"Kau mau apa?"
"Membawa tas kita, memangnya mau apa lagi?" tanya Zoya bingung.
"Biar aku saja."
"Tetap saja, biar aku saja yang membawanya. Ayo ke sinikan tasnya."
"Apa kamu yakin?"
"Apa kamu meremehkan aku?" kesal Bryan.
Zoya tersenyum, ingatannya pada masa di mana Bryan pernah sesak napas karena membawa tas saat menaiki gunung. Bahkan ia yang katanya sangat kuat, hampir pingsan. Untungnya pada saat itu, Zoya lewat dan segera memapahnya menuju tenda. Sedangkan bagi Bryan, itu adalah hal yang paling memalukan dalam hidupnya. Ia bahkan ingin menghilangkan memorinya di bagian itu.
__ADS_1
"Tidak, aku hanya sedang teringat memori masa lalu." kekeh Zoya yang seketika membuat mata Bryan membulat sempurna.
"Jangan mengingatnya lagi, atau kau tidak akan pernah berkunjung ke makam kedua orang tuamu!" ancam Bryan yang berhasil membuat Zoya bungkam.
"Aku tidak akan membuatmu kesal atau pun jengkel. Aku berjanji tidak akan pernah merepotkanmu." tutur Zoya lembut.
Mendengar hal itu mendadak hati Bryan tidak bisa tenang. Ia merasa bersalah karena sudah mengancam istrinya dengan kalimat yang tidak enak didengar. Ia berdeham dan membawa tas mereka ke dalam mobil. Di ruang tamu, ibunya sedang bersantai dengan sang nenek dan sepupunya. Gadis itu masih saja melihat sinis ke arah Zoya yang sejak tadi berjalan di belakang suaminya.
"Sudah mau pergi?" tanya ibunya basa basi.
"Iya, Ma. Supaya kita pulangnya bisa lebih cepat.
"Hati-hati kalau begitu, dan jaga cucu Mama. Jangan sampai dia kenapa-napa."
"Iya, Ma. Pasti."
"Zoya, jimatnya jangan lupa dibawa selalu ya. Karena orang yang hendak berbuat jahat tidak bisa diprediksi."
-----
__ADS_1
Gais jangan lupa terus dukung Author ya supaya makin kaya senyum wkwkwkwkwkw.