
"Zoya, kita sudah sampai."
Zoya segera turun dan memasuki rumah bersamaan dengan Bryan. Suaminya disambut hangat, sedangkan dirinya hanya dianggap sekilas dan Zoya memahaminya.
"Anak Mama udah pulang, kamu pasti capek kan." ibunya menggiring putranya ke sofa dan meninggalkan Zoya yang menatap mereka dengan senyum pahit.
"Mas, kapan-kapan ajak kami juga ke sana." rengek Lekka sambil bergelayut manja.
Zoya yang tidak mau hanya menjadi patung liberty pun segera pamitan karena alasan lelah. Lekka yang melihat itu kesal dan memanasi keluarganya.
"Lihat tu, Tante, dia nggak sopan, nggak nyalamin Nenek sama Tante juga."
Nori melihat kepergian Zoya dengan kesal. Apa yang dikatakan oleh keponakannya ada benarnya juga. Sedangkan sang nenek tampak biasa saja.
"Sayang, ajarin istri kamu untuk lebih sopan sama Mama. Mama ini mertuanya," ucap Nori dan diangguki oleh Bryan.
"Ma, kalau gitu Bryan ke kamar dulu." Pamitnya.
Di kamar ia melihat Zoya sedang berbaring. Ia menghampirinya dan menegur sikap Zoya yang tidak menyapa keluarganya. Bryan mengasumsikan jika itu aksi balas dendam nya karena ia yang tidak mau menziarahi makam kedua orang tua Zoya. Zoya yang sebenarnya sedang tidak begitu baik pun membuka matanya.
__ADS_1
"Apa aku salah lagi?" tanyanya lemah.
"Kamu berlagak tidak menghormati ibuku, apa salahnya menyalaminya." kesal Bryan.
Zoya bangun dan hendak keluar, Bryan bertanya ia hendak kemana. "Kau mau kemana?"
"Menyalami Mama," ucap Zoya singkat.
Bryan mendesah kesal dan menarik tangan Zoya kasar. Tatapannya terlihat marah saat istrinya bersikap seperti itu. Zoya seolah sedang menguji kesabarannya. Zoya sendiri hanya diam saja tanpa melawan atau pun menangis. Ia kini akan menerima semuanya dengan pasrah, karena melawan juga percuma.
"Apa yang coba kau lakukan?"
"Kau benar-benar menguji kesabaranku sejak tadi. Apa kau marah karena aku tidak mau menziarahi makam kedua orang tuamu? Sehingga kau marah dan melampiaskannya pada ibuku!" teriak Bryan dengan wajah memerah, jelas gurat amarah tercetak di sana.
"Kenapa aku selalu salah? Begini salah, begitu salah. Kamu maunya aku gimana?" tanya Zoya lelah. Ia mengambil bantal dan selimut, lalu memilih menuju sofa. Tempat yang seharusnya ia tempati, ia sampai melupakan hal tersebut.
"Kau mau kemana?" tanya Bryan yang tidak tahu harus berkata apa lagi.
"Ke tempat yang seharusnya." terang Zoya dan Bryan hanya mengurut pelipisnya yang terasa nyut-nyutan.
__ADS_1
Baru saja Zoya menuju sofa, perutnya mendadak keram. Ia mengaduh kesakitan sampai bertumpu pada pinggiran sofa. Bryan yang masih membelakangi Zoya belum menyadari istrinya. Sampai suara teriakan membuatnya sadar.
"Akhh!"
"Ya Tuhan, Zoya, kau kenapa?" tanya Bryan cemas.
"Perutku sakit Bryan, sakit banget." isaknya.
"Bryan segera membawa tubuh Zoya ke ranjang dan membaringkannya dengan lembut. Bryan segera menelpon dokter kandungan. Dia keluar dari kamar dengan cemas dan hal itu dilihat oleh ibunya yang langsung bertanya.
"Ada apa, Bry? Kenapa kamu tampak cemas?"
"Ma, perut Zoya keram lagi," jawabnya.
"Ya Tuhanku, Mama akan melihatnya."
Ia segera menuju kamar dan melihat kondisi menantunya. Di ranjang, Zoya sedang memegangi perutnya dan mengaduh kesakitan. Hal itu membuat Nori cemas dan panik, ia segera mendekati Zoya dan menenangkannya. Sang nenek juga terlihat masuk bersamaan dengan Lekka yang lagi-lagi tidak menyukai Zoya yang menurutnya hanya sedang bersandiwara.
__ADS_1
Ngilu bnget jadi Zoya