
Bryan manggut dan mengajak ibunya masuk ke dalam. Mereka meninggalkan Zoya yang tersisa sendiri di taman tersebut. Dari jauh sepupu Bryan melihat Zoya dan segera menghampirinya dengan tatapan kesal. Setiap melihat Zoya, ia selalu ingin marah. Apalagi gadis itu kini mulai mendekati tantenya.
"Hei, kenapa kau mendadak sok akrab dengan tanteku. Ingat ya, kau hanya seorang menantu yang tidak diinginkan di rumah ini! Jadi jangan belagu." dengkusnya dan merebutpenyiram serta gunting membuat tangan Zoya sedikit terluka. Ia segera masuk dan mencuci tangannya ke wastafel di dapur. Bryan melihat gelagat Zoya dan segera menghampirinya.
"Kenapa?" tanya Bryan cuek.
"Kena gunting, tadi Lekka merebutnya tanpa sengaja melukai jariku."
Bryan melihat lukanya cukup dalam. Ia segera membawa Zoya ke ruang makan lalu mengambil P3K.
"Aku bisa sendiri," ucap Zoya tersenyum singkat.
"Bagaimana kau mau mengobati tanganmu sendiri. Sinikan tangannya."
Zoya menyerahkan tangannya, Bryan segera memberinya mengobati luka istrinya yang mendadak membuat Zoya meringis pelan. Hal itu membuat Bryan berdecih pelan sambil menggeleng kepala.
__ADS_1
"Kau itu dokter, kerjaanmu membedah manusia, saat terluka begini malah meringis kesakitan"
Zoya menatap lukanya lama, sedikit merenung lalu tersenyum miris. "Itu dulu, sekarang aku hanya wanita biasa."
Mendengar jawaban Zoya, seketika Bryan melepas tangannya saat selesai mengobati istrinya. Ia segera pergi dari sana. Zoya memilih berada di sana sampai seorang pembantu membuyarkan lamunannya. Ia melihat pembantu itu dengan senyuman.
"Bu Zoya dipanggil sama Tuan Muda di ruangan tamu."
"Baik, terima kasih."
"Ma, Aku sama Zoya akan pergi ke suatu tempat. Mungkin kami akan pulang tengah malam, iti juga kalau sempat. Kalau tidak, kami akan tidur di hotel."
Zoya menatap suaminya bingung, apa makam ibunya sejauh itu sampai mereka harus menginap.
"Memangnya kalian mau kemana?" tanya Nori penasaran. Lekka yang mendengar hal itu mendadak marah. Ia mengepalkan tangan dan menatap Zoya sengit.
__ADS_1
"Mau jalan-jalan, Ma. Zoya butuh suasana baru dan itu baik untuk kandungannya."
"Kenapa harus pergi jauh-jauh, kan bisa jalan dekat-dekat sini." protes Lekka yang terlihat begitu tidak menyukai rencana Bryan.
"Kami juga ingin menghabiskan waktu hanya berdua," tutur Bryan sambil menggenggam tangan istrinya, Zoya yang sedikit kaget sedikit tersipu. Jantungnya berdetak tidak karuan dan matanya bertemu pandang dengan Lekka. Zoya memamerkan senyumnya, ia tahu jika Lekka tidak menyukai dirinya. Gadis itu semakin dibuat dongkol setengah mati.
"Tante, Lekka ke kamar dulu."
Neneknya yang sejak tadi diam saja kini ikut bersuara. Ia mendekati Zoya yang dan memberikan sesuatu kepada Zoya. Sesuatu yang masih menjadi kepercayaannya yang memang sangst taat dengan kepercayaan leluhurnya. Ia memberikan sebuah jimat yang selalu ia kenakan selama ini. Ia percaya jika jimat tersebut akan selalu menjaga siapa pun yang memakainya.
"Pakai ini saat kamu beperguan, Tuhan akan selalu menjagamu dari niat buruk seseorang atau makhluk gaib. Kandunganmu masih rentan dan bisa saja keguguran kapan saja."
Zoya menerimanya dengan antusias, meski pun sebenarnya dia bingung dengan neneknya. Di zaman moderen seperti sekarang sang nenek masih mempercayai hal magis.
"Terima kasih, Nek. Zoya akan selalu memakainya," serunya sambil melihat ke arah Bryan lalu terkekeh kecil.
__ADS_1