Belenggu Dalam Cinta

Belenggu Dalam Cinta
Bab 46 Perlindungan Sang Nenek


__ADS_3

"Hem, idemu bagus juga, nanti biar Mama yang gaji."


"Kita berdua Ma," kekeh Nori dan ia kembali melanjutkan pijatannya sampai mertuanya tidur.


Selesai dengan itu, Nori segera kembali ke kamarnya setelah menyelimuti sang ibu. Karena iseng, ia menjenguk Zoya ke kamarnya. Ia mengetuk pelan tapi tidak ada jawaban. Biasanya jam segini mereka berdua belum tidur, apalagi masih jam tujuh malam. Nori memutar handle pintu dan tidak terkunci, ia kembali mengernyit. Nori masuk untuk melihat situasinya. Ia melihat Bryan tidur dengan kaki masih menggantung, seperti tidak sadar. Sedangkan Zoya tidur lelap.


"Kenapa mereka?" tanya Nori bingung.


Ia melihat gelas yang masih berisi teh. "Apa ada sesuatu di sini?"


Nori teringat saat melihat wajah girang Lekka. Ia menaruh curriga padanya. "Apa ini semua ada hubungannya sama Lekka? Gadis itu benar-benar kurang ajar. Apa dia mencoba mencelakai Zoya?"


Nori kesal dan segera membawa teh tersebut menuju kamar Lekka yang berada paling ujung. Ia mengetuk kasar dan Zoya membuka pintu tersebut dengan wajah senang. Nori yang memang sudah sangat muak dengan kelakuan anak dari adiknya segera melayangkan tamparan keras sampai pipinya memerah.


"Apa yang kamu campurkan ke dalam minuman ini?" selidiknya.


"Apa maksud Tante, Lekka nggak paham."

__ADS_1


"Nggak paham kamu bilang? Kalau begitu sekarang coba kamu minum teh ini sekarang!" teriaknya menggelegar. Suaminya sampai keluar dari kamar dan menghampiri sang istri yang sedang marah besar.


"Ma, ada apa? Malam-malam kok teriak-teriak?" tanyanya.


"Tanyain sama keponakanmu apa yang coba dia lakukan kepada menantuku. Masih untyng yang meminumnya Bryan, coba kalau Zoya. Dia bisa saja keguguran."


"Om, Lekka benar-benar nggak paham apa yang Tante bicarakan, Tante terus mengatakan mencelakai Zoya. Apa maksudnya Om." kilahnya membuat darah Nori semakin mendidih.


"Sekarang coba kamu minum tehnya." Nori menyodorkan kepadanya. Wajah Lekka jelas pucat seketika. Jika ia meminumnya, maka akan terbongkar semuanya. Tapi jika ia tidka meminumnya ia juga akan ketahuan.


"Papa diam, kalau Papa nggsk peduli sama cucuku, kembali saja ke kamar. Tapi jangan pernah halangi aku untuk melindungi cucuku!"


Deni terdiam karena ia sangat tahu bagaimana tabiat istrinya jika sudah marah. Artinya memang ada hal yang tidak bisa lagi ia toleransi jika menyangkut nyawa cucunya.


Nori kemudian melihat ke arah Lekka dengan sengit. " Sekarang minum!"


Lekka pun menerima gelas tersebut dengan tangan gemetar ketakutan. Ia segera minum teh dan lima menit kemudian matanya perlahan redup dan jatuh. Deni mengerjapkan mata dan menggeleng.

__ADS_1


"Lihat Pa. Apa yang coba dia perbuat pada Zoya. Dia memberinya obat tidur dosis tinggi."


Tanpa menunggu lama, Deni menghubungi sang adik yang berada di luar negeri.


"Halo Kak, tumbem malam-malam menghubungiku?" tanyanya.


"Besok aku akan mengirim Lekka kembali ke sana."


"Memangnya ada apa, Kak?" tanya adiknya heran. Karena baru kali ini sang kakak menelpon dengan nada yang datar dan terdengar tidak bersahabat. Jelas intonasi kemarahan terlihat di sana.


"Dia mencoba membunuh cucuku!"


"Cucu? Maksud kakak Bryan sudah menikah?"


"Tidak perlu membahasnya, besok Lekka akan kukirim pulang ke sana. Maaf Beni, tapi aku tidak mentolerir jika dia berusaha melenyapkan cucuku dengan alasan apa pun. Kami tidak bisa mengorbankan cucu kami hanya untuk menampungnya di sini."


----

__ADS_1


__ADS_2