
Esoknya, Nori segera menyuruh Lekka keluar dari rumahnya. Gadis itu tentu sangat kaget, bahkan ibu mertuanya serta merta terkejut karena menantunya marah besar. Ia mencoba menenangkan sampai membuat Bryan dan Zoya bangun. Mereka berdua segera menghampiri pusat keributan.
"Ma, ada apa?" tanya Bryan bingung.
"Kamu tahu nggak apa yang coba Lekka lakukan sama istri kamu?" tanya Nori dengan wajah merah padam, menandakan kemarahannya sudah tidak bisa lagi dibendung. Jelas saja Bryan yang tidak mengetahui bingung dan bertanya-tanya.
"Nori, kenapa harus marah-marah, ini masih pagi. Malu sama tetangga kalau sampai didengar." tegur sang mertua.
"Mama, masalah ini tidak bisa lagi Nori toleransi. Dia ini sudah keterlaluan, Ma." teriak Nori, Deni menenangkan Nori agar tidak terlalu memporsir amarahnya karena ia tidak mau istrinya tinggi darah karena masalah ini.
Zoya hanya menjadi penonton di sana. Lekka masih menatap penuh kebencian kepada Zoya sampai berani menatap sinis ke arahnya disela teriakan Nori yang memekakkan telinga.
"Ma sebenarnya ada apa?" tanya Bryan serius.
"Dia!" tunjuk Nori, "Memasukkan obat tidur dengan dosis tinggi ke dalam teh yang kamu minum tadi malam."
Mendengar hal itu, Lucas pun mulai mengingat, saat ia minum beberapa tegukan, rasa kantuk menyerangnya dan ia langsung tertidur. Bryan menatap Lekka tajam dan mendekatinya.
__ADS_1
"Apa benar kamu menaruh obat tidur pada teh tadi malam?" tanya Lucas tajam.
Lekka tidak tahu harus menjawab apa, ia hanya mampu terdiam sekaligus malu dan marah karena ia tidak berhasil menyingkirkan Zoya. Malah ia yang tersingkir dari rumah ini.
"Mbok!" teriak Bryan keras.
"I-iya, Tuan ada apa?" tanyanya dengan gemetar.
"Siapa yang membuat minuman tadi malam?"
"S-saya Tuan," jawabnya.
Pembantu itu segera menggeleng keras seraya menangis. "T-tuan, saya tidak akan berani melakukan hal sekeji itu."
"Lalu kenapa bisa ada obat tidur di dalam minuman tersebut?" Bryan kembali mengajukan pertanyaan dengan amarahnya yang siap meledak kapan saja.
"Saat saya sudah selesai membuatnya, tiba-tiba Non Lekka datang dan menawarkan dirinya untuk mengantar minuman karena Non Lekka mengatakan jika ia satu arah ke lantai dua, Tuan." terangnya dengan menangis.
__ADS_1
"Mbok bisa kembali ke dapur."
"Terima kasih, Tuan." ia segera undur diri dengan perasaan lega karena ia tidak terbukti bersalah.
"Lihat, Mama bahkan bertemu dengan dia dengan wajah berseri-seri."
"Bryan, maafkan aku, aku khilaf tolong maafkan aku."
Ia kini beralih ke arah Nori dan Deni. Lekka menangis dan berkata sangat menyesal karena sudah melakukan tindakan tercela tersebut. Dia terus mencoba meyakinkan mereka agar dia diusir dari sana.
"Tante, Om, maafkan Lekaa, tolong jangan usir Lekka dari sini, Lekka mohon Om, Tante."
Melihat tidak ada yang merespon, Lekka kini berlari ke arah neneknya dan meminta maaf dan meminta agar sang nenek tidak ikut membencinya. Tapi semua sudah terlalu marah dengan tindakannya. dia kemudian berlari ke arah Zoya dan memohon.
"Zoya, maaf aku tidak bermaksud melukaimu. Aku khilaf karena cemburu, kamu bisa merebut hati semua orang yang ada di rumah ini. Aku mohon maafkan aku Zoya."
Zoya melihat ke arah Lekka dengan lekat tapi ia tidak menemukan raut penyesalan di sana. Ia melepas tangan Lekka dari tangannya dan berkata dengan sangat lantang tapi santai.
__ADS_1
"Saya tidak bisa mentolerir siapa pun yang mencoba mencelakai anak saya, siapa pun dia meski Bryan sekali pun. Saya akan melawannya." tegasnya dengan tajam.
--------