Belenggu Dalam Cinta

Belenggu Dalam Cinta
Bab 52 Sebuah Permainan


__ADS_3

Jawaban yang sontak membuat para ibu-ibu patah hati karena gagal mendapatkan Zoya terlebih dahulu. Mereka merasa betapa beruntungnya mertua yang bisa mendapatkan wanita cantik sepertinya. Mereka pun langsung penasaran, siapa sosok mertua dan suami Zoya.


"Wah mereka beruntung sekali, kami jadi iri."


Nori tersenyum bangga dan menatap Zoya bahagia. Memangnya siapa lagi yang lebih beruntung kalau bukan dirinya. Tapi mereka tidak mengetahui pernikahan putranya dengan Zoya. Untuk itu ia ikut menimpali saja.


"Kalian benar, mereka memang sangat beruntung ya. Coba saja kalau Bryan mau move on, pasti sudah saya lamar juga dia."


Zoya dan neneknya yang sedang menjadi penonton tersedak ludah mereka sendiri, bagaimana tidak? Nori bermain begitu apik seolah Zoya hanya sebatas keponakannya saja. Tapi dia akan memberikan mereka kejutan yang bisa menyebabkan terjadinya syok berkepanjangan. Nori tertawa jahat dalam hati.


Di rumah sakit, Bryan menyuruh bawahannya untuk mengurus berkas dan jadwal operasi jantung yang akan dijalani oleh anak kecil bernama Alen. Ada perasaan senang dan bahagia yang ia rasakan saat berbagi kebahagiaan bersama orang lain. Wajah mereka menatap Bryan bagai malaikat penolong yang diturunkan Tuhan kepada keluarga mereka yang lahir dari kemiskinan.


"Dokter Bryan sudah ganteng, baik lagi. Pantas saja Tuhan mempertemukan dokter dengan dokter cantik yang kemarin menolong saya."


"Alhamdulillah, ibu. Saya mau menyampaikan pesan dari istri saya. Beliau bilang kalau sangat merindukan ibu dan sekeluarga. Nanti dia akan berkunjung kalau sudah memiliki waktu luang."


"Kami akan sangat tersanjung, Dokter. Karena Dokter Zoya bersedia mengunjungi kami di sini."

__ADS_1


"Kalau begitu saya permisi dulu ya bu. Untuk jadwalnya akan segera saya informasikan lagi."


"Baik, Dokter, terima kasih "


Bryan menganguk dan undur diri dari sana. Ia mengambil ponsel dan melihat poto Zoya yang ia simpan tanpa sengaja. Entah kenapa rasa rindu merasuk dalam hatinya. Ia kembali menelpon Nori dan meminta agar menyerahkan ponselnya kepada Zoya.


"Sayang, ini ada yang mau ngomong sama kamu."


"Siapa, Ma?" tanya Zoya heran.


"Lihat aja, nanti juga tahu."


"Halo," sapanya.


"Sayang," ucap Bryan yang mendadak membuat jantung Zoya berdetak tidak karuan.


"Eh, k-kenapa?" tanya Zoya gugup.

__ADS_1


"Tiba-tiba kangen, kau di mana sekarang?"


"Di restoran."


"Aku ke sana ya, kau jangan kemana-mana."


"Oke, tapi ...."


Panggilan pun sudah dimatikan sepihak oleh Bryan. Pria itu tanpa menunggu lama segera meluncur menuju restoran yang biasa didatangi oleh keluarganya. Di sepanjang perjalanan, dia tersenyum membayangkan wajah Zoya yang sejak tadi melintas di kepalanya. Ia pun sampai dan memarkirkan mobilnya.


"Hai semuanya." sapa Bryan kepada mereka.


"Hai anak tampan. Udah lama nggak bertemu sama Bryan. Makin lama kok makin ganteng ya." puji mereka yang ada di sana.


"Tante bisa aja, Bryan agak sibuk belakangan ini Tante. Makanya udah jarang menemani Mama keluar."


Mata Bryan sejak tadi mencuri pandang pada Zoya. Nori yang menyadari hal tersebut menyuruhnya untuk membawa Zoya pulang terlebih dahulu. Bryan dengan semangat empat lima segera membawa Zoya bersamanya. Ia pamit kepada mereka semuanya dan berjalan meninggalkan restoran sambil menggandeng tangan Zoya mesra.

__ADS_1


Halo gais, maaf yah aku sekarang updatenya jarang2 karenaenjelang lebaran akutu sibuk bikin kue.


__ADS_2