
Satu minggu kemudian, aktivitas yang dilakukan oleh Zoya hanya seputar bersih-bersih. Zoya mulai dilanda kebosanan, apalagi Bryan yang selalu mengganggunya siang dan malam tanpa henti membuatnya gerah. Zoya sejenak mengingat kenangan mereka saat hubungannya masih baik-baik saja.
"Dulu dia sangat lembut meski katanya tidak pernah mencintaiku." gumam Zoya sedikit nostalgia. Ia tersenyum saat mengingat semua itu.
"Ada apa? Apa sekarang kau sudah gila?" Tanya sebuah suara dengan sarkastik dan pemilik suara itu adalah Bryan.
"Hanya mengingat saat kita masih baik-baik aja," gumam Zoya.
"Semua yang dulu pernah terjadi hanya bagian dari sandiwara. Kau pikir aku benar-benar ikhlas melakukannya? Kau itu hanya gadis manja yang selalu membuatku muak!"
Selesai mengatakan itu, Bryan pergi ke kantornya. Lagi-lagi ia meninggalkan Zoya setelah memaki dan menyakiti perasaannya. Zoya tersenyum getir dan menganguk paham. Tanpa sadar air mata jatuh membasahi pipinya yang putih.
__ADS_1
"Apa nggak bisa sekali aja kamu tidak melakukan hal yang menyakitkan padaku, Bryan? Apa menghancurkanku begitu memuaskan bagimu. Harus seberapa hancur lagi," ucap Zoya getir.
Ia bangun perlahan dan memulai aktivitas seperti biasanya. Ia berusaha memikirkan sesuatu yang menyenangkan saat melakukan pekerjaannya.
"Zoya, mungkin nasib kamu emang harus kayak gini, mungkin selama ini kamu terlalu hidup bahagia sampai Tuhan cemburu karena kamu melupakannya."
Setelah berkutat kurang lebih selama dua jam lamanya, Zoya akhirnya selesai melakukan pekerjaannya. Ia istirahat sejenak lalu perutnya mulai terasa keroncongan. Ia pergi ke dapur dan memeriksa isi kulkasnya. Di sana hanya ada telur. Zoya bahkan tidak tahu harus dia apakan telur tersebut. Karena sudah sangat lapar, Zoya pun segera mengambil sebuah panci lalu mengisinya dengan air. Ia segera memecahkan telur tersebut ke dalam air dan menunggunya sampai mendidih. Dengan menambahkan sedikit garam.
"Kenapa rasanya nggak sama."
Baru saja masuk dua suap, Zoya segera memuntahkan makanannya. Perutnya tidak bisa mentolerir makanan yang tidak enak sedangkan ia sudah sangat kelaparan. Beberapa kali ia mencobanya. Namun, hal yang sama selalu terjadi.
__ADS_1
"Aku sangat lapar," isak Zoya saat lagi-lagi ia hanya bisa muntah dan perutnya kini terasa perih.
Seandainya ia memiliki ponsel dan uang, setidaknya dia masih bisa memesan makanan cepat saji. Tapi Bryan benar-benar total dalam menyiksanya. Zoya jatuh terduduk dan menangis sampai sesegukan. Ia ingat, jika dulu bisa makan sepuasnya dan bisa membeli makanan apa pun yang dia inginkan. Tapi saat ini, ia bahkan tidak bisa lagi menikmati semua itu. Zoya sangat menyesal karena tidak pernah belajar memasak. Ia menangisi kebodohannya karena dulu terlalu terlena dengan kebahagiaan yang nyatanya begitu semu.
Saat masih menangis, ia mendengar suara pintu terbuka. Ia mengira Bryan sudah pulang dan segera menghapus air matanya. Ia mencuci mata dan segera menuju ruang tamu. Pakaian yang sedikit lusuh membuat gadis cantik yang membawa makanan sedikit mengernyit. Sedangkan Zoya sedikit kaget saat melihat ada wanita di apartemen Bryan.
"Maaf, Anda siapa?" tanya Zoya bingung.
"Oh, jadi kamu pembantunya Bryan, bagus deh. Sekarang kamu sajikan makanan dia. Dia sebentar lagi pulang."
__ADS_1
gais jangan lupa dukung karyaku yahhhh