
Zoya menarik selimut tipis yang menutupi seluruh tubuh polosnya dan memandang sesuatu dengan lama. Ia kembali mengingat masa-masa indah mereka berdua saat masih berpacaran. Kenangan yang begitu manis berhasil menyakiti hati dan perasaan Zoya.
"Memangnya menangis bisa membuatmu lebih baik?" tanyanya pada diri sendiri. Sesekali juga tersenyum sinis karena tingkahnya yang sangat lemah dan terkadang murahan. Mengingat itu, Zoya merasa sudah menjadi wanita simpanan yang haus akan belaian.
Malam pun tiba, Bryan pergi dari apartemennya tanpa berpamitan pada Zoya. Meskipun begitu, Zoya tahu kemana tujuan suaminya. Pria itu akan pergi ke rumah orang tuanya untuk dikenalkan dengan wanita pilihan mereka.
"Kupikir hubungan kami sudah membaik saat melakukan hubungan suami istri. Tapi nyatanya semua sama saja. Tidak ada yang benar-benar membaik."
Zoya pun sangat lelah dan memilih mandi sebelum ia tidur karena tubuhnya sangat lengket. Satu hal yang dia syukuri karena kamar mandi luarnya menyediakan bath up sehingga Zoya bisa mandi sambil merebahkan diri. Padahal ia baru selesai mandi tapi harus mandi lagi akibat ulah suaminya.
"Apa Bryan akan bisa mencintaiku seperti cintanya yang begitu besar pada Donita. Apa yang dimiliki gadis itu yang tidak ia miliki. Apa penyebab Bryan sangat membenciku sampai ingin melihatku menderita." desahnya.
__ADS_1
Zoya perlahan merebahkan diri ke dalam bath up dan merasakan air yang perlahan mengaliri tubuhnya terasa sangat menyegarkan. Ia terbuai dengan sentuhan dan kenyamanan tanpa mengetahui apa yang akan terjadi ke depannya. Bryan yang sudah sampai ke rumah ibunya pun disambut hangat. Meski sang ayah hanya menatapnya dingin tapi ia tidak begitu peduli.
"Sayang, akhirnya. Sebentar lagi gadis itu akan datang bersama orang tuanya."
"Bryan senang mengetahui hal itu, membahagiakan ibunya juga menjadi salah satu impiannya. Dulu ia mendekati Zoya karena ibunya yang begitu tertarik dengannya. Selama itu ia bertahan bersama Zoya hanya karena ibunya. Lalu setelah nama baik Zoya tercemar, ibunya begitu membencinya. Bahkan begitu bersyukur karena Bryan memutudkan pertunangan mereka.
"Mama janji dia tidak akan memiliki catatan buruk seperti mantan tunanganmu itu. Si Zoya, Mama berharap semoga dia mati."
"Apa Mama bilang, dia sangat cantik, kamu saja sampai terpesona kan?" goda sang ibu. Bryan tertawa pelan dan mencoba menikmati suasana tersebut. Ia dan gadis bernama Yuna mengobrol di tempat yang terpisah. Melihat wajah Yuna, perlahan ia mengingat Zoya yang ia tinggalkan tanpa kabar sama sekali.
"Yuna, apa kau memilik pacar?" tanya Bryan mencoba mencairkan suasana.
__ADS_1
"Mama tidak pernah mengijinkan aku pacaran dengan sembarang pria. Dulu aku memberontak, tapi sekarang aku bersyukur karena Mama ternyata memiliki pria setamoan kamu."
Mendengar hal itu, Bryan tertawa singkat dan menatap Yuna. Lagi-lagi ia teringat dengan Zoya. "Luna, aku permisi sebentar."
"Ah, silakan."
"Ma, Bryan harus pergi sebentar, ada hal yang mendesak."
"Bryan kamu mau kemana?" tanya ibunya serius.
"Ma, hati Bryan nggak bisa tenang sejak tadi. Bryan takut akan terjadi sesuatu. Bryan pamit!"
__ADS_1
----