
Bryan melihat neneknya yang tersenyum. Ia mendadak merasa sang nenek sedang menyindirnya. Karena entah bagaimana caranya, ia merasa tersindir dengan ucapan neneknya mengenai jimat tersebut.
"Baik, Nek. Sudah Zoya simpan baik-baik."
"Ma, Nek, kalau gitu kami segera berangkat." pamit Bryan.
Nori tidak banyak berbicara saat mereka berdua pergi. Sedangkan Lekka yang sejak tadi sudah panas membara, ia segera pergi dari sana smabil menghentakkan kaki tidak karuan. Mereka yang melihatnya hanya mampu menggelengkan kepala.
"Apa perjalanannya memang sejauh itu?" tanya Zoya penasaran.
"Lihat saja nanti. Jangan banyak bertanya, jika moodku jelek, kita akan gagal pergi ke makan orang tuamu, paham!"
"Iya, aku paham."
Sepanjang perjalanan, Zoya hanya diam. Ia hanya akan bersuara saat Bryan mengajaknya. Jika tidak? Ia hanya diam, pikirannya berkelana kemana-mana tapi dehaman suaminya membuat ia melirik sejenak.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Zoya pelan.
"Nggak capek diam selalu sejak tadi?"
"Aku takut salah bicara yang bisa membuat moodmu hancur dan berantakan. Nanti kamu nggak mau mengantarku ke makam orang tuaku."
"Aku hanya bercanda, kenapa kau begitu serius."
"Mana kutahu kamu bercanda, biasanya kamu selalu serius. Aku tidak mau membuat kesalahan sedikit pun."
"Apa aku salah lagi?" tanya Zoya sambil mendesah pelan.
"Nggak, kita akan segera sampai, sebaiknya kamu tidur atau nyanyi supaya perjalanannya tidak membuatmu mual atau mabuk atau bosan."
"Memangnya masih jauh?" tanya Zoya.
__ADS_1
"Apa kau hanya bisa menanyakan itu?" kesal Bryan. Ia ingin mereka berdua tidak kaku.
"Aku benar-benar tidak tahu harus mengatakan apa lagi. Karena hanya itu yang terpikir di otakku. Emangnya salah. Lagi pula kamu suka marah-marah kalau aku salah dan kamu akan mengancam ku."
"Kalau begitu lebih baik kau tidur." ujar Bryan ketus.
Joya pun memilih tidur agar Brian tidak lagi mengancamnya. Iya tidak mau jika pria itu mengurungkan niatnya untuk ke makam ibu dan ayahnya. Hal itu membuat Brayen senang sekaligus terkekeh geli melihat tingkah laku Zoya kepadanya. Memangnya apa yang ada dalam pikiran istrinya sampai begitu takut dengan ancamannya. Padahal iya hanya bercanda dengan ucapannya. Perjalanan yang mereka tempuh hanya sekitar tiga jam dan mereka sudah sampai. Sebelum menuju ke makam kedua orang tua Zoya, lebih dulu berhenti di Tempat yang menyediakan bunga.
"Zoya bangun, kita sudah sampai." Bryan menatap ke sebelah dan menghela napas singkat melihat istrinya tidur sangat lelap. Bryan memperhatikan wajah yang sangat cantik. Siapa pun pasti akan jatuh hati pada istrinya. Bryan kemudian menggeleng pelan karena tidak suka dengan pemikirannya.
Joya terlihat tidur lelap dan Brian tidak tega membangunkannya. Ia pun mengurungkan niatnya untuk langsung ke makam dan memilih membawa Zoya ke penginapan, karena hari sudah sore saat mereka sampai. Bryan memarkirkan mobilnya kemudian ia keluar dan menemui resepsionis. Iya menanyai mengenai kamar yang kosong. Resepsionis itu memberitahu jika ada beberapa kamar yang masih kosong. Matanya tidak lepas memandangi wajah Bryan tampan. Hal itu tidak membuat Bryan risih, Iya kemudian kembali ke ke mobil dan meminta kepada pegawai di hotel itu untuk membawa barang-barangnya. Sedangkan iya menggendong Zoya menuju kamar. Hal itu disaksikan oleh resepsionis yang mengira jika Bryan datang sendiri.
------
Cie yang masuk kemana tuh ye. Jangan lupa senyumnya Bebs.
__ADS_1