Belenggu Dalam Cinta

Belenggu Dalam Cinta
Bab 29 Perasaan Hampa


__ADS_3

"Besok aku akan mengantarmu."


"Terima kasih," ucap Zoya senang.


"Sekarang tidur, besok perjalanan kita akan memakan waktu yang cukup lama."


Mendengar hal itu Zoya sangat senang. Ia segera tidur agar besok bisa kuat dalam perjalanan menuju makam orang tuanya yang tidak pernah ia ketahui keberadaannya. Bryan menatap Zoya, hatinya terus bergejolak karena di sisi lain ia tidak mau jika hatinya sampai terpaut. Namun, di sisi lain, figur seorang ayah mulai terlihat dalam dirinya. Ia tidak mau membuat Zoya stres yang bisa membuatnya keguguran.


 


Pagi itu, Zoya bangun dengan perasaan yang sudah lama hilang dalam dirinya. Kebahagiaan yang sempat sirna, perlahan kembali dan ia pergi keluar rumah untuk menghidup udara sejuk. Di sana sudah ada Nori yang sedang menyiram tanamannya yang memang sengaja ia rawat sendiri karena kecintaannya pada bunga. Berbagai jenis bunga terlihat mekar dan memenuhi taman mini tersebut. Zoya sangat antusias melihatnya. Nori yang menyadari kehadiran Zoya berdehem sejenak dan menunggu untuk disapa.


"Selamat pagi, Ma."


Ia melirik Zoya sekilas dan menjawab sekenanya saja. "Pagi."

__ADS_1


"Bunga Mama sangat cantik, dan pintar merawat tanaman." puji Zoya melayangkan serangan pertamanya sebagai menantu.


Nori yang sangat mencintai bunga, jelas merasa tersanjung karena dengan pujian yang diberikan Zoya pada bunga kesayangannya. Ia kembali melirik Zoya dan bertanya sedikit demi sedikit.


"Apa kesukaanmu?" tanyanya singkat.


"Saya menyukai sekala jenis bunga kecuali bunga bangkai dan bunga beracun," jawab Zoya tersenyum.


Nori mendadak spechless mendengar jawaban Zoya. Menantunya itu tersenyum dan meminta izin untuk menyiram bunga milik mertuanya. Ia pun mengizinkan hanya saja tidak yakin kalau Zoya pandai merawatnya. Zoya mengambil alih dan memulai proses yang belum pernah dilakukan oleh Nori sebelumnya. Wanita itu sampai dibuat kaget saat menantunya mengambil sebuah gunting dan memotong tangkai mawar.


"Ma, mawarnya akan jauh lebih cantik apabila Mama menggunting tangkai yang sekiranya tidak begitu berperan penting. Nah tangkai yang Zoya potong tadi hanya tangkai yang tidak menghasilkan bunga sama sekali, itu terlihat dari bentuknya." terang Zoya membuat Nori menganga lebar. Iya tidak menyangka jika Zoya mengetahui hal detail sampai ke sana. Sedangkan dirinya, hanya mengetahui cara menyiram saja.


"Lalu, Ma. Selain memotong rutin tangkainya, Mama juga harus memotong daunnya supaya mawar bisa tumbuh lebih indah." jelas Ziya, ia segera memotong beberapa daun yang menurutnya menganggu pemandangan. Setelah itu Nori bisa melihat perbandingan yang signifikan.


"Wah, saya baru tahu mengenai hal ini." Ia terlihat sangat antusias. Meski pun ia masih membatasi dirinya pada Zoya. Ia berdehem sejenak dan menanyakan kondisi menantunya dengan nada cuek.

__ADS_1


"Bagaimana kondisimu? Sudah membaik?"


"Sudah, Ma."


"Syukurlah," ucap Nori. Ia terus memperhatikan Zoya yang melakukan rutinitasnya dengan lihai serta menyiram bunganya dengan takaran yang pas.


Kegiatan mereka berdua dilihat oleh Bryan. Pria itu hanya menatap datar pada Zoya dan segera mendekati ibunya. Ia mengecup pipi ibunya dan menanyakan hal basa basi. ia melirik tangkai bunga yang tadi dipotong oleh Zoya.


"Ma, kenapa tangkainya dipotong?"


"Itu pekerjaan istrimu barusan, katanya tangkai itu tidak begitu penting."


Bryan manggut dan mengajak ibunya masuk ke dalam. Mereka meninggalkan Zoya yang tersisa sendiri di taman tersebut. Dari jauh sepupu Bryan melihat Zoya dan segera menghampirinya dengan tatapan kesal. Setiap melihat Zoya, ia selalu ingin marah. Apalagi gadis itu kini mulai mendekati tantenya.


 

__ADS_1


__ADS_2