Belenggu Dalam Cinta

Belenggu Dalam Cinta
Bab 33 Rasa Nyaman, Benarkah?


__ADS_3

Di belakang tampak seorang pegawai mengikutinya. Melihat Bryan yang sedang menggendong Zoya. Iya pun menawarkan diri untuk membuka pintu tersebut. Brain dengan senang hati menerima bantuan dari pegawai itu. Iya membawa masuk Zoya dan meletakkannya di ranjang dengan lembut. Setelahnya pegawai Itu tampak ingin undur diri dan Bryan memberinya tips kalau sudah membantunya.


"Terima kasih, Tuan," ucapnya dengan penuh syukur. Hanya mengangguk dan kemudian masuk ke kamar.


Di sana ia segera mandi sembari menunggu Zoya terbangun. Sekitar 20 menit kemudian, Ia sudah selesai dan membuka tablet yang selalu ia bawa kemana pun. Karena dengan Tab, ia bisa mengontrol pekerjaannya. Selain itu ia juga bisa mengerjakan dan memeriksa setiap laporan yang masuk secara online. Bryan kemudian menetap Zoya. Iya heran mengapa Zoya begitu nyenyak tidur. Terbersit ide konyol dalam kepalanya. Sesuatu dari tas ranselnya dan mengeluarkan korek kuping selalu mendekati Zoya. Ia membawa benda tersebut memasuki hidung Zoya dan menggelitik nya. Berhasil membuat saya terbangun dan bersin seketika.


"Bryan Apa yang kau lakukan tanya Zoya sambil menggosok hidungnya yang gatal sedangkan Bryan hanya tertawa. Saya kesal dan mengambil bantal lalu melemparnya.'


"Kamu keterlaluan, kalau aku terkejut dan menghisap benda tersebut."

__ADS_1


"Nggak mungkin aku memegangnya dengan kuat."


"Apanya yang tidak mungkin, semua hal di dunia ini bisa saja menjadi mungkin jika orang tersebut teledor."


"Iya iya maaf, dari tadi aku membangunkanmu tapi kau tidak juga bangun. Jadi aku terpaksa melakukannya dan akhirnya kau bangun.


Zoya melihat sekitar ia mengira bahwa mereka masih di dalam mobil. Bryan yang mengetahui arti tatapan istrinya mencoba menjahilinya, dengan mengatakan jika ban mobil mereka terkena paku dan mereka tidak bisa mengunjungi makam hari ini. Selain itu hari juga sudah menjelang sore.


"Apa yang fikirkan, besok kita bisa ke makam kedua orang tuamu. Bukankah ke makam kedua orang tuamu lebih baik pagi-pagi dari pada sore hari. Kok bisa menghabiskan waktu sepuasnya di sana."

__ADS_1


Mendengar hal itu, Zoya sejenak berfikir jika yang dikatakan Bryan ada benarnya. Untuk itu ia tidak lagi bersedih. Segera lah mandi, aku akan membawamu menikmati hembusan angin di luar penginapan. Kudengar daerah sini menyediakan jajanan yang biasa disantap oleh ibu hamil. Selain itu makanan di sini juga terkenal sangat enak. Apa kau tidak mau mencobanya?


Seketika mata Zoya berbinar terang, dengan semangat, istrinya segera menuju kamar mandi. Sebelum dia benar-benar masuk, sempat menyembulkan kepalanya dan mengatakan jika Brayen harus menunggunya.


"Kau kuberi waktu mandi lima belas menit, tidak boleh lebih dari itu."


"Oke, sku berjanji tidak akan lama."


Sadar atau tidak, hubungan keduanya tidak lagi begitu canggung dan kaku. Kembali pada zaman saat masih berpacaran, di mana Zoya begitu ekspresif. Sedangkan Brian yang cuek dengan lingkungan sekitar. Keduanya tampak seperti pasangan serasi dengan dua tipe kepribadian yang saling bertolak belakang. Namun, hal itu juga yang membuat mereka bertahan lama. Jika mengingat kenangan masa dulu, zoya tidak pernah percaya kalau Bryan hanya mempermainkan nya.

__ADS_1


------


__ADS_2