
Dengan perlahan ia meraih ponselnya dan mengangkatnya.
"Halo, Ma. Ada apa? Bryan sedang sib—"
"Buka pintunya, Mama sama Papa sudah berada di depan apartemenmu."
"Apa! Ma Bryan sedang tidak di apartemen."
"Kalau begitu Mama akan masuk, masih ada kuncinya sama Mama."
"Ma, jangan!" teriak Bryan kalang kabut. Kalau sampai orang tuanya melihat semua itu, ia yakin hidupnya akan segera berakhir.
"Kenapa?" Mama tahu kamu ada di dalam. Ayo segera buka pintunya."
"Sebentar, Ma."
Bryan segera memakai pakaiannya, ia menutupi tubuh setengah telanjang Zoya dengan selimut. Ia keluar dengan langkah gontai dan segera menuju ke arah pintu. Ia membuka pelan dan pura-pura baru bangun tidur. Ia menguap di hadapan ibunya yang berhasil mendapat tatapan tajam. Di belakang sang ibu, terlihat juga wanita yang akan dikenalkan dan sedang tersenyum padanya. Bryan membalasnya balik dan mempersilakan mereka masuk.
__ADS_1
"Ma, kenapa berkunjung larut begini. Bryan sudah tidur sangat lelap."
"Tidak perlu membohongi Mama. Mama tahu kalau kamu belum tidur. Kamu kenapa sih? Apa ada yang sedang kamu sembunyikan dari Mama?" tanya Nori menatap putranya curiga.
"Enggak ada kok, Ma. Memangnya aku pria seperti itu. Mama ada-ada saja." kekeh Bryan yang sangat gugup setengah mati.
"Mama mau lihat kamar kamu," ucap Nori yang bagaikan pengumuman jatuhnya bom atom. Jantung Bryan berdetak sangat kencang dan tidak karuan.
"Ma, jangan, kamar Bry berantakan. Masa Mama mau mempermalukan Bry di depan gadia cantik ini." kekeh Bryan dan berharap ibunya mengurungkan niat.
"Ya su—"
Mendengar hal itu, mata Bryan hampir melompat dari tempatnya. Sedangkan sang ayah menatapnya tajam sejak tadi. Melihat gelagat anehnya membuat sang ibu semakin mencurigainya. Ia yakin ada sesuatu yang disembunyikan putranya. Ia akan mencari tahu sendiri. Ia segera memasuki kamar dan melihat kamar putranya rapi dan tertata dengan baik. Kecurigaannya semakin bertambah kuat.
Mata Nori menuju ke arah ranjang, ia melihat tumpukan selimut dan segera mendekatinya. Melihat hal itu, Bryan segera menghalangi ibunya. Ia membawa ibunya keluar dari sana untuk menunjukkan sesuatu tapi ibunya menolak dengan tegas. Di saat itulah hidup Bryan akan berakhir. Ia bisa melihat tangan ibunya menarik selimut yang menutupi tubuh Zoya yang masih belum sadarkan diri. Dengan pelan, ibunya menyingkap selimut tebal tersebut dan matanya hampir keluar saat melihat sosok telanjang sedang berbaring di sana.
"Bryan!" teriak ibunya menggelengar. Ia segera menutup kembali tubuh tersebut karena jantungnya hampir saja copot. Gadis yang bersama ibunya tampak kaget.
__ADS_1
"Mama, Bryan bisa jelaskan semuanya."
"Apa? Hah? Menjelaskan apa lagi! Kamu masih berhubungan dengan wanita itu! Kamu ...." ibunya segera jatuh terduduk, untungnya sang ayah segera menangkap tubuh istrinya.
"Mama, sudah Bryan bilang, semua tidak seperti itu. Jangan salah paham."
"Apanya yang salah paham! Mama melihat wanita itu tidak mengenakan apa pun dan kamu, Mama tidak habis pikir dengan kelakuanmu Bryan. Jadi ini alasan kamu pulang dengan terburu-buru?"
Nori segera berjalan mendekati tubuh Zoya yang masih tidur dengan anteng. Dengan kasar ia menutupi dada Zoya dan membangunkannya dengan kasar.
"Bangun!" teriaknya.
"Mama, Zoya tidak akan bangun."
"Kenapa? Apa dia malu? Atau sedang berpura-pura! Kenapa?" tanya Nori marah besar.
"Karena Zoya ....."
__ADS_1
----