Belenggu Dalam Cinta

Belenggu Dalam Cinta
Bab 49 Kasih Sayang


__ADS_3

"Bagaimana? Apa masih sakit?" tanya Bryan lembut.


"Mau makan es krim." isaknya sambil menutup mata karena malu. Ia sangat malu karena menangis di hadapan mertuanya. Melihat tingkah laku Zoya berhasil meredam amarah Nori yang sejak tadi mendominasinya. Ia tertawa dan menyuruh pembantunya mengambil es krim dalam kulkas.


"Mbok, ambilkan es krim ya dan bawa ke ruang tamu!"


"Baik, Nyonya."


"Ino es krimnya, silakan di nikmati tuan putri." goda Bryan.


"Apa mau Mama suapi?" tanya Nori lembut seketika Zoya menganguk antusias dan Nori tahu jika menantunya sedang mengidam.


"Mama juga dulu suka manja sama Papa saat mengandung Bryan. Minta ini itu sampai pernah sekali, Papa sampai keliling kota hanya untuk mencari salak pondok seperti keinginan Mama. Mana dulu nggak musim salaknya." kekehnya saat ia bernostalgia.


Lalu Deni datang dan membenarkan ucapan istrinya. Ia sampai menceritakan saat ia istrinya pernah mengidam ingin ditilang. Alhasil, Deni harus melanggar lalu lintas sampai polisi menilang mereka.


"Terus, Pa. Apa masalah selesai?" tanya Bryan antusias. Karena ia baru mendengarnya kali ini.

__ADS_1


"Apanya yang selesai. Ternyata Mama kamu minta ditilang supaya bertemu dengan polisi ganteng."


Zoya tidak bisa menahan tawanya dan lepas begitu saja. Kisah percintaan kedua mertuanya begitu romantis dan ia mengingat masa lalu saat ia masih kecil. Kedua orang tuanya begitu bahagia, mengantarnya sekolah dan selalu menjemputnya meski pada saat itu mereka hanya jalan kaki. Zoya tersenyum dan tanpa sadar air mata mengalir deras dari pipinya sampai membuat Nori dan Bryan kelabakan.


"Sayang, apa Mama salah bicara?" tanya Nori cemas.


Zoya menggeleng dan memegang dadanya sambil menutup mata. Zoya mulai bersenandung sebuah lagu yang selalu mengingatkannya kepada kedua orang tuanya. Ia membawakannya dengan oenuh penghayatan sampai Nori tanpa sadar meneteskan air mata mendnegar suara dan penghayatan yang dibawakan oleh Zoya.


Nori segera memeluk tubuh Zoya penuh sayang. "Mulai sekarang, Mama adalah Mama kamu juga, apa pun yang kamu mau jangan pernah sungkan memintanya kepada Mama, Mama pasti akan memberikannya."


Zoya sangat senang dan menumpahkan tangisnya sampai membuat Bryan terenyuh dalam situasi yang mengharu biru.


"Sama-sama Sayang." Nori mengelus pundaknya lembut.


"Kamu juga memiliki Nenek yang selalu menyayangimu."


"Nenek," ucap Zoya dan merungkai pelukannya dengan sang meetua. Kini ia beralih kepada neneknya.

__ADS_1


"Zoya juga sangat menyayangi Nenek."


"Sekarang apa?" tanya ayah meetuanya memecah suasana.


"Oh iya, kita kan mau menemui ibu-ibu yang kemarin menolong Zoya. Pa."


"Ah, iya. Hampir saja lupa, kalau begitu biar Papa sama kamu aja yang ke sana. Istri kamu butuh istirahat, emosinya belum stabil."


"Oke, Pa."


Untuk pertama kalinya Nori melihat suami dan putranya begitu akur. Dulu mereka selalu seperti air dan minyak karena Bryan merasa ayahnya terlalu otoriter dan mau menang sendiri tanpa mau mendengar pendapat orang lain.


"Sayang, beekat kamu, Papa sama suami kamu bisa akur seperti ini."


"Iya, Nenek ingat, dulu suamimu pertah bertengkar dengan Papanya sampai tidak mau pulang. Itulah asal usul ada apartemen Nak." kekeh neneknya dan dibenarkan juga oleh ibunya.


"Benar itu, sampai tidak mau datang satu tahun, sampai Mama sakit, baru ego keduanya luntur. Tapi itu juga tidak akur, mereka tetap saja bertengkar."

__ADS_1


----


Gais terima kasih karena kalian masih mendukungku yang suka mageran. Kesepannya aku akan terus berusaha menghilangkan kemageran ini. Tengkyuuu


__ADS_2