Belenggu Dalam Cinta

Belenggu Dalam Cinta
Bab 55 Kisah Mereka


__ADS_3

"Saya nggak sekolah lagi, Kak. Karena nggak ada biaya. Jadi saya bantu Bapak jualan."


"Putus sekolahnya kelas berapa?"


"Kelas 1 SMA, kak."


Mendengar hal itu, sudut hati Bryan beeteriak miris. Di saat banyak anak orang kaya yang tidak begitu peduli dengan sekolah sesuka hati, anak yang miskin sangat ingin mendapatkan ilmu di sekolah. Bryan menatap Zoya yang terlihat begitu menikmati setiap gigitan yang dari mangga tersebut.


"Rian cita-citanya apa?" tanya Bryan kembali.


"Jadi dokter, Kak."


Jawaban yang begitu polos keluar dari bibir Rian. Bryan menatap wajah ibu Ryan yang ebgutu teduh dan tersenyum tulus. Kasih sayang yang dia berikan kepada kedua anaknya sungguh begitu luar biasa. Mereka yang hidup dalam kekurangan tapi begitu menikmati setiap detik-detik kebersamaan dengan keluarga. Sampai kata tidak bahagia enggan singgah kepada mereka.


"Wah, cita-cita Rian keren sekali." tutur Zoya takjub.


"Terima kasih, Kak."

__ADS_1


"Rian, ambil buah mangga yang matengnya taruh ke sini ya. Nanti biar dibawa pulang sama Kakaknya." perintah ibu Rian dan anak lelaki itu segera memetik kembali buah mangga yang mateng. Bryan sudah mengatakan cukup tapi si ibu mengharuskan mereka membawanya.


Rian turun sembari membawa satu kantung plastik hitam besar mangga yang sudah matang dan meletakkannya di depan Zoya.


"Banyak sekali buahnya," ucap Zoya semangat dengan wajah berbinar senang.


Bryan kini mengalihkan tatapannya kepada kedua orang tua Rian. Ia ingin mengetahui apa mereka memiliki keterampilan khusus atau tidak.


"Bu, keterampilan ibu dalam bidang apa?" tanya Bryan serius.


"Ibu jago banget memasak, makanannya kalah sama chef di restoran Kak. Iya kan Ayah."


"Kalau Bapak apa?" tanya Bryan lagi.


"Kalau Ayah jago banget memperbaiki barang-barang yang rusak, Kak. Segala kerusakan bisa dibenerin sama Ayah. Kalau kata tetangga di sini, hasil tangan ayah ajaib. Terus ayah juga bisa memodifikasi mesin atau kenderaan. Ayah dulu pernah bekerja sebagai montir, tapi dipecat Kak." cerita Rian dengan sedih.


Tapi Rian dengan bangga memperkenalkan keahlian dari kedua orang tuanya masing-masing. Bryan tersenyum mendengarnya. Ia bisa memberikan sesuatu yang akan sangat begitu berharga untuk keluarga kecil ini sekadar dari uang semata yang bisa habis kapan saja jika tidak digunakan dengan benar.

__ADS_1


"Pak, bagaimana kalau Bapak bekerja di bengkel teman saya. Kebetulan dia sedang membutuhkan seorang montir handal."


"Tapi, Kak. Bapak pernah difitnah sama rekan kerjanya." tutur Rian sedih.


"Kalau mengenai hal itu, Rian tidak perlu khawatir, di sana semua pegawai bekerja dengan suportif karena masing-masing dari mereka akan mendapat jatah pekerjaan secara adil."


"Wah kalau begitu saya mau, Mas. Saya juga sangat merindukan dunia mesin." kekehnya.


Ibu Rian tampak begitu berterima kasih dan hampir menangis karena kebaikan hati Bryan memberi suaminya pekerjaan. Ia sampai hampir bersujud tapi Zoya segera menahan dan memeluknya.


"Terima kasih," ucapnya terisak.


"Saya juga sangat berterima kasih kepada Bapak dan Ibu karena sudah memberikan buah kepada istri saya yang sedang mengidam ini."


Mereka berlima tertawa mendengarnya. Lalu kini Bryan beralih kepada Ibu Rian. "Bu, di rumah sakit tempat saya bekerja sedang dibutuhkan seorang chef. Apa ibu bersedia?"


-----

__ADS_1


Gais maaf karena aku lama nggak update ya, mianhe sayangkuhhhhh aku sibuk belakangan ini


__ADS_2