Belenggu Dalam Cinta

Belenggu Dalam Cinta
Bab 37 Kehamilan yang Rentan


__ADS_3

"Alah palingan juga cuma bohongan."


"Lekka, lebih baik kamu keluar kalau hanya memperburuk kondisinya. Keluar!" hardik neneknya kesal. Ia juga segera mendekati Zoya dan dari luar Bryan masuk bersama dengan dokter kandungan.


"Permisi, Bu. Biar saya periksa dulu."


Setelah diperiksa ia menghela napas, "Bukankah sudah saya bilang, jangan sampai si ibu stres apalagi sampai tertekan, kondisinya akan jauh lebih buruk." terangnya.


"Baik, Dok."


"Kandungannya masih lemah dan rentan. Saat ini si ibu sedang stres dan tertekan. Kalau bisa dia harus dibawa jalan-jalan pagi atau sore. Selain itu jangan membuatnya tertekan atau hal yang lebih buruk bisa terjadi." Peringat sang dokter, setelah selesai ia segera pamit.


Zoya terlihat sudah lebih tenang setelah diberi obat oleh dokter tersebut. Ia juga sudah tidur karena rasa sakit yang sejak tadi menderanya begitu menyiksa.


"Bryan, maafkan Mama, seharusnya Mama tidak berlaku egois pada istrimu. Bagaimana pun dia sedang mengandung ahli waris di keluarga ini."


"Udah, Ma. Emang Zoya sedang stres aja."

__ADS_1


"Kamu jaga Zoya baik-baik. Mama mau ke kamar dulu. Kalian juga kayaknya mau istirahat."


Bryan menganguk dan menutup pintu kamarnya. Ia segera berbaring disamping Zoya dan memperhatikan wajah istrinya dengan lekat. Wajah yang dulu selalu membuatnya damai, tenang dan merasa menjadi laki-laki yang beruntung karena bisa memilikinya. Meskipun ia tidak begitu mencintai Zoya. Ia membelai wajah istrinya dan menatapnya lama dan mengecup pelan.


"Maaf, aku terlalu keras padamu." bisiknya.


Zoya mendengarnya dan tersenyum. Ia berharap suaminya bisa memperlakukannya dengan baik kedepannya. Tapi lagi-lagi ia tidak mau terlalu berharap.


Esoknya, Zoya melihat ada sesuatu yang berubah dari penghuni rumah. Termasuk mertuanya yang bersikap manis padanya. Ia disambut hangat kecuali Lekka, gadis yang membuat Zoya risih karena terlalu memcampuri urusan rumah tangganya dan suka bersilat lidah.


"Menantu Mama sudah bangun, Mama udah buatin kamu bubur yang bagus buat ibu hamil."


"Sayang, susunya."


"Terima kasih," ucap Zoya meskioun ia bingung apa yang sudah terjadi pada orang yang ada di sana.


"Mau makan apa lagi? Biar Mama buatkan."

__ADS_1


"Ini aja sudah cukup, Ma, terima kasih." tutur Zoya sopan dan tersenyum senang.


Ia bisa melihat wajah mertuanya tampak berbinar senang saat melayaninya. Tapi hal itu membjat Zoya tidak enak hati, tapi jika ia mengatakan isi hatinya, pasti mertuanya akan tersinggung dan merasa ia tidak suka dengan mertuanya. Zoya sangat dilema, ia harus memikirkan hati mertuanya.


"Mau lagi?" tanya mertuanya lembut.


"Ma, Zoya sudah kenyang."


"Tante lebay deh, dia sudah besar tapi masih dilayani seperti anak kecil." decihnya sinis dan menatap Zoya tajam.


"Lekka, kamu diam! Kalau kamu nggak suka, jangan dilihat!" tegur Neneknya yang tidak suka dengan tabiat cucunya satu ini.


Lekka mendengkus kesal dan segera pergi dari sana dengan perasaan marah. Ia bersumpah akan membuat Zoya ditendang dari rumah ini dan dari keluarga besar Bryan. Ia memulai perang dengan Zoya sejak saat itu.


"Ma, Bryan berangkat kerja dulu." pamitnya dan Zoya yang melihat hal tersebut mendadak gembira.


"Aku boleh ikut?" tanyanya antusias, ia sudah sangat merindukan pekerjaannya dulu dan Nori melihatnya. Ia memberi isyarat pada putranya dan Bryan segera menganguk.

__ADS_1


------


__ADS_2