
"### Karena aku adalah kekasihmu dulu."
Bryan seperti menyadari sesuatu yang sejak lama terkubur oleh sebuah dendam tanpa alasan yang jelas. Ia ingat siapa wanita yang bersamanya membangun kembali hidup saat pernah runtuh pasca ditinggal pergi tanpa alasan oleh Donita. Zoya sosok kekasih yang akan selalu menghibur Bryan dikala ia pusing dan tidak tahu harus melakukan apa. Dia juga selalu menyuapinya makan kala tangannya tidak sempat menyentuh sesendok nasi pun.
Bryan mengalihkan tatapannya pada Zoya yang ternyata sudah tidur pulas. Ia baru menyadari jika semua yang dia lakukan kepada Zoya hanya semata-mata karena rasa kecewanya pada Donita. Mereka kembali dipertemukan setelah sekian lama dengan kondisi yang berbeda. Bryan kini menyadari jika semua yang dia perbuat pada Zoya adalah sebuah kesalahan. Nyatanya istrinya tidak pernah bersalah sama sekali, tapi dia melampiaskan rasa kecewa dan sakitnya pada Zoya. Istrinya sampai harus menanggung semua kekesalannya sampai karirnya hancur di usia muda.
"Sayang, maafkan aku ya. Aku sungguh menyesal karena pernah melakukan hal jahat kepadamu." bisiknya merasa bersalah.
Ia mendengar ponselnya berbunyi dan segera mengangkatnya.
"Iya, Ma. ada apa?" tanyanya.
"Mana Zoya, kenapa kalian belum kembali. Mama sangat cemas, apa menantu Mama baik-baik saja?" tanyanya.
"Mama, Zoya sedang tidur karena kelelahan."
__ADS_1
"Memangnya kamu habis apain menantu Mama. Jangan aneh-aneh kamu ya!" tegur ibunya.
"Ya ampun, Ma. Pikirannya jangan negatif juga dong. Menantu kesayangan Mama tadi minta makan mangga. Kami mencarinya keliling sampai masuk sebuah konfleks perumahan." ceritanya.
"Apa mangganya ada? Menantu Mama makan mangga kan? Awas ya kamu kalau sampai mengabaikan permintaan menantu kesayangan Mama."
Bryan tertawa mendengarnya. Sejak kapan dia abai dengan permintaan istrinya. Apa pun selalu dia berikan tanpa terkecuali, asal jangan ngidam nyawanya saja. Membayangkan wajah Mamanya yang begitu cemas, membuat sisi jahil Bryan muncul dan mengatakan jika mangganya tidak ada.
"Kalau kamu nggak bawa mangganya, Mama pastikan akan menendang kamu nanti!" ancsm sang ibu.
"Oke, Mama akan segera memasak untuknya."
Panggilan pun segera dimatikan sepihak oleh sang ibu. Bryan menggeleng heran dengan tingkah polah wanita. Apa memang suka labil seperti itu. Dulu ibunya tidak begitu menyukai kehadiran Zoya di rumah. Lalu apa yang membuatnya memutuskan menerimanya sampai melabelkan panggilan sebagai menantu kesayangan.
Tanpa sadar, mobilnya sudah memasuki pekarangan rumah dan mereka pun sudah sampai. Gerbang terbuka secara otomatis. Nori menunggu kedatangan mereka berdua di ruang tamu.
__ADS_1
"Dia setiap bepergian selalu anteng tidur di mobil." kekehnya.
Bryan seger memanggil salah satu asistennya dan menyuruhnya membawa mangga yang dibawa. Sedangkan ia menggendong tubuh Zoya dan membawanya ke kamar.
"Mama, Zoya tidur, jangan berisik." peringat Bryan saat ibunya mau menyambut dengan meriah.
"Ya sudah, kamu bawa dia ke kamar. Terus itu apa?" tanya Nori pada plastik hitam yang dibawa oleh asisten rumah tangganya.
"Sepertinya Mangga, Nyonya."
"Astaga, padahal tadi sudah diberi tahu, Baiklah, kau boleh kembali." Nori mengambil plastik tersebut dan meletakkannya di meja.
Bryan kembali ke ruang tamu dan duduk bersama dengan sang ibu yang masih memandangi plastik yang masih tergeletak di meja.
-----
__ADS_1