
"Papa kenapa main gadget mulu, nggak bosan? Atau jangan-jangan Papa selingkuh ya?" tanya Nori penuh selidik.
"Sembarangan, Papa lagi bekerja, lagi pula memangnya siapa yang mau sama Papa yang sudah tua bangka ini?"
"Papa masih ganteng tahu," ucap Nori.
"Makasih, Ma."
"Buat apa Pa?"
"Karena sudah bilang Papa ganteng. Jadi Papa bisa selingkuh." selorohnya membuat Nori melototkan mata garang.
"Awas aja kalau Papa berani macam-macam, Mama akan ngasih pelajaran buat Papa dan selingkuhannya. Lihat aja nanti." ancam Nori berhasil membuat Deni takut dan segera memeluk istrinya.
"Makanya jangan pernah menuduh Papa yang tidak-tidak ya Ma, perkataan adalah doa."
Nori memeluk suaminya dan meminta maaf karena sudah menjadikan topik selingkuh sebagai bahan candaan.
"Oh iya, Pa. Mama kemana ya?" tanya Nori.
"Mama tadi dijemput sama cucunya, katanya besok mau diajak piknik di pantai. Mama kan sudah lama pengen ke pantai, tapi kita tidak pernah bisa mengantar Mama."
__ADS_1
"Pantas saja tidak terlihat sejak tadi, Pa."
Nori merungkai pelukannya. "Apa sudah selesai bekerja, kalau sudah biar makan malam."
"Sudah, Ma. Oh ya, gimana kondisi Zoya?"
"Tadi Mama udah ngantar makanannya ke kamar. Kasihan juga kalau dia harus naik turun tangga di saat seperti ini."
Deni menganguk dan segera pergi bersama istrinya menuju ruang makan. Jam sudah menunjukkan pukul setengah delapan. Jam yang biasa mereka gunakan untuk makan malam.
"Jadi yang makan malam cuma kita berdua ya, Pa." keluh Nori.
"Mbak, ayo sekalian makan, temani Nyonya."
"Maaf, Tuan. Saya tidak bisa makan satu meja dengan Tuan dan Nyonya. Maafkan saya."
"Coba kalau ada Mama di sini, pasti tidak akan sepi, Zoya juga." keluhnya.
"Mama, Zoya kan cuma makan di kamar, apa Mama mau kita makan ke sana juga?"
"Papa, jangan ganggu mereka dong. Iya, Mama makan sekarang. Mbak juga nggak mau makan bareng."
__ADS_1
"Dia segan, Ma. Biarkan saja, jangan membuatnya tidak nyaman."
"Baiklah, maafkan Mama. Makan berdua sama Papa, jadi mengingatkan Mama saat kita masih pacaran dulu." kekehnya.
Di kamar, Bryan dengan setia menyuapi Zoya makan. Membantunya berbaring dan mengganti pakaiannya dengan baju yang lebih santai. Ia dengan telaten menjaga dan merawat Zoya, tidak sekali pun ia biarkan sang
istri merasa lelah dan tidak nyaman. Zoya merasa bersalah kepada suaminya karena tadi menjahilinya. Padahal Bryan begitu ingin melakukannya, ia menatap sendu wajah suaminya.
"Mas, ayo tidur di sini." ajaknya.
"Sebentar sayang, Mas antar piringnya dulu ya."
Zoya menganguk dan menunggu Bryan dengan jantung berdebar kencang. Bahkan kepergiannya yang baru lima menit, rasanya sudah selama satu jam. Zoya terus melihat jam di dinding dengan gelisah.
"Dia kemana sih? Kenapa ngantar piringnya lama sekali." desahnya sedikit kesal.
Zoya hendak bangun, tapi perutnya masih sedikit nyeri. Akhirnya ia pun memutuskan tetap berada di sana menunggu Bryan dengan sabar. Tapi waktu sudah berlalu sepuluh menit. Zoya jadi merasa jika suaminya sedang melancarkan aksi balas dendam kepadanya. Tapi jika dipikir, mana mungkin sang suami melakukan hal tersebut padanya.
"Ah, mungkin hanya pikiran negatifku aja."
Zoya kembali melihat jam yang sudah menunjukkan pukul delapan malam. Sudah setengah jam lamanya dan sang suami masih tidak diketahui di mana keberadaannya. Zoya mendengkus kesal dan memilih memejamkan mata.
__ADS_1