
Di kamar, Bryan keluar dari kamar mandi dan kaget karena tidak mendapati istrinya di sana. "Kemana dia?"
Bryan segera keluar dari kamar dan melihat pintu halaman belakang terbuka. Ia menyusuri tempat tersebut dan benar saja, ia melihat Zoya di sana. Bryan hendak memanggilnya. Namun, segera ia urungkan saat melihat bahu istrinya terlihat bergetar.
"Apa dia mendengarnya?" tanya Bryan bertanya-tanya. Ia perlahan mendekat tanpa berniat memberitahu kehadirannya.
"Anak Mama pasti bisa tumbuh kuat seperti Mama kan? Mama harap kamu lahir tidak menjadi sosok yang lemah, selama ini Mama hanya hidup karena belas kasihan orang lain Nak. Mama berharap kamu tidak akan pernah merasakannya. Cukup Mama saja yang menanggung semuanya. Demi kamu, Mama rela kalau harus mengorbankan segalanya termasuk menghilang dari hidup kalian. Nanti mungkin Papa dan kamu akan mendapatkan sosok yang jauh lebih baik dari Mama."
Zoya mengusap air matanya tanpa menyadari Bryan yang berdiri kaku di belakangnya. Bryan tampak terluka mendengar luahan hati istrinya. Bryan perlahan menjauh dari sana dan kembali ke kamar.
"Ah, maafin Mama ya. Malah curhat sama kamu." kekehnya dan segera beranjak pergi dari sana.
Di kamar, Bryan terus memutar kenangan buruk yang sudah ia berikan kepada Zoya. Istrinya sendiri. Wanita yang sejak lama sudah menjadi tunangannya. Namun, ia malah terlena dengan wanita dari masa lalunya, mengabaikan rasa cinta dan menghukum istrinya tanpa sebab yang jelas.
__ADS_1
"Apa yang sudah aku lakukan kepada istriku sendiri, apa aku benar-benar seorang pria?" tanyanya.
Rasa takut akan kehilangan sosok wanita yang sudah menemani sejak zaman mereka masih pacaran. Tapi ia dengan mudah mencampakkan kekasihnya hanya untuk wanita dari masa lalunya. Menghancurkan nama baik dan karir serta perusahaan ayah Zoya. Mengusirnya dari rumah penuh kenangan, menyeretnya dalam pernikahan penuh derita.
Bryan termenung di dalam kamar. Zoya sendiri masuk dan menyapa suaminya yang masih terlihat melamun.
"Mas," sapa Zoya menyentuh bahu suaminya sambil tersenyum.
"Sayang, kamu dari mana aja?" tanyanya dan terpaku pada senyuman itu. Senyum yang menyimpan berjuta luka tapi selalu ditutupi.
Bryan memeluk tubuh Zoya dan mencium perut istri dan mengusapnya. Zoya sontak saja bingung, apalagi bahu Bryan tampak bergetar. Suaminya menangis dan hal itu membuat Zoya merasa terenyuh. Ia pernah melihat suaminya menangis dan itu saat Donita dinyatakan meninggal.
"Mas," ucapnya.
__ADS_1
"Sayang, Mas minta maaf ya. Selama ini sudah membuat kamu dan keluargamu menderita. Maafkan aku ya sayang."
Tangis Bryan pecah dan menangisi semua kesalahan yang pernah ia lakukan. Bryan tidak pernah menyangka hanya karena seorang wanita dari masa lalu mampu membuatnya menjadi pria brengsek.
"Mas, jangan seperti ini."
"Tidak sayang, Mas benar-benar minta maaf karena sudah membuatmu menderita."
"Mas."
"Sayang, kamu mau kan maafin Mas?" tanya Bryan dengan wajah yang penuh dengan sesal.
Zoya menganguk dan ikut menangis. Ia bahagia karena Bryan sudah meminta maaf kepadanya. Zoya sangat bahagia. "Mas, aku sudah lama memaafkan semuanya. Aku juga sudah melupakan apa yang pernah terjadi dulu. Semua kulakukan karena aku sangat mencintaimu. Yang lalu biarlah berlalu Mas, sekarang kita harus melangkah menuju masa depan bersama anak-anak kita nantinya."
__ADS_1
"Sayang, terima kasih banyak. Aku adalah pria paling beruntung yang pernah memilikimu. Terima kasih sayang."
-----