Belenggu Dalam Cinta

Belenggu Dalam Cinta
Bab 56 Mulai Menyadari


__ADS_3

Tentu saja mendengar hal itu Rian ikut menangis dan berterima kasih. Ibunya menganguk cepat dan kembali berterima kasih. Seumur hidup mereka belum pernah bertemu dengan seseorang yang begitu dermawan hanya karena mereka memberinya buah mangga yang tidak seberapa.


"Rian cita-citanya masuk sekolah mana?" tanya Bryan.


"SMA Islam Sabilillah Boarding School, Kak."


"Mau masuk ke sana nggak?" tsnys Bryan sontak membuat Rian menunduk sedih. Ia sangat mau tapi orang tuanya jelas tidak akan bisa. Sekolah biasa saja ia tidak mampu.


"Tenang saja, kakak yang akan menbayar semuanya biaya sekolahmu sampai kamu lulus. Kalau kamu bisa lulus dengan nilai terbaik, Kakak akan menjamin kamu kuliah sampai menjadi dokter."


Jelas saja Rian menangis dan memeluk Bryan sangat erat. Ia tidak tahu Tuhan sedang mempertemukannya dengan malaikat penolong yang begitu baik kepada keluarganya. Ia berjanji tidak akan pernah mengecewakan apa yang sudah diberi oleh Bryan kepadanya.


"Saya berjanji kepada Kak Bryan. Saya akan sekolah dengan sungguh-sungguh."

__ADS_1


Setelah bercerita panjang lebar, ternyata diketahui jika Rian salah satu siswa berprestasi di sekolahnya. Tapi harus putus karena sekolah beasiswanya hanya ditanggung setengah oleh pihak sekolahnya. Bryan terkejut mendengarnya. Ia pun menyudahi pembahasan mereka dan izin.


"Bu, kalau begitu saya dan Zoya pulang dulu."


"Terima kasih, banyak kak." seru Rian bahagia.


Mereka pun segera beranjak dari sana. Hari ini Zoya sangat bahagia karena bertemu dengan sebuah keluarga yang begitu harmonis meski ekonominya di bawah rata-rata. Tapi mereka tahu caranya menikmati hidup. Zoya teringat dengan keluarganya yang juga begitu harmonis sebelum peristiwa naas itu terjadi menimpanya.


"Zoya, kau kenapa diam aja dari tadi?" tanya Bryan yang memperhatikan Zoya sejak tadi ia mulai menjalankan mobilnya.


"Iya, kita akan bantu dia sama-sama, ya."


Zoya menganguk antusias mendengarnya. Siapa yang tidak bahagia jika ada seorang anak yang sudah membantunya bisa mendapat balasan yang setimpal. Meski mereka membantu tanpa pamrih, bukan berarti yang ditolong tidak memberikan apa pun kepada mereka. Kebaikan sekecil apa pun pantas mendapatkan imbalas yang besar.

__ADS_1


"Makasih ya Bry, aku sempat berpikir kalau kamu tidak memiliki hati dan belas kasih. Kupikir keluargamu hanya mementingkan sebuah harta. Tapi ternyata aku salah, setelah mengenal keluargamu lebih jauh, kalian tidak seperti yang kami pikirkan selama ini."


"Hubunganku dengan Papa memang kurang baik karena beliau menentang hubunganku dengan Donita. Alasan Donita pergi meninggalkanku dulu karena Papa. Itulah kenapa aku sangat membencinya."


"Lalu kenapa kamu menjadikanku kekasihmu saat itu?" tanya Zoya penasaran.


"Entahlah, aku tidak tahu kenapa aku memilihmu saat itu. Tapi aku merasa nyaman saja bersamamu. Kau wanita yang tidak banyak menuntut dan juga begitu snatai. Tidak cemburuan dan selalu mengerti jika aku sedang sibuk. Kau juga sering mengantarkan makanan kalau aku tidak sempat makan. Sampai menyuapiku ...." seketika Bryan menghentikan kalimatnya saat menyadari sesuatu.


"Kenapa?" tanya Zoya sambil menguap.


"Kenapa kau selalu ada untukku?" tanya Bryan penasaran.


"Karena aku adalah kekasihmu dulu."

__ADS_1


Bryan seperti menyadari sesuatu yang sejak lama terkubur oleh sebuah dendam tanpa alasan yang jelas. Ia ingat siapa wanita yang bersamanya membangun kembali hidup saat pernah runtuh pasca ditinggal pergi tanpa alasan oleh Donita. Zoya sosok kekasih yang akan selalu menghibur Bryan dikala ia pusing dan tidak tahu harus melakukan apa. Dia juga selalu menyuapinya makan kala tangannya tidak sempat menyentuh sesendok nasi pun.


-----


__ADS_2