Belenggu Dalam Cinta

Belenggu Dalam Cinta
Bab 28 Permohonan Tulus


__ADS_3

"Kandungannya sangat rentan, dia tidak boleh tertekan atau merasa sedih, jika kembali terulang kandungannya akan terancam keguguran." terang dokter tersebut.


Semua yang mendengar tampak terdiam, tidak terkecuali Nori yang menatap Zoya dengan tatapan lain. Ia segera pergi dari sana dan disusul oleh suaminya. Mereka yang berada di sana kembali ke kamar mereka masing-masing. Di kamar Nori, ia merenungkan semuanya, ia bisa membenci Zoya, tapi ia tidak bisa membenci calon cucunya yang sudah sejak lama ia nantikan.


"Kita memang tidak pernah menginginkan wanita itu sebagai menantu kita. Namun, bayi yang dia kandung calon cucu kita." terang suaminya dan Nori menganguk.


Sebenarnya pria itu tidak begitu membenci Zoya. Ia hanya lebih menyukai sesuatu yang menurutnya menguntungkan. Sedangkan di ruang lainnya, wanita yang diketahui sebagai sepupu Bryan tidak menyukai kehadirannya di sana. Sejak lama ia sudah menyukai Bryan, tetapi pria itu hanya menganggapnya sebagai sepupu, tidak lebih.


"Apa masih sakit?" tanya Bryan.


Ia sedikit terkejut saat mengetahui jika ternyata Zoya sedang hamil. Dia yang awalnya hanya ingin mengelabui orang tuanya malah diberi kejutan sungguhan. Ada sesuatu yang ia rasakan saat mengetahui kehamilan Zoya. Perasaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.


"Tidak lagi, maaf aku tidak tahu kalau sedang hamil."

__ADS_1


"Sudahlah, yang penting kandunganmu tidak bermasalah."


Zoya yang mendengar nada Bryan tidak sedang marah pun dibuat senang. Ia segera bangun, tapi ditahan oleh suaminya.


"Biar aku yang tidur di sofa, kau tidur di sini saja."


"Tidak apa-apa, kamu tidak biasa tidur di sofa, nanti badanmu bisa sakit. Kalau aku tidur di gorong-gorong juga bisa." kekeh Zoya tiba-tiba teringat saat ia ditendang keluar dati rumah yang sudah dijual oleh Bryan pada seseorang.


Saat tengah malam, Bryan tidak bisa tidur karena khawatir dengan Zoya. Ia tskut istrinya jatuh dari sofa dan melukai bayinya. Ia pun memutuskan mendekati sofa dan memandangi wajah Zoya yang sangat tenang. Namun, perlahan air mata membasahi mata Zoya di sela tidur lelapnya. Melihat hal tersebut, Bryan mengernyit bingung dan terus memperhatikannya.


"Mama, aku juga ingin pergi," ucapnya tanpa sadar.


Mendengar itu, Bryan merasa ada sesuatu yang menyakitkan di hatinya. Ia segera memindahkan tubuh Zoya ke ranjangnya. Ia membelai wajah lembut Zoya dan menghapus air matanya. Ingauan Zoya membuat Bryan terenyuh dan merasa sudah begitu jahat selama ini.

__ADS_1


"Kenapa kau ingin pergi?" tanya Bryan sambil menatap istrinya sendu. Ia tidak tahu apa yang sedang ia pikirkan. Tapi saat Zoya mengatakan kalimat tersebut, itu sangat menganggunya.


"Mama, bawa Zoya pergi, Mama jangan tinggalkan Zoya!" teriaknya membuat Bryan membangunkan Zoya yang menangis, pria itu segera memeluk tubuh istrinya.


"Ssttt, aku ada di sini," ucap Bryan menenangkan Zoya yang masih menangis.


Tangis yang untuk pertama kalinya membuat hati Bryan terenyuh mendengarnya. Zoya menatap wajah Bryan dengan mata sembabnya.


"Aku mohon Bryan, tunjukkan di mana makan kedua orang tuaku. Aku berjanji padamu, ini akan menjadi permintaan pertama dan terakhirku."


-----


Kasihan banget ya Zoyaaaa

__ADS_1


__ADS_2