Belenggu Dalam Cinta

Belenggu Dalam Cinta
Bab 43 Suami Protektif


__ADS_3

Mereka yang hadir di sana melihat Bryan yang menggendong Zoya menuju salah satu toilet setelah bertanya kepada salah satu pelayan.


Bahkan sang pelayan pun dibuat terkejut, mereka bersua sudah seperti mengikuti lomba menggendong pasangan dan garis finishnya adalah toilet.


"Apa aku perlu masuk ke dalam?" tanya Bryan asal dan mendapat jeweran dari Zoya.


"Hanya bercanda, kau galak sekali."


Zoya pun segera menuju toilet dan menuntaskan panggilan alam yang sudah menganggunya semenjak tadi. Setelah selesai ia keluar dari sana dengan tatapan lega. Tapi ia mengatakan jika sangat malu kepada pelanggan yang berada di depan. Ia tidak berani menuju ke sana. Mendengar itu sontak Bryan tertawa.


"Abaikan saja, mereka juga akan lupa toh mereka tidak mengenal kita."


"Apa kamu yakin? Bagaimana kalau mereka mengenaliku?" tanya Zoya sedih.


"Kau bisa bersembunyi di bawah ketiakku, ayo!" ajaknya.


Bryan dan Zoya yang tadi membuat satu restoran heboh kini menjadi pusat perhatian sampai viral di media sosial. Bryan segera memanggil seorang pelayan dan menyerahkan sejumlah uang karena dia mereka sudsh mengizinkan sang istri menggunakan toilet di sana dalam keadaan genting.

__ADS_1


"Ambil ini dan terima kasih," ucap Bryan.


"Pak, tapi Bapak tidak memesan makanan. Lalu uang ini untuk apa?" tanyanya.


"Anggap saja sebagai rasa terima kasih saya karena kamu mengizinkan istri saya memakai toilet."


"Kalau begitu terima kasih, Pak. Permisi."


Bryan bersama Zoya segera keluar dari sana dan segera pulang. Nori sejak tadi sudah menelponnya karena mengkhawatirkan kodisi Zoya. Apalagi mereka mendadak viral, Nori hampir saja jantungan karena dia pikir Zoya dilarikan ke rumah sakit.


"Iya, Ma. Ini Zoya lagi sama Bryan, kita pulang sekarang. Iya iya."


"Nanti aja ceritanya di rumah, supaya kau bercerita cukup sekali. Mama pasti tidak akan mau mendengarnya dariku."


"Ah, baiklah."


Mereka pun tampak diam sepanjang perjalanan sampai mobil Bryan terparkir di depan gerbang rumah mewah kediaman keluarganya. Gerbang tersebut terbuka secara otomatis. Bryan membawa mobilnya masuk lalu keluar bersama Zoya. Nori mendengar deru mobil pun menuju ke depan dan membuka pintu. Ia sangat mencemaskan Zoya sampai tidak bisa tidur, begitu juga dengan sang nenek yang tampak senang melihat Zoya kembali dengan selamat tanpa kurang satu pun.

__ADS_1


"Sayang, kemana aja kamu semalaman, tahu nggak, Mama sama Nenek khawatir banget sama kamu."


Nori membawa Zoya menuju ruang tamu sambil mengajukan pertanyaan beruntun. Bryan segera menghentikan aksi ibunya sebelum Zoya pusing.


"Ma, bertanyalah sedikit demi sedikit, jangan memberondongi Zoya dengan pertanyaan semacam itu."


"Ah, iya Mama lupa. Habisnya Mama senang banget pas Zoya pulang, Mama sangat khawatir."


"Mama, maaf ya sudah membuat kalian semuanya khawatir."


"Kau pasti habis senang-senang dengan selingkuhanmu, iya kan? Sampai tidak ingat pulang, cih."


"Lekka, jika tidak tahu apa-apa jangan berbicara hal yang tidak-tidak!" tegur Bryan mulai kesal dengan tingkahnya.


"Kenapa sih aku selalu terlihat salah. Kan bisa aja dia memang menghabiskan waktu bersama pria lain di belakangmu." ia terus berusaha memanasi suasana di sana sampai sebuah tamparan melayang.


"Sekali lagi kamu berbuat ulah, Tante tidak akan segan-segan menendang kamu dari rumah ini dan melaporkan semua sikapmu kepada kedua orang tuamu!"

__ADS_1


------


__ADS_2