
Untuk pertama kalinya Bryan melihat istrinya marah. Selama mereka berpacaran dulu, jika ada yang membuatnya kesal. Zoya selalu memaafkannya dengan rendah hati. Artinya, Zoya benat-benar sangat menjaga kandungannya. Bryan bahkan tidak bisa membayangkan bagaimana kalau Zoya yang meminumnya tadi malam, istrinya pasti sudah dalam bahaya. Bryan menatap tajam manik Lekka yang sudah dibanjiri air mata.
"Kamu sudah puas? Masih beruntung Tuhan menunjukkan kelakuanmu yang sebenarnya kepada kami semua. Sekarang juga pergi dari sini, pergi!"
Nori bersama suaminya segera pergi dari sana. Sedangkan sang nenek menatap Lekka kecewa. Ia mendatangi Lekka lalu melayangkan sebuah tamparan yang membuatnya oleng ke kanan.
"Nenek tidak pernah mendidik kamu menjadi orang jahat, Lekka! Kamu sudah membuat Nenek malu bertemu dengan kakekmu di alam baka. Kamu sudah membuat Nenek benar-benar kecewa."
Selesai dengan itu, dia masuk ke kamarnya dan menangis di sana. Ia sangat malu karena cucunya menjadi seorang penjahat hanya karena rasa sukanya pada Bryan. Memangnya apa yang sedang dia pikirkan dengan mencelakai cucu menantunya.
"Tunggu apa lagi, pergi! Mama sudah memesan tiket keberangkatanmu." teriak Bryan marah. Ia segera pergi dari sana, meninggalkan Zoya yang masih di sana.
Saat zoya hendak melangkah, Lekka dengan kasar menolak Zoya hingga hampir terjatuh. Jika dia tidak sigap sedikit saja, maka kandungannya bisa saja mengalami keguguran karena terbentur. Akan tetapi tangan yang ia gunakan untuk menopang bobot tubuhnya terkilir dan Zoya berteriak kesakitan.
"Zoya!" teriak Bryan dan segera berlari ke arahnya. Ia menatap Lekka yang sudah pergi dari rumah lengkap dengan kopernya.
__ADS_1
"Apa dia mencoba menyakitimu?" tanyanya cemas.
"Aku hampir saja jatuh kalau tanganku tidak sigap menopangnya."
"Syukurlah kalau sudah pergi dia sudah membuat Mama marah." Bryan membawa Zoya ke sofa dan melihat kondisi Zoya takut ada lecet atau apa.
"Bryan, tanganku kayaknya terkilir, sakit banget."
"Sebentar, kamu tutup mata biar aku bantu balikin tangannya."
"Tapi sakit," ucap Zoya hampir menangis.
"Ada apa Bryan? Apa Lekka belum juga pergi?"
"Bukan, Ma. Sebelum dia pergi, Lekka sempat menolak tubuh Zoya. Untungnya ...."
__ADS_1
"Ya Tuhanku, gimana kondisinya, di mana menantu Mama sekarang?" tanya Nori tanpa mendengar kalimat Bryan yang masih belum selesai.
"Mama!" panggil Bryan saat Nori sudah berlari ke arah Zoya dengan berbagai pertanyaan. Bryan mendesah melihat prilaku ibunya yang terlalu panik sampai mengabaikan kalimat yang belum selesai ia ucapkan.
"Sayang, apanya yang sakit, apa perutmu? Ayo katakan sama Mama biar kita ke dokter kandungan."
Zoya menangis dan menyuruh mertuanya menjauh. Ia mengibaskan tangannya karena tidak mampu berkata-kata. Nori terlihat berkecil hati karena Zoya mengabaikan pertanyaannya dan sekarang mengusirnya.
"Maaf kalau Mama terlalu cerewet sampai Zoya pun mengusir Mama." curhatnya sedih.
"Mama, Zoya bukan mengusir Mama. Bryan belum selesai ngomong Mama sudah memotong dengan berteriak."
"Maafkan, Mama."
"Mama, Zoya bukan mengusir Mama." isak Zoya dengan sesugukan. "Tapi Mama memegang tangan Zoya yang terkilir."
__ADS_1
Mendengar hal itu sontak membuat Nori semakin panik dan Bryan segera memberi kode kepada ibunya untuk menghibur Zoya agar ia bisa membetulkan letak tangan Zoya yang terkilir. Nori yang memahami kode anaknya segera menjalankan misinya. Sedangkan Bryan dengan sekali gerakan segera membenarkan letak tulang yang bergeser sampai Zoya berteriak keras.