Belenggu Dalam Cinta

Belenggu Dalam Cinta
Bab 51 Zoya Dijodohkan


__ADS_3

"Nenek kenapa, Ma?" tanta Zoya karena sejak tadi sang nenek tidak bersuara.


"Nenekmu tidak mau repot-repot mengusir hama. Karena sekali dia marah, hancur semuanya." bisik Nori dan Zoya menganguk paham.


"Dia memang banyak omong, punya menantu dokter anak saja bangga, Mama dong harusnya bangga karena punya menantu dokter bedah jantung terbaik."


Zoya terkekeh mendengarnya, tapi satu hal yang ia sesali. Karirnya harus hancur di usia muda. Zoya masih ingin menjasi seorang dokter, tapi Bryan sendiri yang menghancurkannya sampai berkeping-keping. Lalu kini mertuanya mengaku bangga karena ia seorang dokter bedah jantung. Zoya tersenyum miris memikirkan karir serta hidupnya yang tidak jauh dari kisah sinetron.


Ponsel Nori berdering, ia mengambil ponselnya dan langsung mengangkatnya.


"Halo, Bry." sapanya ceria.


Bryan mengatakan sesuatu di seberang telpon.


"Oh, ada di sebelah Mama, kami sedang berada di salon."


Nori menyerahkan ponselnya kepada Zoya dan ia segera menerimanya.


"Iya, Bryan, kenapa?" tanya Zoya.

__ADS_1


"Aku lupa membawa ponselku, pas kamu kasih kemarin aku lupa meletakkannya di mana." kekeh Zoya.


"Astaga, Zoya. Ya sudah nanti kubantu mencarinya."


"Tidak perlu, nanti juga aku akan mengingatnya."


"Aku cuma mau bilang kalau mereka sudah berada di rumah sakit dan mereka sangat ingin bertemu denganmu. Apalagi yang mau dioperasi."


"Aku juga ingin sekali bertemu dengan mereka. sampaikan salamku pada mereka ya."


"Iya, iya. Apa perutmu masih sakit?"


"Buat apa?" tanya Bryan heran.


Nori yang mendengarnya, ikut bersuara dan mengambil ponsel dari Zoya. "Istrimu lagi ngidam, masa kamu nggak paham. Kalau kamu nggak menuruti keinginan istrimu, anakmu pasti akan sangat benci sama kamu Bry."


Bryan yang mendengar hal itu sontak kaget dan segera mengiyakan. Membuat mereka bertiga tertawa.


"Percuma dia dokter, malah percaya sama tahayul." kekek neneknya dan kembali membuat mereka tertawa.

__ADS_1


Sekitar satu jam lebih mereka selesai. Nori membawa mereka makan ke restoran yang biasa mereka datangi. Sama seperti di salon, di sana juga Nori bertemu dengan beberapa temannya yang sedang makan. Mereka bertegur sapa dan mempersilakan Nori duduk dan kursi yang tersedia ada tiga lagi.


"Halo Jeng, sudah lama tidak bertemu, gimana kabarnya?" tanya temannya.


"Kabar saya baik, saya sedang sibuk mengurus rumah dan memang sedang tidak bisa keluar Jeng karena banyak pekerjaan lainnya."


"Siapa gadis cantik yang kamu bawa ini Jeng?" tanya mereka lagi.


Baru saja Nori akan menjawab, ia sudah didahului oleh teman yang satunya lagi. "Jeng, apa dia keponakanmu. Saya punya anak laki-laki yang sudah mapan dan belum kunjung menikah."


Mendengar hal itu membuat Nori kesal dan hampir memaki temannya. Enak saja mau menjodohkan menantu kesayangannya dengan putranya. Zoya tertawa pelan mendegar hal tersebut begitu juga dengan sang nenek yang sejak tadi diam mengamati.


"Gimana sayang? Kamu mau nggak sama anaknya Tante, dijamin dia kaya kok."


"Jeng Nura, dia ini bukan keponakan saya. Dia ini ...."


"Atau sayang kamu mau sama anaknya Tante, dia seorang manajer di perusahaan swasta terbaik. Dia juga sangat tampan, apa kamu mau melihat wajahnya?" tanya wanita tua itu tersenyum senang.


Zoya tahu apa yang sedang dirasakan mertuanya. Ia segera menengahi. "Maaf Tante semuanya, tapi saya sudah menikah dan sekarang sedang mengandung."

__ADS_1


------


__ADS_2