Belenggu Dalam Cinta

Belenggu Dalam Cinta
Bab 53 Benarkah dia berubah?


__ADS_3

"Mau kemana?" tanya Zoya saat mereka memasuki mobil.


"Mau ngajak kamu makan romantis."


Zoya tersenyum tersipu. Tentu masih dengan hati yang berdegup kencang tidak karuan. Ia heran mengapa Bryan semakin hari semakin terlihat berubah. Kadang menakutkan, tapi tiba-tiba berubah menjadi suami idaman yang tidak bisa diprediksi. Ia jadi memiliki pemikiran kalau suaminya memiliki dua kepribadian ganda. Mengingat hal itu sontak Zoya merinding ngeri. Ia berharap jika itu hanya pemikiran liarnya.


"Kau kenapa sejak tadi geleng-geleng kepala? Lagi sakit? Mau kupijat?" tanyanya cemas.


"Enggak, aku cuma senang melakukannya. Lagi pula kita mau makan di mana? Aku sudah makan tadi sama Mama."


"Tapi aku belum," ucapnya dengan wajah memelas.


Zoya antara ingin tertawa dan kasihan. Bryan seperti menjadi dirinya saat mereka masih pacaran dulu. Zoya masih ingat semua kenangan yang pernah mereka ukir. Tapi ia tidak tahu bagaimana dengan Bryan, entah masih mengingat atau sudaj melupakan. Tapi satu hal yang membuat Zoya senang pernah menjadi bagian dari Bryan dulunya. Bryan selalu mendahulukan dirinya. Tapi sekarang Ziya takut jika semua hanya semu belaka. Bahkan berharap pun ia tidak berani, karena terbuai saat sedang di atas angin tidka begitu mengenakkan.


"Zoya, kau kenapa lagi?" tanya Bryan heran.


Zoya menggeleng dan, "Kamu mau makan apa? Akan kutemani ya."


"Suapin ya."

__ADS_1


Zoya terkekeh renyah. "Iya Pak suami."


"Panggilannya keceh, aku suka dipanggil begitu."


"Oh, ya?"


"Iya, panggil lagi coba."


"Enggak mau."


"Kok gitu? Ngambek nihhh."


"Aku akan membelikan satu gudang es krim untukmu. Apa mau ke gerainya langsung?" tanyanya membuat Zoya tertawa.


"Enggak perlu, aku cuma mau makan satu aja. Tapi Bry, mangga mana?" tanya Zoya dengan mata berbinar.


"Ya Tuhan, aku lupa membelinya karena tadi buru-buru ke restoran. Kita ke toko buah aja ya."


Zoya menggeleng tegas. "Aku mau kamu yang petik pangsung dari pohonnya."

__ADS_1


"Waduh, gimana caranya sayang. Bentar deh kita cari dulu yang punya mangga. Semoga yang punya enggak galak ya."


Zoya lagi-lagi tertawa mendengarnya. Tapi ia benar-benar ingin makan buah mangga yang langsung dipetik dari pohonnya. Membayangkannya saja sudah membuatnya begitu berselera. Bryan menghentikan mobilnya dan Zoya melihat ke sekeliling."


"Selamat siang, Bu." saoanya sopan.


"Iya, Mas. Ada apa?" tanya sang ibu juga dengan sopan.


"Begini, Bu. Apa saya boleh manjat pohonnya, maksud saya mangga ibu terlihat sangat enak."


"Kurang ajar, kamu pikir saya ini wanita murahan? Pergi kamu dari sini!" teriaknya.


Siapa pun yang mendengar hal itu tentu membuat sang pemilik merasa dilecehkan dan marah. Tidak jauh berbeda dengan wanita tadi yang langsung menutup pintunya kesal. Zoya yang melihat itu dari bakik mobil pun tertawa melihat suaminya. Entah apa yang sudah dikatakan oleh pria itu sampai membuat si pemilik marah.


"Kamu bilang apa sampai ibunya marah banget?" tanya Zoya sesampainya Bryan di dalam mobil.


"Begini, Bu. Apa saya boleh manjat pohonnya, maksud saya mangga ibu terlihat sangat enak. Begitu, emang apanya yang salah."


"Pantas aja ibu tadi marah dan ngusir kamu Bry, kamunya bilang seolah mangga yang kamu bilang bukan mangga dalam arti yang sebenarnya."

__ADS_1


----


__ADS_2