
"Itu mangganya dapat dari rumah seorang ibu yang menawarkan buah mangga miliknya. Beliau melihat kami keliling mencari mangga muda. Saat itu Bryan hampir digigit anjing salah satu rumah yang kebetulan ada mangga di sana Ma. Sampai bertemu dengan ibu-ibu yang juga memiliki pohon mangga ini. Mama tahu, buahnya sangat banyak dan lebat." terangnya.
"Wah baik sekali mereka."
"Mereka juga yang memanjat langsung pohonnya Ma. Apalagi anaknya tuh, baik banget. Terus keluarga mereka juga sangat baik dan mempersilakan kami duduk di pondok kecilnya."
"Ya Tuhan, kenapa mereka membuat mereka iru. Apa kita tanam pohon mangga juga?" tanya ibunya antusias.
"Terserah Mama aja, kalau mau pelihara silakan tapi kalau pohonnya mati jangan nyalahin tukang kebun."
"Iya, deh. Mama nggak akan melihara pohon mangga lagi. Lagian kasihan mereka kalau dia di sini selalu mati mengenaskan. Padahal Mama sangat menyayangi mereka.
"Ma, Bryan ke kamar dulu. Mau ngelonin Zoya. Dia suka manja sekarang."
"Namanya juga wanita hamil, jangan membuatnys kelelahan. Mama akan memukulmu kalau kau melakukannya." ancam Nori membuat Bryan bergidij ngeri.
Di kamar, ia segera naik keranjang dan menemani Zoya yang masih anteng tidur tanpa terganggu sama sekali dengan dirinya yang masuk secara perlahan.
"Baby, Papa mau banget nengokin kamu ke sana. Tapi Mamamu selalu tidur nyenysk. Mana nggak mau jenguk kamu kalau Mama nggak ngasih izin." curhatnya.
"Izin apa?" tanya Zoya serak. "Jangan aneh-aneh, aku mengantuk."
"Tuh baby lihat kan. Padahal Papa tahu kamu kangen sama Papa kan?" tanyanya miris.
Sontak Zoya bangun dan tertawa. Ia mencubit tangan Bryan yang dengan nakal menyelinap ke dalam bajunya dan meraba dua benda kenyal miliknya.
__ADS_1
"Sayang, baby katanya kangen sama Papanya."
"Itu kan cuma akal-akalanmu saja." ketusnya.
"Sudah dua minggu lebih nggak sayang-sayangan." keluhnya.
"Apa imbalannya kalau aku mau?" tanya Zoya menantang Bryan.
"Aku akan membelikanmu dan bersedia melakukan apa pun yang kamu mau."
"Janji?"
"Iya sayang, janji."
"Tidak akan ingkar janji, percaya deh."
"Sebentar mau ganti baju dulu."
"Pakai yang seksi sayang."
"Ada maunya dipanggil sayang," desah Zoya sedih.
"Ya udah, mulai sekarang aku akan memanggilmu sayang. Tapi kamu juga panggilnya jangan kamu. Yang so sweet."
"Panggil apa ya?" tanyanya bingung.
__ADS_1
"Mas, love, atau cinta." saran Bryan membuat bulu kuduk Zoya merinding seketika.
"Sayang buruan, jangan lama-lama di sana." desah Bryan yang sudah tidak sabaran ingin memadu kasih.
Zoya segera mengganti pakaiannya dengan baju santai. Ia melihat jam dan mengernyit bingung. Dia pikir suaminya minta jatah karena sudah malam. Tapi ternyata masih jam lima sore. Ia mendekati suaminya dan memegang dahinya. Tapi suhu panasnya normal.
"Kenapa sih sayang, aku sedang tidak sakit."
"Ini masih sore, masa mau main begituan sore-sore."
"Memangnya kenapa? Lagian Mama sudah tahu, jadi tidak akan diganggu oleh siapa pun."
"Mas, kamu bilang sama Mama? Ih kok begitu. Aku kan malu ketemu Mama." kesal Zoya.
"Mama bahkan bilang kalau jangan sampai membuatmu kelelahan." godanya membuat wajah Zoya memerah menahan kesal dan malu.
"Dasar mesum!"
Meski sangat kesal, Zoya tetap menuruti kemauan suaminya. Ia naik ke atas ranjang dan mulai meraba suaminya yang menunggunya seperti singa kelaparan di atas ranjang. Melihat gerakan Zoya yang begitu santai membuat Bryan gerget sendiri. Ia ingin langsung menyerang Zoya.
"Mas kamu lupa ya, kamu baru boleh nengokin dia kalau sudah tiga bulan." kekeh Zoya mengerjai suaminya.
Sontak membuat semangatnya yang membara redup seketika. Ia tidak percaya jika ada aturan semacam itu. Andai saja dia tahu kalau sedang dikerjai, pasti akan sangat marah.
------
__ADS_1