
Mereka berdua pergi menuju taman belakang, Nori segera mengambil penyiram dan gunting. Dengan pelan, ia memberikan asupan air pada bunga-bunganya yang terlihat begitu indah. Apalagi mawar yang tempo lalu dipotong oleh Zoya kini sudah tumbuh tunas baru. Selain itu sudah terlihat beberapa putik yang masih kecil. Zoya sendiri melihat dari sebuah kursi karena ia baru diperbolehkan menyentuh bunga jika susunya sudah habis.
Di kamar, Bryan terbangun. Ia memeriksa sisi kirinya dan melotot saat tidak menemukan Zoya di sana. Bryan bangun spontan dan mencari Zoya ke kamar mandi. Ia panik karena istrinya tidak ada di sana. Bryan lekas keluar dan menuju ke dapur, ia hanya menemukan pembantunya di sana yang sedang memasak.
"Ada apa, Den Bryan?" tanya pembantunya saat melihat sang majikan yang celingak celinguk tampak sedang mencari sesuatu.
"Mbak, lihat istri saya nggak?" tanyanya.
"Enggak, Den." spontan jawaban itulah yang keluar dari bibir asisten runah tangga tersebut. Ia lalu mikir sejenak dan baru mengerti kalau majikannya sedang mencari Zoya. Ia menepuk jidatnya dan ingin mengatakan jika ia melihatnya tadi, tapi Bryan sudah lenyap dari sana.
"Eh, Den. Cepat banget ngilangnya."
Di ruang tamu, Bryan juga mencari keberadaan Zoya. anehnya ia mencari sampai ke dalam kemari dan kolong sofa. Deni yang baru saja kekuar dari kamarnya bingung melihat tingkah laku putranya.
"Nyari apa Bryan?"
__ADS_1
"Zoya Pa, dia hilang padahal sebelum Bryan tidur, dia masih ada di kamar." Terangnya dengan serius.
"Ziya sebesar itu memangnya muat di kolong sofa sama laci?" tanya Deni heran.
"Mana tahu nyalip, Pa. Tapi Papa ngapain di sana. Bantuin Bryan cari Zoya Pa."
"Nyari kok di sana, Papa sibuk, cari aja sendiri."
Bryan pun kembali melanjutkan pencariannya sekitar dua puluh menit. Lalu asisten rumah tangganya memberi tahu keberadaan Zoya. Bryan sedikit kesal tapi sekaligus senang karena ternyata sang istri sedang berada di taman bersama ibunya. Ia bisa bernapas lega sekarang, dan baru menyadari kekonyolannya yang mencari Zoya di laci. Ia menepuk jidat.
"Sayang, menurut kamu Bryan itu gimana?" tanya Nori penasaran mengenai sudut pandang menantunya.
"Awalnya dia dingin, Ma. Kasar dan suka mukulin aku, dia juga pernah mengurungku dan tidak memberiku makan sampai aku pingsan dan kekurangan gizi. Dia juga suka memaksaku memuaskannya, Ma."
"Zoya, gimana menurut kamu?" tanya Nori.
__ADS_1
Zoya tersadar dari lamunannya. Ia tersenyum malu dan menjawab pertanyaan mertuanya. Ia ingin sekali menjawab seperti yang ia bayangkan di atas. Tapi nanti mertuanya bisa jantungan kalau sampai tahu putranya pernah melakukan KDRT.
"Bryan baik, Ma. Dia juga perhatian apalagi semenjak Zoya hamil. Dia protektif banget, kadang kalau Zoya tiba-tiba nggak ada di kamar pasti dicariin keliling rumah." kekehnya.
"Ya Tuhan, Zoya. Kupikir kamu di mana. Aku capek nyari kesana kemari tapi rupanya di sini sama Mama."
Nori melihat ke belakang dan mengingat kalimat menantunya barusan. Ia tertawa renyah dan mengejek Bryan yang tidak bisa lepas dengan Zoya. Persis gambaran suaminya zaman dulu.
"Lihat, Ma. Dia habis nyariin Zoya." kekeh Zoya.
"Jahat ya, suami lagi khawatir, kamu malah ngetawain. Sayang kupikir kamu ngilang, aku sampai nyariin ke dalam laci."
"Sembarangan, memangnya tubuh Zoya muat masuk laci!" kesal ibunya.
"Dia bahkan pernah nyari Zoya ke dalam tas Ma."
__ADS_1
-----