
Tawa Zoya pecah saat mengingat kekonyolan suaminya yang mudah kehilangan akal sehat jika tidak mendapatinya di mana pun.
"Astaga, memangnya apa yang sedang kamu pikirkan Bryan. Makanya jangan tidur sore hari, jadinya kualat sendiri."
"Siapa yang enggak panik, Ma. Mana Zoya ninggalin Bryan tanpa bilang apa-apa, setidaknya bisa meninggalkan secarik kertas kan." dumelnya.
"Mana ada orang melakukan hal tersebut kalau cuma keluar kamar. Kamu ini ada-ada saja."
Zoya tertawa melihat perdebatan keduanya yang menjadi hiburan tersendiri. Lalu tiba-tiba ia merasakan perutnya sedikit keram. Makin lama makin terasa dan Zoya segera memegang tangan Bryan kuat.
"Tuh, lihat Mama, istri Bryan sampai nggak malu lepas." kekehnya.
"Aduh!" erang Zoya kesakitan. Ia memegangi perutnya.
"Kenapa sayang?" tanya Nori khawatir.
"Mama, perut Zoya sakit banget, aduh, Mama." isak Zoya dan menangis. Ia terus memegangi perutnya.
"Bryan ayo segera bawa Zoya ke kamar. Mama takut terjadi apa-apa sama dia." perintahnya dan Bryan segera menggendong tubuh Zoya menuju kamar mereka. Dengan pelan ia merebahkan tubuh Zoya, sedangkan ibunya memanggil dokter kandungan yang biasa memeriksa menantunya.
"Bagaimana, Dok?" tanya Bryan.
__ADS_1
"Mbak Zoya hanya kelelahan, bahkan rutinitas kecil pun bisa membuatnya keram perut karena kondisi kehamilannya sangat lemah, Bu. Nanti saya akan meresepkan obat penguat kandungan. Mbak Zoya tidak boleh melakukan aktivitas berat apalagi mengangkat air meski hanya satu liter." terangnya.
Nori dan Bryan menganguk sedangkan ayahnya yang baru mengetahui kondisi Zoya saat masuk ke kamar tersebut saat pintunya terbuka.
"Loh, ada apa?" tanyanya bingung.
"Papa dari mana aja sih, ini menantu Mama hampir aja kenapa-napa."
"Ya Papa kerja."
"Kalau begitu saya permisi dulu ya Bu, mari." pamitnya.
"Mas, maaf ya, aku nggak tahu kalau ternyata ngangkat air pun nggak diperbolehkan. Aku malah nyiram bunga. Aku hampir aja membahayakan bayi kita Mas."
Zoya tampak menyesal dan sesih karena kecerobohannya. Bryan tidak menunjukkan jika istrinya bersalah. Ia memberinya kekuatan dan menyemangatinya.
"Ini bukan salah kamu, kedepannya bisa kita jadikan sebagai pelaharan kan. Pokoknya mulai detik ini kamu nggak boleh ngapa-ngapain, denger kan tadi apa kata dokter."
"Iya, Mas. Aku tahu. Aku janji nggak akan membuat bayi kita terancam lagi."
"Lapar nggak? Biar Mas bawakan kemari makanannya."
__ADS_1
"Jangan, Mas. Nggak enak sama Mama dan Papa."
"Bryan! Buka pintunya, Mama bawa makanan buat Zoya."
"Tuh, baru aja dibilangin, malah Mama yang bawa kemari dengan suka rela."
Zoya tertawa pelan. Ia sangat berterima kasih karena dibalik semua kesedihan yang ia alami, Tuhan masih berbaik hati memberinya kasih sayang dari orang yang tidak terduga sama sekali.
"Mama, kok repot-repot, baru aja tadi Bryan ambilin nasinya."
"Habis Mama gabut, sekalian aja bawa nasi buat Zoya."
Nori berjalan ke arah Zoya dan meletakkan makanan itu di nakasnya. Lengkap dengan air putih.
"Makasih, Mama."
Nori bergegas keluar dan menghampiri suaminya di kamar yang masih dengan gadget kesayangannya dan tidak pernah lepas dari sana.
-----
mana suaranya gais wkwkwkwkwk maaf yak aku lama nggak nongol
__ADS_1