
Bryan membawa Zoya ke rumah lama penuh kenangan milik keluarga Zoya. Di sana sudah tidak ada lagi keluarga yang menempati kediaman tersebut, karena sebelumnya mereka adalah suruhannya. Zoya yang baru sampai di sana langsung menangis. Bryan membuka gerbang dan mempersilakan istrinya masuk.
"Terima kasih, Mas."
Bryan menggeleng dan mengelus lembut puncak kepalanya Zoya. Dengan lembut, ia menggandeng tangan istrinya dan membawanya masuk.
Seluruh kenangan masa kecilnya berputar bagai sebuah film. Gambaran saat ia masih kecil, berlarian di rumah itu. Ditemani kedua orang tuanya yang tertawa di ruang tamu karena melihat tingkahnya. Air mata tidak bisa ia bendung, seolah gambaran tersebut begitu nyata, ia memegng pundak gadis kecil yang tidak lain adalah dirinya.
"Mama, Papa," ucapnya dan mendekati sofa.
Bryan yang melihat semua itu melihat dengan tatapan tidak karuan. Ia tahu, selama ini sudah berbuat jahat kepada Zoya karena kesalahan yang bahkan tidak pernah dilakukannya. Tapi lhat, apa yang ia lakukan sampai sejauh ini. Ia memisahkan gadis yang sangat mencintai keluarganya. Ia menghampiri tubuh Zoya yang sedang menangis.
"Sayang, apa kamu baik-bai saja?" tanyanya singkat.
Zoya membalasnya dengan anggukan. Ia mengusap air matanya dan menatap Bryan sendu. "Mas, terima kasih karena sudah mengembalikan rumah orang tuaku."
"Sama-sama sayang, aku tahu kamu sangat mencinti rumah ini. Karena memiliki banyak kenangan."
"Rumah ini seperti buku diary bagiku Mas, di setiap sisinya menyimpan berbagai kenangan bersama kedua orang tuaku. Sejak kecil kami selalu saling menyayangi satu sama Lain. Papa dan Mama tidak pernah bertengkar hanya karena masalah sepele. Aku sampai ingin menikah dengan pria yang memiliki prilaku seperti ayahku." Kekehnya embuat Bryan ikut tertawa.
"Apa aku bisa seperti ayah yang kamu cintai?" tanyanya sambil menjawil hidung istrinya yang memerah.
"Bisa," ucapnya dan tersenyum.
Bryan membawa tubuh Zoya ke dalam pelukannya. Ia membisikkan sesuatu yang membuat pipi Zoya memerah.
"Bagaimana?" tanya Bryan menggoda istrinya.
"Apanya?" tanya Zoya pura-pura tidak paham.
"Haruskah dikatakan dengan jelas?" tanya Bryan menaikkan alisnya.
"T-tidak, cukup kita saja yang tahu." kekehnya.
__ADS_1
"Kalau begitu, artinya diterima." Bryan bersorak senang.
Selesai percakapan itu, mereka berdua memutuskan kembali. Zoya memperhatokan rumah peninggalan kedua irang tuanya dengan sedih. Namun, ia juga senang karena kini rumah itu sudah atas nama miliknya. Ia meliht Bryan yang sejak tadi fokus mengemudi. Zoya meraih tangan kiri suaminya dan menggenggamnya. Ia sangat berterima kasih atas semuanya. Ia merasa Bryan inilah yang dulu sangat ia cintai, bukan Bryan jahat yang menyiksanya karena mantan terindahnya meninggal saat dioperasi olehnya. Semua tampak seperti mimpi, ia berharap tidak akan pernah bangun selamanya.
Malam sudah menjelang, Zoya masih memikirkan perkataan suaminya mengenai karirnya yang sempat hancur. Kini Bryan memintanya untuk kembali ke sana. Tapi Zoya masih memikirkan segalanya karena reputasinya di sana sudah sangat hancur. Di lain sisi, ia tidak bisa mengabaikannya begitu saja karena suaminya berjanji akan menebus semua kesalahannya di masa lalu.
"Bagaimana? Sudah dipikirkan?" tanya Bryan sambil membawa segelas susu hangat untuk Zoya.
Zoya mengambil gelas tersebut dan menyesapnya. Bryan menyelipkan rambut Zoya saat beberapa helai melewati telinganya.
"Aku mau kembali ke rumah sakit, Mas."
Bryan bersorak senang dan segera memeluk tubuh Zoya dengan lembut. Ia mengecup pucuk kepala istrinya dengan sayang. Alasannya mengajak Zoya bekerja, agar istrinya tidak merasa bosan di rumah saja. Selain itu, ia sangat tahu jika istrinya sangat menyukai profesinya sebagai dokter. Ia sekarng tidak ingin menghadang mimpi Zoya untuk mengejar karirnya meski dalam kondisi mengandung.
"Tapi kamu tidak boleh bekerja terlalu keras ya sayang, ingat! Kamu sedang mengandung penerusku."
"Iya, Mas. Aku akan menjaga bayi kita dengan baik. Terima kasih sekali lagi atas kesempatannya."
"Ya sudah, sekarang habiskan susunya,setelh itu langsung tidur ya. Besok pagi kita akan segera pergi ke rumah sakit."
"Mengenai hal itu, kamu tidak perlu khawatir, Mas sudah menyiapkan semua beserta ruanganmu. Bukankah dulu kamu dokter terbaik di runah sakit. Mas tidak mau kehilangan sosok dokter tersebut."
Zoya merasa tersanjung oleh kalimat suaminya barusan. Ia pun meneguk habis susu khusus ibu hamil dan segera berbaring disamping suaminya. Pria itu kini melingkarkan tangannya ke perutnya yang masih belum menonjol karena masih usia muda. Zoya tersenyum dan tidur terlelap dalam dekapan hngat suaminya.
---
Zoya memegang tangan suaminya dengan erat saat berada di mobil. Entah kenapa rasa takut tiba-tiba menyusup dan mengoyak harga dirinya. Ia menggelengkan kepala melihat Bryan yang menatapnya lembut.
"Sayang, tenang saja, kamu pasti bisa. Kan ada Mas di samping kamu."
"Bagaimana kalau mereka tidak menyukaiku di sana? Bagaimana kalau ...."
Bryan segera membungkam mulut istrinya dengan sepasang bibir miliknya. Ia ******* lembut benda kenyal tersebut. Zoya pun membalasnya. Seolah semua itu bisa memberinya sebuah kekuatan yang tidak kasat mata. Setelah mereka menyudahi, Bryan tersenyum kepadanya dan memberinya kekuatan berupa cinta.
__ADS_1
"I love you, wife"
"Love you too, hubby."
"Ayo," ajaknya.
Bryan keluar dari mobil dan berlari ke tempat Zoya dan segera membukakan pintu. Di depan lobi banyak orang yang berlalu lalang dan teralihkan oleh kedatangan keduanya. Bryan menggandeng istrinya menuju lobi rumah sakit. Saat banyak mta yang memandang ke arah mereka, Bryan memindahkan tangannya dan memeluk mesra pinggang ramping Zoya.
"Mas, aku malu."
"Mas tidak suka jika ada pria yang menatap istriku yang cantik ini."
Soya terkekeh, kini mereka sudah sampai di ruangan direktur. Saat ini posisi direktur sudah diambil alih oleh Bryan karena ayahnya sedang ingin menikmati kehidupan tuanya bersama sang istri tercinta.
"Hari ini, Mas akan membawa kamu japan-japan keliling rumah sakit. Lalu menuju ke ruangan kamu Sayang. Ruangannya sengaja Mas desain supaya kamu betah berada di sana nantinya." terang Bryan.
"Makasih, Mas. Aku jadi terharu banget karena kamu sampai memikirkan hal sejauh itu."
"Karena istriku yang cantik ini seorang dokter terbaik di rumah sakit ini, tentu saja harus diperlakukan istimewa. Nanti kalau dokter terbaikny dirampok sama rumah sakit lain gimana? Mas tidak akan pernah rela."
"Mas ada-ada saja." kekehnya Zoya.
Mereka yang sedang berjalan-jalan berdua di lorong rumah sakit, dikagetkan oleh seseorang. "Dokter Bryan, ada pasien yang harus segera ditangani. Kita kekurangan dokter di ruangan operasi."
"Kamu bisa kembali dulu, nanti saya akan menyusul.
"Baik, dok, saya permisi."
"Sayang," ucapnya dan langsung dipotong oleh Zoya.
"Tidak apa-apa, Mas. Aku bisa sendiri. Lagi pula aku sudah paham letak rumah sakit ini." kekehnya menenangkan suami.
"Gimana kalau kamu juga ikutan, ayo!" ajaknya.
__ADS_1
------