
Zoya yang sedang berbaring di bath up tiba-tiba menjadi pusing. Ia hendak bangkit tapi pandangan seketika mengabur dan berputar-putar. Kepalanya juga terasa sangat berat, tubuhnya perlahan tenggelam dan pegangannya juga melemah. Kepala Zoya kini sudah sepenuhnya masuk ke dalam air dan terbaring di sana. Bryan yang baru sampai ke apartemennya pergi ke dapur untuk mengambil minum. Perasaannya masih was-was.
Ia memanggil Zoya dengan lantang, akan tetapi tidak ada jawaban. Sampai beberapa kali, ia segera mengecek dan Zoya tidak ada di sana. Ia mencari ke kamarnya, mungkin istrinya sedang iseng dan tidur di sana tapi setelah di cek, tetap tidak ada. Tentu saja Bryan kebingungan.
"Kemana dia? Apa dia keluar? Tapi mana mungkin, kunci apartemen selalu kubawa."
Bryan duduk di depan ruang televisi, ia memaninkan ponselnya dan mulai teringat dengan ponsel yang ia beli kemarin. Ia segera mengambilnya dan memandangi benda tersebut dengan saksama.
__ADS_1
"Dia pasti akan menyukainya," ucap Bryan sedikit tersenyum. Ia belum terpikir sama sekali mencari Zoya di kamar mandi.
"Kemana wanita itu, malam-malam keluyuran!" kesalnya.
Ia kemudian kebelet, tapi jarak dapur dengan kamarnya, lebih dekat ke arah dapur. Ia pun memilih menuju ke kamar mandi dekat dapur dan segera masuk. Ia segera menuntaskan panggilan alam. Setelah selesai ia melihat sepotong handuk berada di sana. Kening Bryan mengerut. Ia juga melihat lantai dekat bath up basah. Pelan-pelan Bryan berjalan ke arah tersebut dan di sana ia melihat Zoya yang terbaring tenggelam.
"Zoya!" teriak Bryan spontan dan segera mengangkat tubuh Zoya yang sudah pucat dan dingin menuju kamarnya. Ia segera mengganti pakaian gadis itu dengan pakaiannya yang kebesaran dan segera menyelimuti Zoya dengan selimut tebal.
__ADS_1
"Ya Tuhan, kenapa kau bisa tenggelam? Apa kau sedang mencoba bunuh diri." kesal Bryan yang sebenarnya dia sangat cemas. Ia merinding sendiri, bagaimana jika ia tidak segera pulang. Ia yakin yang dia temukan adalah jasad istrinya.
"Suhunya tubuhnya tidak juga naik. Ia bisa kena hipotermia jika tidak segera di tangani." desah Lucas.
Ia segera membuka bajunya, dan juga membuka baju Zoya. Setelah tidak ada lagi pakaian yang melekat di badannya dan badan Zoya ia segera memeluk istrinya dan menyalurkan panas dari tubuhnya. Ia juga menutupi tubuh mereka dengan selimut yang tebal. Sekitar satu jam kemudian, tubuh Zoya mulai menghangat. Wajahnya tidak lagi terlihat pucat seperti terakhir kali, akan tetapi timbul sebuah masalah, saat di mana milik Bryan tampak berdenyut dan mengeras saat tubuhnya langsung bersentuhan dengan dua benda kenyal.
"Kenapa dia berekasi di saat seperti ini." desah Bryan kesal. Ia tidak mungkin melepaskan pelukannya karena tubuh Zoya masih belum menghangat dengan sempurna. Ia tidak mau terjadi apa-apa dan mengambil risiko.
__ADS_1
Seribu kali ia mencoba menahan hasrat kelelakiannya, ia semakin gelisah. Miliknya begitu terasa sesak dan tangannya juga mencengkram kuat selimut yang menutupi tubuh keduanya. Dengan napas tercekat, Bryan mulai meraba dua gundukan yang sejak tadi menggodanya sampai tidak bisa berpikir dengan jernih. Baru saja dimulai, suara ponselnya berbunyi. Di sana ibunya menelpon membuat ia kaget.
-------