
Kejutan demi kejutan terus diberikan Bryan kepada ibunya. Hal tersebut membuat sang ibu jatuh pingsan dan keduanya terlihat sangat panik. Bryan merutuki kebodohannya karena sudah mengatakan hal yang tidak benar. Semua ia lakukan agar ayahnya tidak memintanya menceraikan Zoya. Jika hal itu terjadi, ia tidak akan bisa menyiksa Zoya.
"Mama!" teriak keduanya dan Bryan segera membopong ibunya menuju ruang tamu. Karena ia tidak mungkin merebahkan ibunya di samping Zoya yang masih belum sadar.
"Lihat apa yang kamu perbuat Bryan."
"Maaf, Pa."
Sekitar tiga puluh menit mereka berdua saling terdiam. Ibunya sudah membuka mata dan menatap Bryan kesal. Ia sudah mengibarkan bendera perang dengan Zoya akan menantunya. Tapi ia akan menjadi seorang nenek, hal itu membuat ia dilema harus bersikap bagaimana pada Zoya. Di sisi lain ia sangat membenci gadis itu karena sudah mencoreng nama baik keluarganya, meskipun tidak begitu berpengaruh. Tapi di sisi lain, ia sangat menginginkan seorang cucu.
"Mama mau kalian tinggal di rumah Mama. Tidak di apartemen ini!"
"Tapi, Ma."
__ADS_1
"Tidak ada bantahan sama sekali."
Mendengar hal itu, Bryan hanya mampu menghela napas. Gagal sudah rencananya menyakiti Zoya. Ibunya terlalu ikut campur dan begitu anarkis jika menyangkut hidupnya.
Setelah mengatakan hal tersebut, mereka berdua memutuskan segera pergi dari sana meski kedua irang tuanya sudah berlalu, hal itu tidak membuat Bryan lega.
"Kalau pindah ke rumah Mama, aku tidak bisa menyiksa Zoya. Mama.akan selalu mengawasi gerak gerik Zoya kapan pun di mana pun." desahnya sedikit frustrasi. Lelah dengan pikiran yang bercabang, ia memilih tidur di samping istrinya. Ia juga sudah memakaikan pakaian agar Zoya tidak kedinginan.
Esoknya, Zoya sudah membuka matanya. Kepalanya masih terasa berat seperti ditimpa sepotong besi besar. Ia ingat sebelum jatuh pingsan, kepalanya mendadak pusing dan pandangannya berkunang-kunang. Zoya mengedarkan mata dan kaget saat melihat tubuh Bryan tepat berada di sampingnya. Tangan pria itu juga sedang memeluk erat perutnya. Hal itu membiat Zoya salah tingkah dan wajahnya memerah.
"Kenapa aku bisa berada di sini?" tanya Zoya bingung.
"Kau tenggelam di bath up. Apa kau sengaja menenggelamkan diri?" tatapan Bryan penuh selidik saat matanya bertemu pandang dnegan Zoya. Gadis itu jelas terlihat gugup karena ditatap sedemikian rupa.
__ADS_1
"Ti-tidak, bukan begitu. Saat aku mandi kepalaku mendadak pusing secara tiba-tiba. Saat aku hendak bangun, aku tidak bisa menahan sakit di kepala dan akhirnya jatuh pingsan. Aku tidak tahu berapa lama di sana. Kupikir aku akan mati." cicit Zoya sambil menarik napas pelan.
"Lain kali kalau sedang sakit kepala, jangan mandi di bath up. Itu juga jalau kau masih menyayangi nyawamu."
"Aku tidak akan lagi melalukannya."
"Bagus. Dan selama kau pingsan, Mama dan Papa datang kemari plus wanita yang mau mereka jodohkan."
"Lalu bagaimana?"
"Bagaimana lagi, rahasiaku terbongkar. Mereka sudah mengetahui keberadaanmu dan Mama menyuruh kita tinggal di sana. Untuk itu, besok kita akan pindah ke sana. Tapi aku tidak perlu merasa senang, aku masih belum mengurungkan niatku untuk menyakitimu." dengkusnya.
Mendengar hal itu membuat jantung Zoya bergejolak kencang. Jika ia harus tinggal bersama ibu dari Bryan, hidupnya akan seperti di neraka.
__ADS_1
----