Belenggu Dalam Cinta

Belenggu Dalam Cinta
Bab 63


__ADS_3

Bryan baru kembali ke kamar setelah Zoya tidur. Ia lupa karena menghabiskan waktu bersama ayahnya di ruang kerja. Ia tahu kalau Zoya pasti lelah menunggunya yang awalnya hanya lima menit saja.


"Maaf ya, sampai kelupaan sama kamu. Tadi Papa tiba-tiba manggil dan nyuruh ke ruang kerjanya sampai lupa sama kamu. Maafin ya sayang." bisik Bryan lembut.


Bryan menyelimuti istrinya yang sudah lelap. Iya kemudian membuka laptopnya dan mengerjakan sesuatu di sana. Besok ia akan ada presentasi kasus yang sedang ia tangani saat ini. Sekaligus memeriksa kondisi jantung gadis kecil yang Iya operasi beberapa hari yang lalu. Iya kembali melihat Zoya, Apakah ia harus memberitahu sesuatu atau urungkan saja? Bryan masih belum tahu, Apakah perlu memberitahu atau tidak. Tapi demi keselamatan anak dan istrinya, ia urungkan niatnya.


Pagi pun telah menjelang, Zoya bangun dari tidurnya menuju kamar mandi. Setelah selesai mencuci muka, Iya kembali dan melihat Brayen masih tidur nyenyak di ranjang. Ia melihat jam dinding masih menunjukkan pukul 6. Zoya pergi keluar menuju dapur dan mengambil air minum untuk ia teguk.


"Selamat pagi, Mbak," sapanya pada asisten rumah tangga yang sedang memasak.


"Pagi juga, Non."


"Masak apa pagi ini, mbak?" tanya Zoya sambil melirik bahan-bahan yang sedang disiapkan oleh asisten tersebut.


"Sayur lodeh Non, tadi malam nyonya besar meminta sayur lodeh di masakan pagi ini. Katanya sudah lama tidak makan sayur tersebut."


"Wah, Mbak perlu bantuan nggak, atau Ada yang bisa saya bantu?"

__ADS_1


"Non membantu saya dengan tetap duduk diam," ucap pembantu tersebut.


"Mbak yakin nama saya bantu?" saya kembali meyakinkannya.


"Non, saya sudah terbiasa bekerja menjadi tukang masak. Jika saya membiarkan Non memasak, maka hidup saya pasti akan berakhir."


"Kenapa bisa begitu?" tangan Zoya penasaran.


"Non, menantu yang sangat dicintai oleh majikan saya. Nyonya besar pasti tidak akan pernah membiarkan Non." kekeh pembantu tersebut membuat Zoya merajuk.


Nori sedang menuruni anak tangga, melihat Zoya sedang berada di dapur. Ia segera menghampiri menantunya dan menyapa.


"Mama, Zoya bosan di kamar. Di sini bisa memperhatikan Mbak masak, Zoya penasaran kok bisa masakan Mbak enak, memangnya Mama nggak penasaran?" tanya Zoya.


"Bener juga, selama ini Mbak masaknya emang enak. Kok kirim sekarang ya? Ya udah, kita lihatin mbak masak aja."


"Oke, Ma."

__ADS_1


"Non, Nyonya Besar jangan lihatin saya masak, saya kan bisa grogi."


Mendengar hal itu mereka berdua pun tertawa. Apalagi wajah asisten rumah tangganya pucat kana terus diperhatikan oleh keduanya. Karena merasa kasihan, Zoya dan mertuanya memutuskan pergi ke ruang tamu. Disana ternyata sudah ada suami dan ayah mertuanya.


"Loh, mereka sudah bangun ternyata."


Ayah mertuanya melihat sang ibu mertua lalu bertanya. "Nggak jadi siram bunga? Tumben cepat selesai."


Sontak ibu mertuanya kaget dan cengengesan. "Oh, iya. Lupa, jadi pas menuruni anak tangga Mama melihat Zoya di dapur. Awalnya yang mau menyiram bunga, alhasil menghampiri Zoya."


Bryan melihat istrinya dengan Dahi mengernyit.


"Ngapain kamu di dapur?" tanyanya bingung.


"Itu, katanya dia penasaran kenapa masakan Mbak selalu enak. Terus kalau dipikir-pikir, kenapa masakan Mbak bisa seenak itu. Alhasil kami berdua kepo dan tertahan di sana."


Mendengar hal itu sontak suami dan ayah mertuanya tertawa.

__ADS_1


-----


__ADS_2