
Paginya, mereka berdua sudah berada di depan makan kedua orang tua Zoya. Dia terlihat sedang menangis di sana sembari meletakkan setangkai bunga di makan ibunya dan menaburinya dengan bunga serta air yang mereka beli di depan pemakaman yang menyediakan bunga dan air tersebut. Bryan hanya berdiri di belakang Zoya tanpa mau menyentuh makam kedua mertuanya.
"Ma, maafin Zoya ya karena baru berkunjung kemari. Mama sama Papa pasti sudah rindu sama kedatangan Zoya." isak tangisnya mengiringi ziarah pagi itu.
Zoya mengusap lembut papan nama makan tersebut. Bahunya bergetar hebat.
"Ma, Pa. Sekarang Zoya sudah menikah dengan Bryan. Pria yang sangat kalian sukai," ucapnya.
Bryan yang mendengar kalimat tersebut sedikit kaget, apa yang dikatakan oleh Zoya. Apa iya, mertuanya sangat menyukai dirinya. Tapi ia kembali bersikap biasa saja karena tidak mau menjalin hubungan yang lebih erat dengan Zoya. Karena misinya menikahi gadis itu hanya untuk aksi balas dendamnya.
"Apa kau sudah selesai? Jika belum aku akan menunggu di mobil." terang Bryan singkat. Zoya tersadar dan menatap suaminya dengan mata sembab.
__ADS_1
"Apa kamu nggak mau menyapa kedua orang tuaku?" tanyanya sambil mengusap air mata yang terus keluar.
"Buat apa? Mereka juga sudah meninggal. Kalau sudah selesai segera ke mobil. Kita akan pulang hari ini." tukas Bryan dan segera kembali ke mobil.
Zoya yang mendengar kalimat itu merasa jika Bryan memang tidak ingin menziarahi makan kedua orang tuanya. Suaminya juga tidak begitu peduli. Tangis Zoya semakin menjadi, tapi tidak ada yang bisa ia lakukan, dirinya hanya istri siri yang tidak sah secara agama, lalu apa yang bisa ia lakukan saat Bryan bersikap demikian. Tampaknya beberapa hari suaminya berbuat baik, sekejap membuat Zoya terlena dan banyak menuntut haknya. Ia mengusap air mata dan kembali pada realita yang sebenar.
"Sudah selesai menangisnya?" tanya Bryan cuek.
"Sudah," jawab Zoya serak. Ia segera masuk ke mobil dan memejamkan matanya sampai Bryan mengemudikan mobil.
"Maaf, aku tidak bermaksud begitu tadi." Bryan mencoba mencairkan suasana.
__ADS_1
"Kamu tidak salah, jadi tidak perlu meminta maaf padaku."
"Tapi sekarang kau marah."
Zoya membuka matanya dan menatap suaminya yang sedang serius menyetir. Ia tersenyum sedih, hatinya masih terasa sesak. "Apa aku memiliki hak untuk marah padamu? Aku hanya tawanan yang harus menerima apa pun yang kamu katakan, itulah kedudukanku di sisimu."
"Apa maksudmu, aku tidak pernah menganggapmu begitu." kesal Bryan yang mendadak tidak nyaman dengan kalimat yang dilontarkan Zoya padanya.
"Bryan, jangan membuatku merasa jika aku berarti bagimu. Jangan membuatku terlena hingga lupa akan kedudukanku yang sebenarnya. Sikapmu yang berubah-ubah membuatku takut." terang Zoya serak.
Ia mengusap air matanya yang sejak tadi tidak juga berhenti mengalir. Ia benci saat di mana hatinya begitu rapuh dan mudah goyah. Mudah menganggap dirinya begitu spesial di hati suminya, hingga berakhir terluka. Bryan sendiri kini memiliki sebuah ide dari apa yang Zoya sampaikan padanya. Ia tersenyum menatap Zoya yang kini mengalihkan pandangan darinya. Mereka kini sudah sampai di kediaman keluarga Bryan.
__ADS_1
Jangan Lupa Voment like and smile gais wkwkwkwkw