
"Kenapa tidak belajar memasak saja, selagi ada Mbak." kekeh mertuanya.
"Kapan-kapan aja, Pa. Mama sama Zoya mau menyiram bunga, ayok sayang." ajaknya dan segera menghilang dari sana.
"Papa, entah kenapa Zoya jadi mirip sama Mama. Kelakuannya."
"Namanya juga sudah bergaul sama Mama kamu. Pagi ini kamu ke rumah sakit?"
"Oh, iya, hampir saja lupa. Aku permisi dulu, Pa."
Bryan segera undur diri dari sana menuju kamar. Ia melirik sejenak ke taman, setelahnya ia segera bersiap-siap karena kasus yang akan ia tangani sangatlah penting. Sebagai seorang dokter, semua pasti ingin menjadi yang terbaik termasuk dirinya. Ia ingin membuat sang ayah, ibu dan istrinya bangga karena sudah menjadi bagian darinya.
"Ma, Zoya ke kamar dulu ya, mau menyiapkan pakaian Bryan. Biar dia nggak kerepotan."
"Ya sudah, sana gih."
__ADS_1
Di kamar, Zoya membuka lemari kaca milik suaminya. Ia mengambil kemeja biru lengan panjang, celana slimfit hitam. Kemudian ia memilih dasi hitam polos dan meletakknya ke ranjang. Ia merapikan selimut dan bantal. Zoya sedikit kelelahan dan duduk sebentar di ranjang sambil memijat kakinya. Bryan keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di pinggangnya. Ia mendekati Zoya yang sedang duduk dan belum menyadari kehadirannya.
"Sayang, jangan bikin Mama lelah ya."
Bryan melihat Zoya yang sedang mengurut kakinya. Dia duduk di samping Zoya membuat istrinya sedikit kaget.
"Kenapa?" tanya Bryan basa basi.
"Nggak ada kok, Mas mau berangkat kan. Itu bajunya udah aku siapin."
"Buat apa? Nanti kamu telat ke rumah sakit, Mas."
Karena gemas, Bryan merebahkan tubuh Zoya sampai terlentang di ranjang. Ia memanfaatkan momen itu untuk menyusupkan satu kakinya dan menyatukan bibirnya dengan bibir ranum milik Zoya yang begitu menggoda. Menjelajahi setiap lipatan bibir atas sampai membuat Zoya terengah-engah. Setelahnya Bryan bangun dan membaringkan tubuh Zoya. Ia memijat pelan dan mengomeli istrinya.
"Kalau ada apa-apa bilang, jangan disembunyikan, Mas nggak suka, Paham?" tanya Bryan lembut.
__ADS_1
"Maaf, aku hanya nggak mau kamu khawatir, pekerjaanmu tetap nomor satu." cicitnya kecil.
"Aku tidak mau bernasib sama dengan dokter di zaman dulu, demi menjaga sumpahnya ia sampai kehilangan anak dan istrinya. Sayang, aku akan tetap memprioritaskan keduanya."
Mendengar hal itu, Zoya sangat terharu dan memeluk tubuh suaminya dengan erat. Ia merasa sudah begitu berarti bagi Bryan. Ia sangat berterima kasih pada Tuhan, meski pertemuan mereka tidak begitu indah tapi semua memang tidak sslamanya pahit asal kita jalani dengan ikhlas dan sungguh-sungguh.
"Sekarang kamu istirahat ya," ucap Bryan bangkit. Tapi sebelum itu Zoya memberinya kecupan sebagai penyemangat. Bryan kaget dan menginginkan lagi tapi Zoya segera menyuruhnya memakai pakaian yang sudah ia siapkan.
"Setiap hari kau harus memberiku kecupan penyemangat, paham!"
Zoya tersenyum dan menganguk, "Mas, sini kupakaikan dasinya."
"Aku bisa sendiri."
Zoya menganguk lemah dan mengelus perutnya yang masih datar. Zoya tersenyum membayangkan jika perutnya sudah besar nanti. Dia pasti mirip badut berjalan. Namun, perasaan takut juga menghantuinya, apa suaminya akan pede berjalan dengannya di tempat umum. Tapi selama ini tidak ada yang mengetahui dirinya sebagai istri dari Bryan selain kalangan tertentu saja.
__ADS_1
-----