Belenggu Dalam Cinta

Belenggu Dalam Cinta
Bab 59 Keadaan Tentram


__ADS_3

"Mas kamu lupa ya, kamu baru boleh nengokin dia kalau sudah tiga bulan." kekeh Zoya mengerjai suaminya.


Sontak membuat semangatnya yang membara redup seketika. Ia tidak percaya jika ada aturan semacam itu. Andai saja dia tahu kalau sedang dikerjai, pasti akan sangat marah. Lagi pula suaminya ada-ada saja. Masa mengajaknya saat masih sore, biasanya juga mereka melalukannya saat semua penghuni rumah sudah tidur. Alasannya agar tidak diganggu.


"Yah, masa gitu sih sayang. Sekali pun nggak boleh?" tanyanya memelas.


Zoya menggeleng tegas. "Kalau Mama tahu usia kandunganku, pasti Mas juga bakalan diomelin siang dan malam." kekeh Zoya membuat tubuh Bryan lemas begitu saja.


Padahal niatnya sungguh benar, ia merindukan Zoya berada dalam rengkuhannya. Merasakan setiap napas dan erangan yang selalu berhasil membuatnya senang sebagai lelaki. Elusan tangan lembut dan lentik istrinya yang mengelus punggungnya dengan gerakan sensual. Membayangkannya saja sudah membuat Bryan turn on seketika.


"Mas, jangan mikir yang aneh-aneh." peringat Zoya saat melihat mata suaminya dipenuhi gairah yang membara, seolah ingin menerkamnya hidup-hidup begitu saja. Apa suaminya memang sangat begitu menginginkannya. Seketika Zoya merinding, ia ingat jika Bryan tidak bisa menahan nafsunya saat sudah sangat ingin. Ia selama ini tidak pernah menolak ajakan Bryan. Tapi kali ini ia sangat ingin menjahilinya.


"Sayang, beneran nggak bisa?"


"Apa aku pernah berbohong?" tanya Zoya membuat harapan Bryan pupus seketika.


Bryan menggeleng dan menghela napas lesu. Zoya terkekeh melihat suaminya yang begitu tersiksa. Ia memutuskan tidur sore. Zoya keluar dari kamar untuk membuat susu ibu hamil, tapi mertuanya juga berada di sana.


"Loh, Zoya. Kok di sini? Bukannya lagi main sama Bryan?" goda Nori.

__ADS_1


"Mama, jangan dengerin Bryan. Dia suka ngawur, dia malah tidur sekarang Ma."


"Aduh, kalian kenapa malu-malu kucing, sih?" tanya Nori gemas.


"Enggak, kok Ma." Zoya berdiri kikuk sambil menatap mertuanya dengan senyum kaku.


"Oh iya, mau ambil apa ke sini?" tanya mertuanya.


"Mau bikin susu, Ma."


"Oh, sebentar biar Mama buatkan."


"Ma, Zoya bisa kok, Zoya nggak mau merepotkan Mama."


Zoya menatap mertuanya dengan mata berkaca-kaca. Ia tidak tahu lagi harus mengatakan apa. Mertuanya begitu baik dan sangat memperhatikannya serta sang bayi. Ia memeluk Nori dari belakang, dan mengucapkan terima kasih karena sudah memperlakukannya dengan sangat baik. Pertemuan mereka yang awalnya tidak bersahabat, kini begitu bersahabat dengannya.


"Sayang, kamu temenin Mama yuk," ajaknya.


"Kemana, Ma?"

__ADS_1


"Ke taman belakang, Atau kamu mau kembali ke kamar?" goda Nori.


"Mama, enggak. Bryan udah tidur. Lagian dia tuh manja Ma, harusnya kan Zoya yang dimanjain. Ini malah kebalik." keluh Zoya sambil cemberut sebelum kemudian tertawa kecil.


"Dia persis sama Papa kamu dulu," kekeh Nori.


"Pantas saja, Ma."


"Biah jatuh tidak jauh dari pohonnya, kalau jauh berarti dia buah tiri." kekeh Nori.


"Mama, ada-ada aja."


"Mama sekalian mau menyiram tanaman," ucapnya.


"Ayok, Ma. Zoya juga mau nyiram bunga, apa mawar kemarin tumbuh dengan baik atau enggak."


"Lets go."


Mereka berdua pergi menuju taman belakang, Nori segera mengambil penyiram dan gunting. Dengan pelan, ia memberikan asupan air pada bunga-bunganya yang terlihat begitu indah. Apalagi mawar yang tempo lalu dipotong oleh Zoya kini sudah tumbuh tunas baru. Selain itu sudah terlihat beberapa putik yang masih kecil. Zoya sendiri melihat dari sebuah kursi karena ia baru diperbolehkan menyentuh bunga jika susunya sudah habis.

__ADS_1


------


Kalian mungkin kesal atas sikap Zoya karena begitu mudahnya baik sama Brian. tapi gais, aku selalu punya cara sendiri membalas Brian. kalian tunggu tanggal mainnya ya wkwkwkwkwkw


__ADS_2