Belenggu Dalam Cinta

Belenggu Dalam Cinta
Bab 20 Calon Menantu


__ADS_3

"Tentu saja, Ma. Memangnya siapa lagi yang akan membersihkannya."


"Baguslah. Apa kamu memasak sendiri? Banyak sekali stok makanan di kulkas."


"Ma, apa sekarang lagi musimnya mengintrogasi atau inspeksi mendadak?"


"Anggap saja begitu, lagi pula Mama senang jika kamu memasak makanan untuk dikonsumsi sehari-hari biar makin sehat."


"....."


"Ya sudah, Mama tutup dulu panggilannya, Mama mau menjelajahi semua ruangan di sini."


Di seberang, Bryan sudah ketar ketir. Ia takut ibunya akan memeriksa setiap ruangan termasuk ruangan yang dihuni oleh Zoya. Di saat seperti ini, dia sangat membutuhkan Zoya memiliki ponsel. Salahnya juga kenapa tidak memberikan istrinya sebuah ponsel. Ia hanya berharap Zoya ahli dalamenghilang atau semacamnya. Karena jika ketahuan dia sudah memiliki istri, maka keluarganya tidak akan tinggal diam. Nori mulai menjelajahi setiap ruangan.

__ADS_1


"Rapi juga kamar putraku," ucapnya.


Nora kini sudah berada tepat di depan kamar Zoya. Gadis itu segera menguncinya tadi sejak Nori masih di kamar Bryan.


"Ruang apa ini? Kenapa dikunci?" tanya Nori bingung. Ia kembali menelpon putranya.


"Ada apa lagi, Ma?"


"Ini, Mama sekarang sedang berada di depan sebuah ruangan. Kenapa dikunci? Di mana kuncinya?" tanya Nori beruntun.


"Kenapa bisa entah kemana. Kamu benar-benar ceroboh. Jangan biasakan ada ruangan kosong di apartemen, tidak baik."


"Iya, Ma. Kapan-kapan Bry bersihkan."

__ADS_1


"Ya sudah kalau begitu, Mama sudah puas berkeliling, nanti malam jangan lupa datang ke rumah. Mama mau ngenalin kamu sama anak teman Mama. Dia sangat cantik sayang."


Di dalam,Ziya yang mendengar percakapan itu, sedikit melengos mendengarnya. Apa Bryan akan menikah atau dinikahkan, lalu dirinya akan menjadi wanita simpanan yang tidak akan terdeteksi keberadaannya. Bahkan hal itu jauh lebih sadia dari ekspektasinya selama ini.


"Kenapa hatiku sangat sakit mengetahui semuanya. Apa Bryan akan membuangku saat dendamnya sudah terbalas? Hati, mengapa ronggamu begitu mudah dilukai dan terluka."


Zoya duduk di lantai sambil menatap langit-langit kamarnya dengan sendu. Nasib memang tidak pernah ada yang benar-benar baik. Ada saat di mana semuanya berada di titik paling remdah dalam hidup. Seperti yang Zoya alami, hidup yang awalnya seindah negeri wonderland, kini hancur luluh lantak. Dulu sebuah penderitaan yang sering dibicarakan, kupikir tidak benar-benar ada. Yang kupikirkan hanya mereka yang tidak pernah bersyukur dan hanya mengeluh mengenai hidup. Kini Zoya paham mengenai makna sebuah derita.


"Bagaimana mereka menghadapi semua derita yang begitu menyesakkannya."


Zoya kembali mengenang kisah masa lalunya, ia tersenyum dengan air mata yang terus membanjiri wajahnya. Masa di mana ia makan malam bersama Bryan dan kedua orang tuanya. Bagaimana rekasi ibu dan ayahnya yang begitu senang saat kuperkenalkan dengan pria yang bisa meluluhkan hati putrinya. Zoya menangis sampai hatinya merasa membaik. Ia berjanji, tidak akan pernah menangis lagi. Tapi nyatanya hati dan perasaannya masih saja sama. Masih begitu lemah.


Bryan melewati toko ponsel dan memutuskan singgah sebentar. Ia melihat sebuah ponsel samsung S10 yang begitu sesuai dengan Zoya. Gadis itu menyukai warna yang cerah dan lembut.

__ADS_1


"Dia akan menyukai warna ini," ucap Bryan. Ia segera menyuruh pekerja di sana membungkus ponsel tersebut dan segera membawanya pulang bersamanya.


 


__ADS_2