Belenggu Dalam Cinta

Belenggu Dalam Cinta
Bab 38 Ngidam Es Krim


__ADS_3

"Tunggu, aku ganti baju dulu," ucapnya dan berlari kecil sampai membuat mertua dan neneknya hampir jantungan karena perbuatannya.


"Zoya, tidak perlu berlari, Bryan akan menunggumu!" teriak mertuanya dan Zoya baru sadar. Ia terkekeh pelan dan langsung berjalan menuju kamarnya.


"Ya Tuhanku, dia hampir saja membuat jantung Mama copot."


"Sama, Ma."


"Pokoknya nanti di kantor kamu harus menjaganya dengan ekstra, jangan sampai dia kenapa napa." peringat ibunya tegas. Bryan menganguk paham dan muncullah Zoya dengan pakaian rapinya.


"Ayo!" ajak Bryan. sebenarnya Bryan khawatir karena di rumah sakit tidak ada yang mengetahui mengenai pernikahannya dengan Zoya. Ia juga takut jika Zoya akan drop, apalagi citranya di sana sudah rusak akibat ulah dirinya.


Zoya tiba-tiba teringat sesuatu. "Bryan, turunkan aku di sini."


Kening Bryan terangkat mendengar penuturan istrinya barusan.


"Kenapa di sini? Bukankah kau bilang mau ikut ke rumah sakit denganku?" tanya Bryan heran.


Ziya menggeleng, "aku masih waras untuk melakukannya. Aku hanya ingin bermain di taman."

__ADS_1


Mendengar itu Bryan mengembuskan napasnya pelan dan menggeleng kepalanya. Tidak habis pikir dengan jalan pikiran istrinya yang terkadang susah dijangkau oleh akal sehatnya. Kalau hanya ingin ke taman, Bryan bisa menemaninya.


"Aku tidak bisa membiarkanmu sendirian di sini, Mama juga sudah mengamanahkan kau padaku. Jangan aneh-aneh!" tegurnya.


"Aku hanya ingin bermain, aku bosan di rumah dan aku bosan hidup!" teriak Zoya yang seketika menangis terisak.


"Jangan pernah katakan hal aneh lagi. Brasn menelpon seseorang dan izin telat masuk ke rumah sakit karena beberapa hal.


"Kemana lagi selain ke taman."


"Padahal aku bisa sendirian."


"Apa kamu akan sedih jika aku meninggal nanti?" tanya Zoya serius. Wajahnya terlihat memamerkan senyum indah sampai membuat Bryan lupa cara bernapas dengan benar.


"Jangan aneh-aneh, aku tidak akan bersedih karena tidak akan membiarkanmu mati."


"Kamu benar, aku lupa akan fakta itu." Zoya menganguk lalu membuang jauh pandangannya.


"Sudahlah, kau mau kemana? Jangan memancing emosiku dengan topik anehmu. Aku akan menemanimu seharian sampai kau puas."

__ADS_1


"Aku mau ke taman yang terdapat danau di sana."


"Apa kau mau melompat?" selidik Bryan membuat ia tertawa terbahak.


"Apa kamu lupa, aku sedang mengandung anakmu, aku tidak akan melakukan apa pun yang bisa membahayakan dirinya. Nanti setelah dia lahir, baru aku akan memikirkannya." kekeh Zoya.


Bryan yang sudah teramat kesal segera ******* kasar bibir istrinya yang suka membuat jantungnya berdetak tidak karuan karena cemas berlebihan. Tidak tahukan istrinya, ia sangat takut jika Zoya sampai melakukan hal aneh yang bisa membuatnya gila.


"Sekali lagi kau mengatakan hal itu, aku akan menghukummu dan mengurungmu!" ancamnya kesal dan segera keluar dari mobil setelah memarkirkan kuda besinya.


Zoya tertawa kecil melihat wajah suaminya. Sekarang ia suka menggoda suaminya karena terlihat sangat lucu dan menggemaskan. Apalagi jika sedang marah. Zoya masih mengingat setiap ******* yang ia rasakan tadi, suaminya melampiaskan penuh emosi.


"Ayo turun, kita sudah di taman sejak tadi tapi kau terus mengoceh tidak jelas."


"Ayo! Aku mau makan es krim dan permen gula."


"Apa kau masih anak-anak!" kesalnya tapi tetap menuruti keinginan istrinya. Bryan ingat perkataan ibunya mengenai wanita hamil yang ngidam. mungkin istrinya sedang dalam fase ini.


 -----

__ADS_1


__ADS_2