
Bryan sudah berada di kantor polisi dan melaporkan kehilangan istrinya. Ia juga memberikan barang bukti ponsel milik Zoya yang ia temukan di taman. Laporannya segera diproses dan dilakukan pencarian.
"Jantungku masih sakit," ucap Zoya meringis. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling dan tempat itu terasa asing baginya.
"Di mana ini?" tanyanya pada diri sendiri.
Lalu seseorang masuk dan tersenyum lembut. Zoya merasa tidak pernah bertemu sebelumnya. Gadis itu membawa sebuah nampan dan meletakkannya di atas nakas yang terbuat dari bambu.
"Kamu sudah sadar, syukurlah."
"Saya berada di mana?" tanyanya sambil memegangi jantungnya.
"Kamu ada di rumah saya, maaf jika kamu kaget tapi orang tuaku membawamu kemari setelah mengetahui jika kamu dokter spesialis jantung."
"Memangnya kenapa dengan hal itu?" tanya Zoya penasaran. Ia melihat racikan yang terletak di nakas dan menanyakannya. "Apa ini?"
"Itu ramuan herbal untuk mengobatimu."
__ADS_1
"Saya tidak bernai meminumnya karena sedang mengandung." tutur Zoya sopan.
"Ah, Ibu sudah tahu mengenai hal itu, dan ramuan ini 100% aman untuk ibu hamil."
Mendengar itu, Zoya pun segera meminumnya, ia tidak mau jika orang yang sudah mengobatinya menjadi tersinggung. Ia tidak mau hal itu sampai terjadi.
"Sebenarnya kalian ini siapa?" tanya Zoya yang sejak tadi sangat penasaran. Ia juga memperhatikan rumah yang begitu sederhana tapi terasa nyaman baginya.
"Kami penduduk miskin yang tidak bisa merasakan berobat di rumah sakit." tutur mereka dengan nada lemah.
"Kenapa bisa begitu? Bukankah ada BPJS? Semua kalangan yang tidak mampu bisa menggunakan layanan BPJS."
"Apa aku bisa melihat adikmu? Dia divonis sakit apa?" tanya Bianca serius.
"Boleh, Ibu sedang mengobatinya di dalam, aku tidak tahu adikku menderita penyakit apa."
Zoya mengikuti langkah gadis itu menuju sebuah kamar. Sebelum masuk gadis itu mengetuk pintu dan sang ibu mempersikakannya masuk. Ia datang bersama Zoya dan ibunya menyambut hangat dan menyuruhnya duduk. Mata Zoya menelusuri anak kecil yang terbaring lemah. Ia pun segera mengamatinya. Selain itu, ia juga melihat cara pengobatan yang diberikan oleh ibu dari anak tersebut.
__ADS_1
"Sudah berapa lama kondisinya begini, Bu?" tanya Zoya prihatin.
"Sudah dua tahun," jawabnya dengan tatapan sedih. Hanya itu satu-satunya cara ia bisa menyelamatkan anaknya.
Zoya segera melihat ciri-ciri dan gejala yang ditunjukkan oleh anak tersebut.
"Kondisinya sangat memprihatinkan, jika tidak segera ditangani oleh medis ia bisa mengalami gagal jantung dan meninggal dunia." terang Zoya seketika membuat sang ibu memangis menderu.
"Apa yang harus saya lakukan dokter, saya hanya orang miskin yang tidak akan ditangani oleh rumah sakit mana pun." isaknya, Zoya sangat sedih mendengarnya.
Ia pun berpikir keras untuk bisa membantu wanita yang sudah menyelamatkannya. Ia berpikir apa suaminya mau membantu sang ibu, tapi ia harus bisa meyakinkan bagaimana pun caranya.
"Saya akan merekomendasikan rumah sakit yang bisa mengoperasinya. Saya berjanji akan membuat anak ibu bisa ditangani dengan baik tanpa biaya."
Mendengar hal itu, sang ibu segera bersujud membuat Zoya kaget. Ia membangunkan sang ibu dan memeluknya. Ia merasa Zoya seperti malaikat yang diturunkan oleh Tuhan untuknya. Ia yakin jika Zoya adalah jawaban dari Tuhan atas doa'doanya selama ini.
"Sekali lagi terima kasih," ucapnya pada Zoya.
__ADS_1
-----