Belenggu Dalam Cinta

Belenggu Dalam Cinta
Bab 45 Kasih Sayang Mertua


__ADS_3

"Mbak Zoya, Non."


"Biar saya aja yang ngantar Bi, saya juga kebetulan mau ke atas."


"Apa nggak apa-apa, Non?" tanyanya.


"Aman, Mbok rehat aja ya."


Sebenarnya ia merasa heran karena selama ini belum pernah sekali pun Lekka berbuat baik padanya, apalagi sampai menawarkan bantuan. Tapi ia tidak ambil pusing karena itu bukanlah urusannya sama sekali.


"Makasih, Non."


Lekka mengibaskan tangannya dan setelah memastikan tidak ada lagi orang di sana. Ia mengambil sesuatu dari dalam sakunya dan memasukkannya ke dalam minuman. Ia segera mengantarnya.


"Bry, ini tehnya."


Bryan membuka pintu dan mengernyit melihat keberadaan Lekka di sana. "Kenapa kamu yang antar?"


"Tadi Mbok sakit perut, kebetulan aku di sana jadi sekalian aja kubawa ke sini."


"Ya sudah, terima kasih."

__ADS_1


Lekka tersenyum setelah pintu tertutup. Perasaannya begitu senang karena sebentar lagi Zoya akan keguguran dan Bryan akan menceraikannya. Itulah yang saat ini ada dalam pikirannya. Andai dia tahu siapa yang meminum tehnya, pasti tidak akan sesenang sekarang. di dalam, karena Zoya sudah tidur lelap, akhirnya yang meminum adalah Bryan. Ia meneguk rakus dan perlahan mulai merasa kantuk yang luar biasa, sampai matanya tidak bisa lagi diajak kompromi.


"Besok hanya tinggal mendengar kabar baik," ucapnya dan berlalu dari sana.


Lekka sangat bahagia sampai Nori heran melihat tingkahnya. Apalagi gadis itu datang dari arah kamar Zoya dan Bryan. Ia menatap curiga dan segera mengintrogasi, tapi Lekka berkelit jika ia sedang dapat lotre yang ia mainkan. Tentu saja alasannya tidak dipercayai oleh Nori tapi malas berdebat dan memilih pergi dari sana.


"Tante nanti kutraktir kalau sudah cair."


"Tidak perlu, Tante sibuk, Kamu traktir aja si Mbok."


"Ah, baiklah. Lekka ke kamar dulu Tante."


Nori menggeleng dan pergi menuju kamar ibunya yang sedang ingin dipijat karena punggungnya sakit. Nori lebih memilih mengurus ibu mertuanya sendiri dari pada menyerahkannya kepada pelayan. Di tangannya juga terdapat minyak kayu putih dan minyak urut. Karena ibu mertuanya sangat rewel jadi ia membawa dua pilihan.


"Ma, masih sakit?" tanyanya.


"Masih, badan Mama rasanya kayak diremas."


"Apa Mama mau disuntik sama Bryan?" tanyanya.


"Enggak lah, Mama takut sama jarum suntik, duluan pingsan Mama sebelum jarumnya nyampek ke kulit."

__ADS_1


Nori tertawa mendengarnya, ia pun segera menyingkap baju sang mertua dan perlahan menggosok punggungnya. Nori pun mulai menceritakan Lekka, ia sejujurnya tidak menyukai dia tinggal di rumahnya tapi orang tuanya sedang berada di luar negeri. Ternyata sang ibu juga mengkhawatirkan Lekka, gadis itu terlalu provokatif dan suka mencampuri urusan orang lain. Di tambah mereka tahu jika Lekka menyukai Bryan.


"Aku khawatir kalau Zoya sampai kenapa-napa, Ma."


"Mama juga takut, apalagi makin ke sini Zoya itu terlihat wanita baik-baik."


"Iya, Ma. Nori juga berpikiran seperti itu."


"Terus apa yang harus kita lakukan, Ma?"


"Apa mereka kembali saja ke apartemen? Nanti biar kita saja yang menjenguk Zoya kalau Bryan pergi bekerja."


"Nggak, Ma. Nori kurang setuju dengan ide tersebut. Kita nggak selalu bisa ke sana Ma. Nanti kalau terjadi apa-apa sama kandungannya kan bahaya, Ma."


"Benar juga," ucap Mertuanya.


"Ma, apa kita pekerjakan seorang pelayan khusus memantau Zoya. Tapi tidak ada yang boleh mengetahuinya. Cukup kita aja yang tahu."


 


gais maaf semalam aku nggak update karena habis perjalana keluar kota dan aku tepar banget. mana aku puasa kosong lagi dan nggak punya tenaga huhuhuhu. maafkan yhhh

__ADS_1


__ADS_2