
"Yakin tidak mau ditemani sama suami?" tanya Bryan sambil menggoda Zoya. Padahal matanya saja masih lima watt.
"Mas, kamu lanjut tidur lagi, mata kamu sangat mengerika. Sudah kayak jombie. Kamu pasti lelah kan."
"Lelahnya langsung hilang kalau Mas dipeluk sama kamu." bisik Bryan membuat mata Zoya membola sempurna. Ia segera melipir ke kamar mandi karena jika terus melayani suaminya, ia bisa saja buang air kecil di dalam kamarnya.
"Sayang apa kamu malu?" tanya Bryan dan kembali merebahkan badannya ke atas ranjang. Matanya kembali tertutup karena ia masih sagat mengantuk. Matanya terbuka lebar saat mendengar Zoya yang berkata akan pergi. Ia sangat takut apabila istrinya benar-benar pergi peninggalkannya. Apa yang harus dia perbuat jika semua menjadi kenyataan, ia pasti tidak akan bisa membayangkannya.
"Ah, lega juga." desah Zoya dan kembali menuju ranjangnya. Ia melihat Bryan yang sudah menutup kata dengan kaki menggantung sebelah. Zoya mendesah dan menggeleng pelan. Ia berjalan ke sisi yang satunya dan memperbaiki posisi kaki suaminya.
"Apa saking lelahnya sampai menaikkan kaki pun tidak bisa." ocehnya. Sedetik kemudian mata Bryan terbuka dan terlihat begitu sendu.
Bryan menepuk tempat di sebelahnya dan mengisyaratkan Zoya berbaring di sana. Ia menuruti dan segera kembali berbaring di sana. Bryan segera merengkuhnya dan menatap mata Zoya dalam seolah mengisyaratkan "aku lagi pengen." seketika membuat bulu kuduk Zoya merinding.
Ia sengaja menutup matanya dan memasukkan kepalanya dalam pelukan Bryan. Dada bidang suaminya yang sangat nyaman dijadikan sebagai tempat sandaran. Zoya tersenyum mengingat saat suaminya menyentuhnya dengan penuh cinta. Berbeda dengan saat pertama mereka berhubungan dulu.
"Kenapa?" tanya Bryan dengan suara serak.
Zoya sedikit kaget dan hanya menggelengkan kepalanya. Ia kembali tidur dalam pelukan hangat suaminya. Pria yang mengikatnya dengan tali pernikahan yang penuh duri, kini perlahan mulai memberinya cinta. Pria yang sejak dulu sangat ia cintai, kini pun masih tetap sama. Rasa yang tidak akan pernah bida luntur.
Bryan membuka matanya, ia tidak bisa lagi tidur karena sedang memikirkan sesuatu Sesuatu yang pernah ia sesali dulu tanpa berpikir panjang. Ia harus mengembalikan nama baik istrinya, tapi ia masih belum tahu caranya. Ditambah wanita yang tempo lalu begitu mirip dengan Donita, bahkan nama mereka juga sama. Seperti sepasang kembar.
"Apa Donita memiliki kembaran?" tanyanya dengan sangat pelan karena tidak ingin istrinya sampai mendengar.
Bryan menghela napas pelan dan mengembuskan kasar. Ia melepas pelukannya dan beranjak bangun. Zoya yang sejak tadi hanya menyamankan diri dalam dekapan Bryan membuka mata dan menatap kepergian suaminya sendu.
__ADS_1
"Apa kehadiranku dan bayi kita masih belum cukup membuatmu melupakannya?" tanya Zoya sedih.
Ia bangun dari ranjang dan menuruni anak tangga. Ia pergi ke belakang rumah, tepatnya ke taman mertuanya. Zoya menatap hamparan langit yang masih kelabu karena matahari masih belum menyingsing. Ia mengembuskan napas beberapa kali sampai merasa lega.
"Sayang, maafin Papa ya kalau nanti kita bukan prioritasnya." bisik Zoya sedikit serak.
Ia tahu bagaimana cintanya Bryan kepada Donita. Ia bahkan rela mencoreng nama baik tunangannya sendiri tanpa berpikir panjang. Bagi Bryan, siapa pun yang sudah membuatnya kehilangan, akan dibuat juga merasakan hal yang sama seperti yang dia alami selama ini. Inilah hal yang paling ditakuti oleh Zoya sendiri, ia takut jika kelak, anaknya harus merasakan apa yang pernah ia rasakan. Tanpa sadar Zoya menangis dalam diam. Bahkan dingin yang perlahan mendekapnya erat tidak lagi terasa.
Di kamar, Bryan keluar dari kamar mandi dan kaget karena tidak mendapati istrinya di sana. "Kemana dia?"
Bryan segera keluar dari kamar dan melihat pintu halaman belakang terbuka. Ia menyusuri tempat tersebut dan benar saja, ia melihat Zoya di sana. Bryan hendak memanggilnya. Namun, segera ia urungkan saat melihat bahu istrinya terlihat bergetar.
"Apa dia mendengarnya?" tanya Bryan bertanya-tanya. Ia perlahan mendekat tanpa berniat memberitahu kehadirannya.
"Anak Mama pasti bisa tumbuh kuat seperti Mama kan? Mama harap kamu lahir tidak menjadi sosok yang lemah, selama ini Mama hanya hidup karena belas kasihan orang lain Nak. Mama berharap kamu tidak akan pernah merasakannya. Cukup Mama saja yang menanggung semuanya. Demi kamu, Mama rela kalau harus mengorbankan segalanya termasuk menghilang dari hidup kalian. Nanti mungkin Papa dan kamu akan mendapatkan sosok yang jauh lebih baik dari Mama."
"Ah, maafin Mama ya. Malah curhat sama kamu." kekehnya dan segera beranjak pergi dari sana.
Di kamar, Bryan terus memutar kenangan buruk yang sudah ia berikan kepada Zoya. Istrinya sendiri. Wanita yang sejak lama sudah menjadi tunangannya. Namun, ia malah terlena dengan wanita dari masa lalunya, mengabaikan rasa cinta dan menghukum istrinya tanpa sebab yang jelas.
"Apa yang sudah aku lakukan kepada istriku sendiri, apa aku benar-benar seorang pria?" tanyanya.
Rasa takut akan kehilangan sosok wanita yang sudah menemani sejak zaman mereka masih pacaran. Tapi ia dengan mudah mencampakkan kekasihnya hanya untuk wanita dari masa lalunya. Menghancurkan nama baik dan karir serta perusahaan ayah Zoya. Mengusirnya dari rumah penuh kenangan, menyeretnya dalam pernikahan penuh derita.
Bryan termenung di dalam kamar. Zoya sendiri masuk dan menyapa suaminya yang masih terlihat melamun.
__ADS_1
"Mas," sapa Zoya menyentuh bahu suaminya sambil tersenyum.
"Sayang, kamu dari mana aja?" tanyanya dan terpaku pada senyuman itu. Senyum yang menyimpan berjuta luka tapi selalu ditutupi.
"Dari luar Mas, udaranya sejuk." kekehnya.
Bryan memeluk tubuh Zoya dan mencium perut istri dan mengusapnya. Zoya sontak saja bingung, apalagi bahu Bryan tampak bergetar. Suaminya menangis dan hal itu membuat Zoya merasa terenyuh. Ia pernah melihat suaminya menangis dan itu saat Donita dinyatakan meninggal.
"Mas," ucapnya.
"Sayang, Mas minta maaf ya. Selama ini sudah membuat kamu dan keluargamu menderita. Maafkan aku ya sayang."
Tangis Bryan pecah dan menangisi semua kesalahan yang pernah ia lakukan. Bryan tidak pernah menyangka hanya karena seorang wanita dari masa lalu mampu membuatnya menjadi pria brengsek.
"Mas, jangan seperti ini."
"Tidak sayang, Mas benar-benar minta maaf karena sudah membuatmu menderita."
"Mas."
"Sayang, kamu mau kan maafin Mas?" tanya Bryan dengan wajah yang penuh dengan sesal.
Zoya menganguk dan ikut menangis. Ia bahagia karena Bryan sudah meminta maaf kepadanya. Zoya sangat bahagia. "Mas, aku sudah lama memaafkan semuanya. Aku juga sudah melupakan apa yang pernah terjadi dulu. Semua karena aku sangat mencintaimu."
"Sayang, terima kasih banyak. Aku adalah pria paling beruntung yang pernah memilikimu. Terima kasih sayang."
__ADS_1
-----