
Mendengar hal itu Lekka pun segera pergi dari sana dengan persaan terluka. Ia membenci mereka semua yang berada di sana. Nori yang melihat kelakuan keponakannya hanya bisa menggeleng heran dan kembali melanjutkan pertanyaan yang sempat tertunda. Dia jauh lebih tertarik dengan cerita menantunya.
"Jadi, apa yang terjadi?" tanyanya
"Aku merasa jantungku sakit, lalu jatuh pingsan Ma. Terus ada orang yang membawaku dan aku tidak tahu lagi aku dibawa kemana. Sampai aku terbangun di sebuah rumah kumuh. Mereka merawatku seharian di sana." jelas Zoya menceritakan semuanya.
"Ya tuhan, mereka baik sekali. Tapi kamu benar nggak apa-apa?"
Terlihat Nori bersyukur karena menantunya baik-baik saja tanpa kurang suatu apa pun.
"Lalu Ma, keluarga tersebut mempunyai anak yang memiliki penyakit jantung dan hanya dirawat mandiri tanpa medis. Zoya sangat ingin membantu mereka." terang Zoya dengan wajah sedih.
Bryan yang mendengar hal itu pun segera menanyai lebih lanjut mengenai kondisi anak tersebut. Zoya pun menjelaskan secara rinci sampai membuat mereka yang ada di sana terpana dan miris.
"Aku berjanji kepada mereka jika aku akan membantu bagaimana pun caranya." Zoya tiba-tiba terisak dan menangis karena sudah menjanjikan sesuatu yang belum tentu bisa ia tepati.
"Ya sudah, nanti kita akan menemui mereka di rumahnya. Kamu masih ingat kan di mana rumahnya?" tanya Nori menenangkan Zoya.
__ADS_1
"Masih, Ma."
"Bagus, kalau begitu besok kita ke sana."
"Ma, biar Bryan yang urus bersama Zoya."
"Yakin?"
"Yakin, Ma. Yakin kan sayang?" tanya Bryan membuat Zoya salah tingkah.
"Ya udah, sekarang bawa Zoya ke kamar. Dia pasti lelah, Mama nggak mau kalau sampai Zoya kelelahan dan bisa menyebabkan cucu Mama dalam bahaya."
"Jangan memanggilku seperti tadi." bisik Zoya.
"Seperti tadi? Maksudmu sayang?" goda Bryan . lagi-lagi berhasil membuat wajah Zoya blusing.
"Apa kau kepanasan? Wajahmu sangat merah sayang."
__ADS_1
"Jangan begitu, aku malu."
"Kau istriku, wajar saja kalau kupanggil sayang." kekeh Bryan yang seketika membjat tawa Zoya berhenti. Ia menatap Bryan sejenak lalu masuk ke kamarnya.
"Kau kenapa?" tanya Bryan saat menyadari raut wajah Zoya yang tampak murung.
"Nggak ada kok, aku baik-baik aja," ucap Zoya tersenyum dan merebahkan tubuhnya ke ranjang.
Ia menutup matanya dan setitik air mata lolos. Saat ini ia terbuai dengan manisnya kata pernikahan dan ikatan suami istri tanpa menyadari landasan terbangunnya rumah tangga mereka. Seolah sang cabang bayi mengerti apa yang dirasakan ibunya, Zoya mual dan segera menuju toilet. Ia muntah beberapa kali sampai tubuhnya lemas tak berdaya. Bryan membantunya mengurut tengkuk tapi mual itu tidak kunjung reda.
"Bry aku nggak sanggup lagi jalan." bisik Zoya lemah.
Bryan segera menggendongnya. Ia menyuruh pembantunya membuatkan teh hangat. Zoya meraih tangan Bryan dan meletakkan di perut. Hal itu berhasil membuat rasa mualnya menghilang. Ia segera tidur dalam rasa nyaman yang ia sendiri tidak tahu akan bertahan lama atau tidak. Memikirkannya saja membuat Zoya sedih.
"Apa ini membuatmu nyaman?" tanya Bryan sambil mengusap perut Zoya.
Zoya hanya mampu menganguk pelan, ia terlelap karena terlalu kelelahan. Lekka yang melihat pembantu tersebut segera menanyakan untuk siapa minuman tersebut.
__ADS_1
--------
Jangan lupa ramaikan, semakin ramai kalian semakin semangat uodatenya ahahahahahahahahha.