Belenggu Dalam Cinta

Belenggu Dalam Cinta
Bab 27 Keram


__ADS_3

Di sinilah Zoya berada, di rumah besar keluarga Bryan yang lebih layak disebut istana. Zoya sebelumnya belum pernah melihat rumah keluarga suaminya karena ini untuk pertama kali. Dia disambut oleh keluarga besar Bryan dengan tatapan dingin, hal itu membuat ia tidak nyaman. Sedangkan Bryan enggan peduli padanya dan memilih meninggalkannya dengan tatapan dingin dan kebencian


"Tante, dia istri Bryan? Jelek banget." bisik salah satu gadis yang diketahui sebagai sepupu Bryan.


"Tante juga stres melihatnya, tapi dia sedang mengandung jadi belum bisa diceraikan oleh Bryan."


"Ya Tuhanku, jangan-jangan dia menggunakan jampi-jampi untuk menggaet Bryan Tan."


Nori menatap Zoya dengan wajah kesal. Sedangkan Zoya berusaha menguatkan hatinya dan tetap duduk di sana dengan tenang. Meskipun sebenarnya, dia ingin segera pergi dari sana. Akan tetapi ia tidak mungkin melakukannya karena tidak akan sopan. Meski mereka tidak menyukainya, setidaknya Zoya tidak menghilangkan rasa hormatnya sebagai seorang perempuan dan menantu di keluarga ini.


Mata Zoya terpaku dengan wanita yang udinya tidak lagi muda. Melihat itu, Zoya mendadak teringat dengan almarhum neneknya yang sudah lama meninggal. Ia mendekati wanita yang dipanggil opa oleh keluarga di sana.

__ADS_1


"Nenek," sapa Zoya lembut.


Sang nenek terlihat cuek dan enggan merespon Zoya. Tapi Zoya punya cara ampuh untuk membuat wanita itu berbicara dengannya.


"Nenek kenapa tidak bergabung bersama mereka?" tanya Zoya mencoba memulai membangun percakapan.


Wanita tua itu malas meladeni Zoya, ia memilih pergi dari sana dengan langkah tertatih pelan. Zoya melihatnya dengan wajah sedih. Sekitar dua jam ia duduk di ruang tamu, nyatanya seperti di neraka. Mereka menyambutnya hanya untuk mengintimidasinya dan semuanya terlihat sangat kentara.


"Apa kau tidak nyaman bersama mereka?" tanyanya sedikit sinis.


"Bukan begitu, tapi aku benar-benar sedang lelah."

__ADS_1


"Kamarku di lantai dua, ada tulisan di depan kamar."


Zoya menganguk dan segera permisi pada mereka yang ada di sana. Kepergiannya ditatap sinis oleh mereka dan jadilah dirinya bahan ghibah malam itu. Bryan enggan meluruskan, ia senang mengetahui istrinya mendapat respon negatif dari keluarga besarnya. Dengan begitu ia bebas menyiksa Zoya karena tidak akan ada yang melarangnya.


"Bry, kenapa kamu harus menikah dengannya? Bukannya dia yang sudah membunuh Donita? Tante bahkan tidak tahan melihat wajah polosnya. Menjijikkan sekali." cibir wanita yang tidak begitu tua yang diketahui sebagai adik dari ibunya.


"Sudah jodoh, Tante. Kalau gitu Bryan ke kamar dulu."


Sesampainya di kamar, Bryan segera melempar satu bantal dan selimut tipis pada Zoya. "Kau tidur di sofa."


Zoya tidak membantah sama sekali, ia mengambil bantal dan segera membaringkan diri di sofa. Sesekali perutnya terasa keram, Zoya yang tidak tahu apa yang terjadi padanya tiba-tiba menangis menahan sakit di perutnya. Hal itu menganggu Bryan yang hendak tidur nyenyak, ia kesal dan segera menghampiri Zoya yang memegangi perutnya.

__ADS_1


"Bryan, perutku sakit," isak Zoya ia hendak bangun, tetapi caira merah segar tampak mengalir dari pahanya. Hal itu membuatnya menangis sedangkan Bryan segera memanggil dokter pribadinya. Ia memindahkan tubuh Zoya ke ranjangnya. Memindahkan bantal serta selimut. Di sana wanita itu memeriksa kondisi Zoya, juga disaksikan oleh keluarganya.


__ADS_2