
"Gimana kalau kamu juga ikutan, ayo!" ajaknya.
Zoya berdiri di sisi lain dan memperhatikan suaminya yang sedang melakukan pertolongan pertama pada beberapa pasien yang mengalami kecelakaan saat bersepeda. Mereka ditabrak oleh sebuah truk dari arah belakang. Diketahui supir tersebut sedang dalam pengaruh alkohol.
"Tolong panggilkan Dokter Andri." perintah Bryan kepada seorang suster.
"Baik, Dok."
Beberapa menit kemudian, dia kembali dengan kabar yang tidak menyenangkan. "Maaf, Dokter. Beliau juga sedang menangani operasi yang memakan waktu lama."
Zoya yang melihat mereka tampak sangat kerepotan pun mengajukan diri untuk ikut membantu. Mereka yang berada di sana rata-rata orang baru. Jadi tidak mengenal sepak terjangnya dan menganggapnya hanya sebagai orang biasa. Sedangkan Bryan tersenyum senang dan meminta seorang suster untuk memberikan peralatan yang dibutuhkan oleh Zoya.
"Maaf, Dokter tapi beliau tampak tidak berpengalaman." seorang dokter residen berkata karena keberatan dengan apa yang sedang dilakukan oleh atasannya. Meski mereka sedang dalam kondisi terpepet, tapi tidak etis rasanya membiarkan orang asing menangani pasien mereka.
"Lihat dan belajarlah!" tekan Bryan dan ia kembali fokus pada pasien berikutnya setelah selesai dengan pasien pertama.
"Baik, Dok."
Zoya segera menyeterilkan kedua tangannya. Setelah selesai ia menangani seorang pasien yang diketahui sebagai ketua dari klub bersepeda tersebut. Ia terus-terusan menangis karena tidak bisa menolong teman-temannya.
"Pak, jangan menangis, jika menangis, kondisi Anda akan drop. Tarik napas pelan, saya akan memeriksa Anda ketika sudah tenang."
Residen wanita yang bernama Citra tampak melihat remeh kepada Zoya karena hanya mampu menangani pasien yang terlihat baik-baik saja. Ia hanya memberikan intruksi sederhana yang bahkan bisa dilakukan oleh mahasiswa kedokteran. Pikirnya tanpa mengetahui apa pun.
"Lakukan CT Scan pada pasien ini." perintah Zoya pada dokter residen tersebut.
"Saya rasa pasien tidak perlu di CT Scan karena kondisinya baik-baik saja."
Bryan yang mendengar hal teraebut segera beralih kepada istrinya dan melakukan pemeriksaan. Ia kini beralih kepada dokter tersebut dan menyuruhnya ikut memeriksa.
"Coba kamu periksa pasien ini."
Tanpa membantah dan tentu dengan kepercayaan yang tinggi, ia memeriksa dan tidak menemukan hal aneh apa pun di sana. Ia kemudian menjelaskan jika pasien dalam kondisi yang baik-baik saja tanpa perlu dilakukan CT Scan. Bryan tersenyum miring dan beberapa saat kemudian matanya menatap dokter tersebut tajam. Ia memanggil seorang suster dan memintanya membawa pasien ke ruang CT Scan sesuai permintaan Zoya.
__ADS_1
"Kalau kamu mau menjadi dokter di rumah sakit ini, perbaiki lagi sikapmu! Jangan pernah menyepelekan apa pun kemungkinan kecil sedikit pun, bisa jadi kemungkinan kecil yang kamu remehkan menjadi malapetaka bagi paisen, paham!" tekan Bryan. Kemudian ia kembali ke tempatnya semula.
Selagi menunggu hasil CT Scan keluar, Zoya membantu lagi salah satu pasien yang belum mendapat penanganan. Ia tampak kesulitan bernapas, Zoya segera mengambil alat intubasi dan memasangnya. Ia meminta bantuan kepada seorang suster yang sedang lenggang. Dari kejauhan dokter residen tadi melihat bagaimana cara Zoya menangani pasien.
"Sus, tolong bantu saya sebentar." pintanya.
"Baik, Dokter Zoya."
Zoya sedikit kaget karena suster tersebut mengetahui namanya. Lalu suster itu tersenyum dengan mata berbinar.
"Syukurlah, Dokter Zoya kembali lagi kemari. Kami para suster sangat kehilangan dokter terbaik di rumah sakit ini."
Mendengar hal itu, Citra yang sejak tadi yang dekat dengan mereka pun dibuat terkejut. Ia lalu teringat dengan berbagai gosip di rumah sakit ini. Mengenai dipecatnya dokter terbaik dengan cara tidak hormat. Ia buru-buru berlari ke arah Zoya dan memintanya ikut membantu.
"Dokter, apa saya boleh ikut membantu?" tanyanya.
"Tentu," jawab Zoya tersenyum.
Setelah bantuan diberikan, kini Zoya beralih memeriksa perut pasien tersebut dan menekan sisi kiri perutnya. Pria itu terdengar mengaduh kesakitan. Ia juga memeriksa denyut nadi pada pasien yang terdengar lemah.
"Citra, Dok."
"Oke, Citra tolong pasangkan oksigen pada pasien ini dan pantau terus kondisinya. Jika memburuk, suntikan obat ini per tiga puluh menit sekali."
"Baik, Dokter."
Zoya memutuskan istirahat saat kakinya terasa keram. Bryan yang juga sudah selesai menangani pasien ikut duduk di samping istrinya.
"Kamu kelelahan?" tanyanya lembut.
"Aku sudah lama tidak beraktivitas seperti ini, Mas. Makanya agak kelelahan."
"Mau istirahat sekarang?"
__ADS_1
"Aku mau menunggu hasil CT Scan dulu Mas. Kasihan pasien itu, kondisinya sedang tidak baik-baik saja. Telat penanganan sedikit saja, nyawanya bisa jadi taruhan."
"Ya sudah kalau begitu, tapi kamu jangan maksain diri ya Sayang. Ingat, kamu lagi hamil." bisiknya.
Citra tampak memperhatikan interaksi keduanya yang terlihat sangat intim. Ia jadi penasaran mengenai hubungan keduanya. Bukankah pimpinan rumah sakit ini sudah menikah. Apa mungkin wanita itu adalah istri dari atasannya. Citra menggelengkan kepala tanda tidak mungkin. Lagi pula berdasarkan rumor yang ia dengar, istri atasannya bukan seorang dokter. Ia harus menyelidiki hal ini. Pikirnya.
"Baik, suamiku." kekeh Zoya.
"Kalau begitu, Mas mau periksa pasien di bangsal sebelah, ya." Zoya menganguk.
Selang beberapa menit, seorang suster datang dan membawa hasil CT Scan yang tadi Zoya minta. "Dokter, ini hasilnya."
Zoya menyambutnya dan segera memeriksa setelah mengucapkan terima kasih. Suster tersebut tampak salah tingkah. Selama ia menjadi suster, tidak pernah sekali pun mendapat ucapan terima kasih dan ia juga tidak pernah memintanya. Bagi dia semua yang dia lakukan adalah bagian dari tugasnya sebagai perawat. Tapi dokter yang kini berada dihadapannya malah mengucapkan terima kasih. Ia merasa begitu sangat dihargai.
"Dokter," ucapnya.
"Iya, ada apa Sus?" tanya Zoya masih dengan melihat kertas di tangannya.
"Terima kasih," ucapnya dengan wajah berkaca-kaca.
"Untuk apa?" tanya Zoya mengalihkan tatapannya. Ia terkejut saat melihat perawat itu menangis. Apa dia melakukan kesalahan? "Kenapa kamu menangis?"
"Saya terharu karena Dokter baru saja mengucapkan terima kasih kepada saya."
"Suster lucu sekali, sudah kewajiban saya mengucapkan terima kasih saat seseorang melakukan pekerjaannya dan membantu saya." kekehnya.
Setelah itu, suster tersebut undur diri dari sana. Zoya tertawa kecil dan menggelengkan kepalanya. Ia kemudian kembali pada kertas tersebut dan diam sejenak. Tangannya terlihat bergetar karena yang tertera di sana adalah pasien tersebut mengalami gagal jantung dan kondisinya sudah sangat parah. Itu semua mengingatkan dia pada kasus Donita. Ia meletakkan kertas tersebut dan wajahnya terlihat pucat. Suster yang tadi, heran melihat reaksi Zoya dan kembali menghampirinya.
"Dok, apa Anda baik-baik saja? Apa perlu saya mengantar Anda ke ruangan?" tanyanya.
"T-tidak, Sus, tolong pasien itu diberikan kepada dokter lain ya. Saya tidak enak badan. Saya permisi." suaranya tampak bergetar dan semua terbayang dibenaknya.
---
__ADS_1
Catatan : Intubasi adalah prosedur medis darurat yang bertujuan memberikan bantuan pernapasan pada pasien yang mengalami kesulitan bernapas.