
Seharian mood Zoya tidak benar baik-baik saja. Ia saat ini sedang dilanda oleh dilema mengenai sikap Bryan tadi pagi. Ia uring-uringan dan hanya menghabiskan waktu di kamarnya saja. Bahkan makanan juga sampai di antar oleh pembantunya. Zoya menarik napas lelah dan kembali membaringkan tubuhnya. Ia melihat jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Tapi suaminya belum juga kembali.
"Sayang," panggil mertuanya dari luar.
"Iya, Ma."
Zoya berjalan lemah menuju pintu lalu membukanya. Nori membawa segelas susu dan tersenyum. Ia sangat tahu dengan kemalasan Zoya bukan sedang disengaja. Untuk itu ia membawa susu tersebut ke kamar menantunya.
"Mama lihat kamu mager turun. Jadi Mama bawakan susunya kemari."
Zoya melengos dan menatap mata mertuanya dengan memelas. Wanita itu masuk dan meletakkan susu tersebut ke atas nakas.
"Ma, maafkan Zoya ya. Zoya sedang malas gerak."
"Iya, Sayang. Mama paham kok, ibu hamil sering mengalami hal ini dan itu biasa. Jangan dipaksa kalau memang sedang malas."
"Mama memahamiku dengan baik, terima kasih Mama."
"Sama-sama sayang, oh iya. Bryan bilang, dia kemungkinan akan pulang terlambat karena pasiennya kali ini menghabiskan operasi yang memakan waktu lama."
Zoya semakin melengos, ia tersenyum singkat dan Nori pamit dari sana. Selesai dengan itu, Zoya meminum susunya sampai habis lalu kembali berbaring. Segala cara sudah ia lakukan untuk menghilangkan suntuk, tapi tidak juga kunjung reda. Perlahan-lahan mata Zoya mulai kuyu, ia tidur dengan posisi yang tidak karuan.
Di tempat lain, Bryan memandangi seseorang dengan tatapan tajam dan menusuk. Wajahnya mengingatkannya pada seseorang yang sejak lama masih bertengger di hatinya.
"Donita!" panggilnya pada sosok tersebut, tapi gadis itu terlihat tidak menyahut sama sekali. Bryan mengejar dan meraih tangannya. Gadis itu berbalik dan terkejut melihat seorang dokter tampan sedang mengejarnya. Ia sampai salah tingkah karena mengira yang tidak-tidak.
"Donita?" tanya Bryan sangsi.
"Ah, Maaf Dokter, nama Saya Danita bukan Donita."
"Maaf, saya pikir kenalan saya." Bryan sedikit kaget karena wajah dan namanya begitu mirip.
"Tidak apa-apa Dokter, apa saya bisa meminta nomor ponselnya?" tanyanya sambil tersenyum malu-malu.
Bryan menunjukkan sebuah cincin pernikahan yang melingkar di jari manisnya dan tersenyum. Ia segera pergi dari sana karena ia akan segera pulang. Bryan bertemu dengan satu rekannya yang juga sudah menikah .
__ADS_1
"Belum pulang?" tanyanya.
"Ini mau pulang, kau sendiri?" tanya Bryan sambil melihat jam tangannya.
"Sama, istriku pengen makan sate padang. Aku harus keliling dulu." kekehnya.
"Sudah berapa bulan?" tanya Bryan yang seketika teringat dengan istrinya di rumah.
"Memasuki tiga bulan. Dia juga rewel kalau aku tidak pulang. Selama hamil jadi manja." kekehnya. Ia juga menambahkan. "Aku duluan ya Bryan."
"Hati-hati."
Bryan seketika teringat dengan Zoya. Apa istrinya sedang memikirkannya atau sedang ingin makan ini itu? Bryan mengambil ponsel dan menghubungi Zoya. Namun, ia mengurunkan niatnya.
"Sudah sangat malam, bisa saja dia sedang tidur nyenyak."
Bryan kembali memasukkan ponselnya ke saku jas dan kembali menuju ruangannya. Dengan cekatan ia mengambil ponsel, lalu melepas jas dan menggantungnya pada gantungan baju. Ia mengambil tas serta kunci mobil, tidak lupa juga ia masukkan ponsel ke saku celananya. Sepanjang lorong ia disapa oleh beberapa suster yang berpapasan dengannya. Bryan membalas dengan senyum seadanya. Ia sangat lelah hari ini karena jadwal operasinya yang begitu padat dan memakan waktu yang lama.
Di sepanjang perjalanan, Bryan hanya memandangi hiruk pikuk perkitaan yang seolah tidak ada matinya. Semua orang terus menerus beraktivitas tanpa henti. Ia melihat sate padang di jalanan dan teringat pada istri temannya yang katanya sedang mengidam. Dia melihat antrian pembeli dan bisa ditebak jika rasanya sangat enak. Ia tidak jadi mampir karena sangat lelah dan ingin segera rehat di kamar.
Ia sudah sampai di kediamannya dan segera memarkirkan kenderaannya di garasi. Setelah selesai Bryan masuk dengan tubuh letih. Ia berjalan lunglai sepanjang rumah.
"Baru pulang?" tanya ayahnya yang masih berada di ruang tamu bersama dengan ibunya.
"Ia, Pa. Papa sama Mama belum tidur?" tanya Bryan sembari duduk di sofa dan merebahkan kepalanya pada sandaran sofa tersebut.
"Mama kamu katanya mau menunggu kamu pulang, jadi sekalian Papa menyelesaikan beberapa pekerjaan yang sempat terbengkalai."
"Oh,"
"Sayang kamu pasti sangat lelah, segera istirahat sana." perintah ibunya lembut.
"Kalau gitu, Bryan ke atas dulu ya Ma, Pa."
Keduanya menganguk dan Bryan menyeret kaki lelahnya menaiki satu demi satu anak tangga. Ia merasa anak tangga tersebut sangat banyak dan terasa jauh. Tapi dengan semangat yang tersisa, Bryan terus mendorong tekatnya.
__ADS_1
"Dia tampak sangat lelah," ucap Denni pada Nori yang sedang bersender pada bahunya.
"Ia, Pa. ada saat dia sangat kelelahan seperti sekarang. Banyak kehidupan manusia berada dalam tangannya."
"Ya sudah, ayo kita juga tidur."
"Ayo, Pa."
Bryan membuka pintu kamar dan melihat istrinya yang tidur dengan tidak karuan. Ia segera menutup pintu dan meletakkan tas pada sebuah sofa kecil. Perlahan ia mendekat pada Zoya dan membenarkan letaknya dan menyelimuti. Selesai dengan itu, Bryan menuju kamar mandi dan segera mandi. Selesai dengan itu, ia segera memakai bajunya dan di sisi lain Zoya menggeliat dan hampir saja jatuh dari ranjang.
Bryan refleks segera menangkap tubuh Zoya dan memeluknya erat. Napas teratur istrinya terlihat begitu damai dan menenangkan baginya.
"Ya Ampun sayang, hampir saja kamu kenapa-napa." desahnya dan kemudian menarik selimut dan ikut berbaring dengan menjadikan lengan sebagai bantalan sang istri. Ia mendekap tubuh Zoya.
Paginya, Zoya terbangun pukul lima dan merasakan otot kekar merengkuhnya dengan erat. Satu tangan suaminya melingkar di perutnya. Zoya menatap wajah damai Bryan yang terlelap tanpa dosa. Begitu terlihat tampan dan sangat menarik minatnya untuk terus menatapnya tanpa jemu.
Zoya meraih tangan Bryan yang masih lengket dan mencoba melepasnya. Tapi Bryan semakin membawa tubuh Zoya ke dalam pelukannya.
"Mas lepaskan aku kebelet."
Bryan hanya meracau dengan suara seraknya. Kini malah menyerukkan wajahnya ke leher jenjang Zoya sampai membuat wanita itu mematung karena bisa merasakan deru napas Bryan di sana.
"Bryan, lepaskan sebentar aku harus pergi." bisik Zoya membuat mata Bryan seketika terbuka.
"Pergi kemana? Jangan tinggalkan aku." derunya dengan suara serak. Matanya menatap Zoya dengan penuh sendu dan sedih.
"Lepaskan, aku mau ke kamar mandi."
Sontak Bryan terkekeh lega dan segera bangun.
"Mas, mau apa?" tanya Zoya horor.
"Katanya kamu mau ke kamar mandi, sini biar kutemani."
"Mas, jangan aneh-aneh, pergi sana aku bisa sendiri tahu."
__ADS_1
----