Belenggu Dalam Cinta

Belenggu Dalam Cinta
Bab 21 Siksaan Batin


__ADS_3

Bryan yang baru pulang dari rumah sakit segera mendatangi kamar Zoya. Namun, di sana Zoya terlihat baru saja selesai mandi dan masih mengenakan handuk hany sepanjang pahanya. Ia tidak menyadari kehadiran Bryan di sana. Bryan perlahan mendekat, ia mendadak panas dingin saat melihat tubuh Zoya yang begitu putih bersih dan mulus. Ia menelan salivanya dengan susah payah.


"Apa aku kurusan, tidak ada bra yang muat lagi. Mana cuma ada tiga," desah Zoya kebingungan.


Langkah Bryan tercekat mendengar kalimat tersebut. Ia segera berdehem sampai membuat Zoya kaget. Gadis itu sampai tersungkur ke ranjang dengan paha mulus serta dua gundukan kembarnya terekspos meski tidak begitu transparan. Bryan yang melihat hal itu spontan mendekati Zoya.


"Apa kau sedang berusaha menggodaku?" tanya Bryan dengn suara serak. Ia bisa merasakan sesuatu bergejolak di dalam celananya.


"Bukan, tidak, aku tidak berniat begitu. Aku kanget karena kamu datang secara tiba-tiba."


Bryan terus mendorong tubuh Zoya hingga ia sudah berada tepat di atas gadis itu. Zoya tampak tercekat saat bisa merasakan sesuatu mengenai pangkal pahanya. Bryan terus menekan miliknya yang mengeras.


"Apa kau bisa merasakannya?" tanya Brian sensual. "Kau harus bertanggung jawab karena sudah membangkitkannya Zoya."

__ADS_1


"A-aku tidak sedang menggodanya, maafkan aku Bryan." Zoya tampak begitu sangat gugup di bawah kungkungan Bryan.


Bryan semakin tidak bisa mengontrol nafsunya. Ia segera membuka pengait handuk Zoya dan meremasnya dengan pelan. Zoya yang kaget seketika memberontak.


"Tidak baik menolak suami," bisiknya seketika membuat Zoya sadar jika mereka suami istri.


"Tapi kamu tidak pernah mencintaiku, Bryan," cicitnya.


Suara decap penuh nikmat kian mengaur, membasahi setiap lekuk lipatan bibir keduanya. Sedangkan jemari Bryan terus memberikan sensasi aneh pada dua benda kenyal milik Zoya. Ia sampai menggelinjang saat Bryan menarik kasar nipel kemerahan. Anehnya, sensasi itu memberikan sebuah fantays liar di kepala Zoya. Ia menginginkn hal lebih dari hanya sekadar menjamah bagian atasnya.


Tangan Zoya perlahan turun menyusuri benda keras yang sejak tadi menarik perhatiannya. Ia mulai meraba disela celana kain yang digunakan oleh Bryan. Membukanya secar perlahan dan Bryan membantu meloloskan celana tersebut. Kini hanya tersisa celana bokser yang menutupi gundukan keras tersebut.


"Lingkarkan pinggamu Zoya," desah Bryan.

__ADS_1


Ia menuruti kemauan Bryan dan melingkarkan pinggangnya. Hal itu membuat milik Bryan menggosok permukaan milik Zoya dengan mudah meski masih dibalut kain. Ia memberikan sensasi menyiksa bagi Zoya sehingga membuatnya memohon untuk dimasuki olehnya. ******* menggelora perlahan keluar dari bibir Zoya. Ia mencengkrang kuat kaitannya dan menekan dalam pinggulnya. Jemarinya meremas rambut Bryan frustrasi.


"Bryan, aku ingin lebih." desahnya.


"Aku akan memberikannya tapi memohonlah padaku."


"Bryan, ahhh, a-aku mohon, emm."


Bryan malah semakin menyiksa Zoya sampai gadis itu kehilangan rasa malunya karena terus meminta dan memohon. Akhirnya Bryan pun menyatukan dirinya dengan Zoya. Ia tidak bisa merasakan kenikmatan saat berhubungan dengan Zoya. Mood nya mendadak buruk, Bryan segera mengakhiri sesinya setelah sempat membuang benihnya di sana dan meninggalkan Zoya di sana yang masih melongo.


"Ada apa dengannya?" tanya Zoya bingung.


 

__ADS_1


__ADS_2