
Bryan seolah menyadari jika perasaannya melemah. Perlahan tampak mulai peduli dengan Zoya, mengenai kehamilannya yang awalnya ia rancang hanya untuk mengelabui sang ibu. Akan tetapi, sekarang ialah yang dikelabui.
Beberapa saat kemudian, Zoya sudah selesai mandi. Ia yang lupa membawa baju ke dalam kamar mandi, keluar hanya dengan menggunakan handuk yang hanya menutupi Dada sampai kepala. Iya Mencoba keluar dengan perlahan, agar tidak mengganggu suaminya yang sedang serius melihat pada tab-nya. Saya tahu jika Brian sedang memegang tab-nya, artinya suaminya sedang bekerja dan tidak ingin diganggu. Karena sejak dulu begitulah pria itu. Zoya menarik nafas pelan, cara tidak menimbulkan riak suara yang bisa mengganggu konsentrasi suaminya. Iya tidak mau lagi jika Bryan mengancamnya.
"Aku harus cepat jika tidak Bryan akan marah." Gumamnya kecil.
Zoya memakai pakaiannya dengan cekatan sehingga Bryan tidak akan pernah menyadarinya. Setelah selesai ia segera duduk dan membiarkan pria itu yang menyadari kehadirannya.
Kok sudah selesai mandi, Kenapa tidak memberitahunya? Tanya Bryan sambil meletakkan tab-nya ke dalam tas dan menyimpannya.
"Apa ada yang ingin kau makan?" Tanya Brian saat mereka sedang menuruni sebuah lift.
"Tidak," jawab Zoya singkat.
__ADS_1
Bryan mengernyitkan keningnya, wanita hamil sangat banyak memiliki keinginan yang harus dituruti. Tapi jika istrinya tidak begitu Iya sangat bersyukur, setidaknya ia tidak akan repot. Saya tidak begitu mencintai Zoya. Baginya wanita satu-satunya yang sangat ia cintai hingga saat ini hanyalah Donita.
Sebenarnya Zoya sangat ingin makan rujak. Namun sebelumnya ia sudah berjanji pada Bryan jika ia tidak akan pernah meminta apa pun pada suaminya, untuk itu ia akan menahan keinginannya dan lebih memilih mengatakan jika ia sedang tidak ingin makan apa pun.
"Yakin?" tanya Bryan untuk memastikan.
Zoya menganguk saja, sejak tadi Bryan menguji kesabarannya. Ia tidak tahu apa kemauan pria itu, jika ia membernontak ia akan dibentak. Diam saja, juga dikatai tidak punya gairah hidup.
"Kenapa matamu menunjukkan hal lain."
"Di sini mana ada rujak, nggak ada sama sekali."
"Ya sudah kalau begitu, belikan saja apa yang ada."
__ADS_1
Zoya tampak lesu, dan tidak bersemangat karena Bryan sejak tadi merecokinya dengan macam-macam pertanyaan. Namun, saat ia menyuarakan isi hatinya, pria itu bilang menu itu tidak ada di daerah sini. Membuat mood-nya hancur saja.
"Yakin?" lagi-lagi Brayen menggodanya. Yaitu senang melihat wajah Zoya yang kesel.
"Terserah saja, Aku capek mau tidur."
Lagi-lagi Bryan tertawa menanggapi kekesalan Zoya. Saya sudah sangat dongkol dan memilih pergi dari sana menuju kamarnya. Perasaannya yang di permainkan, membuatnya tiba-tiba sangat sedih. Perlahan air mata keluar membasahi kedua pipinya. Hal itu membuat Bryan kelimpungan. Iya segera bertanya Mengapa Zoya menangis. Tapi istrinya tidak menjawab sama sekali, Bryan yang merasa bersalah pun meminta maaf. Namun, Zoya tidak menggubrisnya Iya terus melangkahkan kaki menuju kamarnya. Bryan yang melihat hal itu segera menghibur Zoya. Ia Minta maaf pada istrinya karena sudah mempermainkan nya. Ia pun segera membawa Zoya, ke tempat yang menjual rujak. Zoya mendadak berubah menjadi ceria. Iya memukul dada bidang Bryan.
"Tadi kamu bilang tidak ada! Kesel Zoya sambil merajuk."
"Aku senang menggodamu. Lagi pula kau sangat mudah menangis, Hal itu membuat orang lain senang mengganggumu."
"Itu karena mereka memang jahat, termasuk kamu." tunjuk Zoya kesal.
__ADS_1