Belenggu Dalam Cinta

Belenggu Dalam Cinta
Bab 7 Tatapan Cemasnya


__ADS_3

Bryan menatap cemas ke arah Donita yang sebentar lagi akan memasuki ruang operasi. Bagaimana jika apa yang ditakutkan olehnya menjadi kenyataan. Sudah siapkah ia kehilangan wanita itu untuk kedua kalinya. Ia bahkan meninggalkan Zoya untuk bersama Donita. Lalu bagaimana jika kekasihnya meninggal di meja operasi. Bryan sangat takut kehilangannya.


"Aku pasti akan baik-baik saja, kamu nggak perlu khawatir sayang."


Bryan menggenggam erat tangan Donita dan Zoya melihat itu dengan hati yang lara. Ia mencoba tersenyum kepada Donita dan menguatkannya. Namun, sebanyak apa pun ia berusaha, pada kenyataan hatinya masih sangat rapuh.


"Kamu harus kembali dan kita akan segera menikah," ucap Bryan lembut dan mencium bibir Donita di depan Zoya.


"Bu Donita, mari."


Dua residen segera membawa Donita ke ruang operasi. Saat pintu tertutup, pandangan Zoya bertemu dengan Bryan. Ia bisa melihat kecemasan dan kekhawatiran di mata pria yang dicintainya.

__ADS_1


Zoya keluar dengan tatapan hampa. Ia masih melihat Bryan berada di sana dengan cemas menghampiri. Berbagai pertanyaan dilempar olehnya membuat Zoya sangat tertekan. Ia tidak tahu harus menjelaskan apa pada pria itu. Karena apa pun yang akan dia sampaikan, akan melukai hatinya. Zoya mengumpulkan kekuatannya dan menatap mata Bryan.


"Bryan, Donita mengalami gagal jantung saat operasi berlangsung dan—"


"Kamu bercanda kan? Donita tidak mungkin meninggal."


"Bryan, aku minta maaf karena tidak bisa menyelamatkan Donita. Tapi kami sudah berusaha semampunya.


"Dokter Bryan, jaga ucapan Anda. Jangan mengatakan hal yang tidak wajar apalagi jika sampai menuduh saya yang tidak-tidak."


"Lalu kamu mau bilang kalau semuanya adalah takdir? Aku bisa melihat bagaimana tatapanmu saat melihat Donita. Kamu seolah ingin menerkamnya hidup-hidup!" teriak Bryan dengan menggebu.

__ADS_1


"Saya mengatakan yang sebenarnya, saya tidak pernah berniat atau pun menginginkan pasien saya meninggal di meja operasi. Tapi jika Anda tidak bisa menerima apa yang saya ucapkan, itu hak Anda." Ia pergi meninggalkan Bryan karena ia sangat lelah.


Zoya yang tidak tahu harus bagaimana pun memilih bungkam. Hal itu menyebabkan semua orang menganggap ucapan Bryan benar adanya. Kebungkaman yang membuat karirnya hancur sejak saat itu. Orang-orang yang ngambil videonya ikut memviralkan dengan situasi yang tidak sesuai fakta. Hal tersebut membuat Zoya dihujat habis-habisan oleh netizen dari seluruh Indonesia. Mereka menganggap Zoya tidak seharusnya ada di dunia ini dan tidak sepantasnya menjadi dokter.


Zoya membuka ponselnya saat sudah berada di ruangan. Ia terkejut saat sebuah video tentang dirinya menyebar luas dan banyak netizen yang mengutuk dan menyumpahinya. Zoya memegang erat ponselnya dan ingin sekali membanting benda tersebut, ia menangis di ruangan tersebut. Ia tidak tahu mengapa hidupnya harus sedrama ini.


"Kenapa Bryan tega sama aku ya Tuhan, kenapa." isak tangisnya tidak kunjung bisa ia padamkan. Seseorang mengetuk ruangannya, Zoya segera menghapus air mata dan menghentikan tangisnya. Ia segera menyuruh orang itu masuk.


"Maaf, Dokter Zoya, Anda dipanggil ke ruangan kepala dokter bedah."


"Terima kasih," ujarnya.

__ADS_1


 


__ADS_2