
Happy Reading 😔
Tiga hari selepas meninggalnya Stuard.
Mira dan Kevin saat ini sedang berada di kamarnya.
"Sayang di minum dulu susunya, biar calon anak kita tetap sehat di dalam sini" ucap Kevin sambil mengelus perut istrinya.
Mira tersenyum, kemudian mengambil segelas susu khusus ibu hamil itu.
Setelah menghabiskan susunya tiba-tiba Mira merasa sedih kembali, wajahnya terlihat sendu dan tiba-tiba setetes air matanya jatuh kembali.
Kevin yang menyadari itu segera mengambil gelas kosong dari tangan Mira dan menaruhmya di nakas. Sungguh sakit rasanya melihat wanita yang dicintai menangis rapuh seperti itu.
"Sayang, sudah lah jangan terus-terusan bersedih seperti ini, nanti kalau calon anak kita ada apa-apa gimana? Lihat Mamanya selalu sedih seperti ini" ucap Keving menghapus air mata Mira.
Kemudian pria itu memeluk istrinya dan memberikan sentuhan halus dipunggung Mira.
"Aku merasa sangat bersalah, seandainya saja Stuard tidak meninggal rasa bersalahku tidak sebesar ini sayang" Ucap Mira.
Kevin membaringkan tubuh istrinya, kemudian dia memeluk Mira dengan lengannya satunya sebagai bantalan.
"Ssttt ... hidup itu adalah takdir, jadi kemungkinan takdir hidup Stuard memang harus sampai disini, mungkin dengan lantaran dia menyelamatkan mu sayang, tuhan telah memberikan jalan hidup masing-masing pada semua orang."
Kevin masih mengelus lembut punggung Mira memberi semangat kepada sang istri. Tapi saat di lihat Mira sudah berada di alam mimpi.
Mira baru saja terlelap tidur, Kevin mengangkat lengannya yang sedari tadi menjadi bantalan istrinya itu.
Mata Mira masih terlihat sembab karena habis menangis. Kepergian Stuard adalah pukulan besar terhadap Mira.
Mungkin karena pria yang baru saja dikenalnya itu telah menyelamatkan nyawanya jadi mungkin itu akan menjadi beban bagi wanita yang tengah mengandung anak pertamanya itu.
Antara bahagia dan duka juga dirasakan Kevin, diapun masih terus berusaha mencari keberadaan Lindsay, wanita yang telah merencanakan pembunuhan terhadap istrinya itu.
Pria itu berjalan ke arah pintu dan membukanya. Dengan perlahan Kevin keluar dan menutup pintunya hati-hati agar istrinya itu tidak terbangun.
Kevin menuju ke ruang kerjanya dan mengambil salah satu botol wine disebuah almari kaca
"Lindsay, sebenarnya ada apa denganmu, aku tidak kamu sekejam itu dan berubah menjadi wanita iblis" gumam Kevin sambil meneguk wine nya.
Di depan Mira dia terlihat kuat dan baik-baik saja, tapi sebenarnya hatinya lebih sakit lagi melihat istrinya yang seperti itu.
Rasa bersalah selalu menganggu pikirannya, dimana dia selama ini yang tidak bisa menjaga istrinya dengan baik.
Apalagi pelaku kejahatan yang meneror Mira adalah orang yang dulu pernah dekat dengannya.
"Lindsay, aku tidak akan pernah melepaskanmu!!!" seru Kevin meremas botol ditangannya.
"Aaggrrhh!!! seharusnya Mira selalu tersenyum bahagia dengan kehamilan anak kita, tapi kenapa harus terjadi seperti ini!! aku adalah suami tidak berguna, maafkan aku sayang!!" seru Kevin menatap foto pernikahan mereka yang terpajang di dinding ruang kerja itu.
Mata Kevin memerah menahan amarah dan kesedihan yang mendalam, Dia marah terhadap dirinya sendiri yang tidak bisa menjaga istrinya.
Dia sedih dan hatinya terasa disayat saat melihat Mira yang menangis karena rasa bersalahnya.
__ADS_1
Kevin meneguk wine nya lagi, dia selalu seperti yang ini saat Mira tidur, hanya bisa mengalihkan rasa sakitnya lewat minuman itu.
Segala cara sudah dilakuan oleh Kevin untuk melacak keberadaan Lindsay, tapi sampai saat ini dia belum berhasil mendapatkan kabar baik dari para polisi dan orang suruhannya.
Sedangkan di sebuah rumah yang tidak cukup besar.
Lindsay meringkuk di bawah selimut dengan keadaan yang menggigil.
Kenzo yang baru saja masuk kedalam kamar itu menatap dengan tatapan sinis.
"Bangun dan makanlah ini!" seru Kenzo membuka selimut yang dipakai Lindsay itu.
"Ken, aku merasa tidak enak badan, udara disini sangay dingin sekali" ucap Lindsay.
Wanita itu memeluk tubuhnya yang sudah terasa sangat sakit. Kenzo menarik tangan Lindsay dan menyuruhnya untuk duduk.
"Makan lah dulu, aku tidak mau kamu mati kelaparan dan kesakitan di rumahku!!" seru Kenzo.
Tiba-tiba wanita itu memeluk Kenzo erat, mendekapnya dan menelusupkan wajahnya di dada bidang pria itu.
"Ken, aku tidak mau mati, tapi aku juga tidak mau makan" lirih Lindsay.
Kenzo hanya menghela napas, sebenarnya dia sudah cukup muak melihat Lindsay dan ingin wanita itu segera mendapatkan pelajaran karena kelakuannya yang telah menyakiti Mira.
Tiba-tiba terlintas dipikirannya sebuah ide jahat. Kenzo tersenyum sinis, kemudian pria itu mengangkat wajah Lindsay mendongak ke arahnya.
"Linds, tenang saja kamu tidak akan mati" ucap Kenzo yang kemudian mencium kasar bibir Lindsay.
Kemudian pria itu dengan kasar membating tubuh Lindsay yang sudah terlihat lemah itu.
"Ken, apa yang akan kamu lakukan!" seru Lindsay.
"Aku akan membuatmu nikmat sayang!"
Sedetik kemudian Kenzo melepaskan semua pakaian Lindsay, wanita itu sempat memberontak.
"Jangan Ken, apa yang akan kamu lakukan padaku"
Kenzo tidak mendengarkan ucapan Lindsay. Dengan cepat dia juga membuka semua pakaiannya.
"Linds, tubuhmu itu sangat menawan!"
"Jangan Ken, kumohon!!"
"Tenanglah, nikmati saja apa yang akan aku lakukan padamu!"
Wanita itu hanya bisa menangis tanpa melakukan perlawanan karena badannya yang sudah sangat lemah.
Kenzo mencium setiap inci tubuh Lindsay sambil membayang wajah Mira, jujur hatinya sangat ingin membalaskan rasa sakit Mira dengan melakukan hal itu pada wanita yang telah berusaha membunuh-nya.
"Aaakkkk!" Lindsay berteriak saat Kenzo memasukinya dengan sangat kasar tanpa kelembutan sama sekali.
"Ken, ada apa denganmu!" teriak Lindsay di sela aktifitas yang Kenzo lakukan.
__ADS_1
Pria itu terus saja menggerakan tubuhnya dengan tempo cepat diatasa tubuh Lindsay
Lindsay menahan sakit di area sensitifnya karena perlakuan Kenzo.
"Bagaimana sayang, nikmat kan tubuhku ini, aku akan membuatmu semakin melayang" bisik Kenzo ditelinga Lindsay kemudian menciumnya.
Malam itu menjadi saksi bagaimana Kenzo memperkos* Lindsay dengan sangat brutal, seolah menjadikan tubuh Lindsay untuk membalas kesakitan Mira.
Sudah hampir 3 jam Kenzo melakukan itu, dan pada akhirnya dia mengeluarkan cair*n nya didalam tubuh Lindsay.
Lindsay sudah terlihat tidak berdaya, diapun menutup matanya sambil menahan sakit diseluruh tubuhnya itu.
Kemudian Kenzo segera memakai pakainnya kembali setelah menyelimuti tubuh polos Lindsay.
Dia tersenyum miring tidak merasa bersalah sama sekali.
"Semua itu untuk Mira!" Batin Kenzo kemudian meninggalkan Lindsay keluar dari kamar itu.
Kenzo mengambil sebatang rokok dan menghisapnya. Dia memang tidak pernah menginginkan Mira untuk menjadi miliknya.
Melihat wanita itu sudah bahagia bersama suaminya itu sudah cukup membuatnya senang. Kenzo mencintai Mira tanpa sebuah obsesi.
Pria itu merogoh saku dan mengambil ponselnya. Terlihat dia mendial sebuah nomer.
Disis lain.
Ponsel Kevin di nakas berdering. Dia melihat sebuah nama tertera di layar itu.
"Kenzo" gumam Kevin.
Saat ini dia sudah hampir terlelap memeluk istrinya. Kemudian Kevin menggeser tanda hijau di ponselnya.
"Halo, ada perlu apa?"
"Aku ingin kita bertemu tuan Kevin?"
"Kita bisa bertemu di kantor"
"Ini bukan masalah pekerjaan"
"Apa ada hal yang penting selain pekerjaan?"
"Ini soal orang yang telah membuat Mira hampir celaka"
"Apa maksudmu Lindsay? apa kamu tahu dia dimana sekarang!"
"Ya, kita bertemu besok di alamat yang akan aku berikan tuan, tenang saja saat ini Lindsay bersamaku, dia tidak akan bisa kabur lagi!"
Bersambung ....
Mohon dukungannya akak reader dengan cara Like, vote, bunga, rate bintang lima agar novel BENCI JADI BUCIN naik peringkat ya 🥰🥰🥰
Terima kasih 😘😘😘
__ADS_1