BENCI JADI BUCIN

BENCI JADI BUCIN
Sebuah Kenyataan


__ADS_3

Happy Reading 😊


POV Lindsay.


Siang itu Inez membawa ku ke rumah sakit terdekat karena aku mengeluhkan perutku yang sakit, ini adalah kesempatan ku untuk bisa lari dari Inez.


wanita itu sepertinya bukan orang biasa, entahlah dia sangat tidak cocok untuk menjadi seorang pelayan, tapi Inez memang pintar mengalihkan pembicaraan saat aku bertanya hal pribadi tentang nya.


"Inez, aku mau ke toilet dulu ya?" ucapku pada saat kita mengantri di ruang pemeriksaan.


"Biar aku antar," jawab Inez.


"Tidak usah, kamu berjaga di sini saja, nanti kalau giliran ku dipanggil kan tinggal kamu mendatangi dokter dan menunggu ku kalau aku belum kembali, perutku mulas mau bab nie" ucap ku memberi alasan sambil memegang perut buncit ku.


Inez pun mengangguk, aku bergegas pergi ke arah toilet, setelah hampir sampai aku melihat sekeliling dan memastikan bahwa tidak akan ada orang yang melihat ku pergi, setelah ku rasa aman akhirnya aku langsung berjalan menuju ke arah pintu keluar yang ada di sisi belakang rumah sakit itu.


Dengan berjalan tergesa aku memegang perutku yang terasa agak sakit, mungkin karena kelelahan berjalan, akhirnya aku memutuskan berhenti untuk sekedar mengirup oksigen.


Dengan sedikit membungkuk aku menghembuskan nafas perlahan dan menghirup nya lagi.


Setelah beberapa saat aku bergegas untuk berjalan lagi, tidak ingin Inez tahu dan mengejar ku. Setelah ku rasa agak jauh dari rumah sakit itu, aku menatap ke depan, di sebrang jalan ada sebuah hotel yang tidak cukup besar.


Akhirnya aku memutuskan untuk menyewa kamar dan beristirahat, sebelumnya aku sudah memesan makanan di hotel tersebut.


Malam ini adalah hari pertamaku bermalam di hotel ini. Untung saja aku masih menyimpan beberapa lembar uang dari tempatku yang dulu.


Tapi tentu saja aku tidak bisa terus berada di hotel ini, karena uangku akan menipis apabila aku terus tinggal di sini.


Aku harus mencari pekerjaan, tapi di mana? Dengan status ku yang mantan penjahat apakah masih ada perusahaan yang menerima ku?


Hah, ternyata menjadi wanita kejam dan penuh dendam itu sangat tidak enak.


Sungguh aku begitu menyesali semua perbuatan ku yang dulu, huh apa aku harus meminta bantuan Mira?


Apakah dia mau membantu ku? karena hanya dia yang selama ini peduli pada ku. Ah, sudahlah malam juga sudah larut, sebaiknya aku memejamkan mata ini, sungguh lelah rasanya.


Akhirnya akupun memejamkan mata dan masuk kedalam alam mimpi.


Mimpi apa ini? aku merasa melayang di atas awan, terbang bersama puluhan burung merpati. Rasanya sungguh bahagia, aku belum pernah merasakan jiwa yang seperti ini.

__ADS_1


Tapi tiba-tiba suasana itu berubah, aku berasa masuk ke dimensi lain, sebuah waktu yang dimana saat aku masih kecil.


Seperti melihat sebuah adegan film, aku melihat ke dua orangtuaku yang sangat senang melihat ku saat pertama kali bisa berjalan.


Mama sampai menitikan air mata nya, papa memancing ku untuk terus berjalan dengan cara merentangkan tangan di depan ku, sedikit demi sedikit aku melangkah dah akan menjangkau papa, tapi aku terjatuh.


Mama menyemangati untuk bangun, aku merasa begitu bahagia melihat masa kecilku bersama kedua orang tua ku.


Papa menggendong ku penuh kasih sayang, begitu pun dengan Mama, kita bertiga tertawa bersama, sungguh indah dah bahagia hati ini.


Tiba-tiba aku merasakan sebuah kecupan di dahi dan pipi, Mama dan Papa berebut untuk mencium ku.


Hatiku sungguh bahagia, biasakah sekarang aku merasakan kebahagiaan ini Tuhan.


Memiliki kasih sayang dari kedua orang tua ku yang saat ini telah membenciku.


Tiba-tiba aku merasakan bibir ku di kecup berkali-kali, dan merasakan tubuh ini ada yang menindih.


Sangat jelas rasanya seperti nyata, tiba-tiba aku merasakan bibir ku tidak hanya di kecup, tapi sebuah ******* yang lembut.


Deru nafas seseorang mengenai pipi dan hidungku.


Tiba-tiba aku tersentak saat perut ku di raba, ah apa ini, kenapa perasaan ini sungguh nyaman.


"Linds, jangan pergi" ada sebuah suara yang berbisik di telinga ku.


Suara seseorang yang sudah sangat aku kenal,


Akupun berusaha membuka mata ku, alangkah terkejutnya saat aku melihat seseorang yang sangat ingin aku hindari.


"Lindsay," ucapnya.


"Kenzo, kenapa kamu ada disini?" Ucapku terkejut.


Aku melihat sekeliling dan ternyata masih di dalam kamar hotel.


"Maafkan aku Linds, jangan pergi lagi ya?"


Aku hanya terdiam mendengar ucapan Kenzo, apakah pria ini takut bahwa aku membawa pergi anaknya, tapi ini anakku juga.

__ADS_1


"Lindsay, ayo kita menikah?" Ucapan Kenzo membuat ku terkejut dan shock seketika.


"Apa, apa maksud mu? Kamu tidak perlu menikahi ku Ken, aku berjanji akan merawat anakmu dengan baik" jawab ku yang bertolak belakang dengan hatiku.


Sebenarnya aku senang Kenzo mengatakan itu, tapi apakah dia ingin menikah dengan ku hanya untuk status anaknya saja?


"Aku tidak peduli Linds, aku tidak mau kamu pergi lagi, ayo kita menikah dan tinggal bersama, tidak peduli bagaimana perasaan mu padaku, tapi kita harus menikah demi anak kita" ucap Kenzo membuatku semakin tidak ingin melakukan permintaan nya itu.


"Maaf Ken, aku tidak ingin terikat dengan siapapun," Jawab ku memalingkan wajah ke arah lain.


Tidak ingin melihat matanya yang terus menatap ku itu. Tapi tiba-tiba Kenzo memegang daguku dan mengarahkan ke wajahnya.


"Lindsay, ada yang ingin ku katakan padamu, terserah kamu mau mempercayai nya atau tidak, tapi aku hanya ingin kamu mendengarkan nya" ucap Kenzo masih terus menatap ku.


Entah kenapa tiba-tiba aku merasa deg degan, jantung ini memompa dengan cepat hingga debarannya bisa aku dengar dengan telinga ku.


Ya Tuhan, jangan sampai Kenzo mendengar kannya.


"Linds, selama ini aku tidak tahu apa yang ku rasakan ini, hampir berbulan-bulan aku menjabarkan nya, entah kenapa saat aku bersamamu jiwa dan raga ini menjadi lebih tenang, bukan karena anak kita tapi aku merasakan dari lubukkl hatiku yang paling dalam" ucapnya menarik nafas dalam-dalam.


Aku masih menyimak apa yang akan di katakan Kenzo, matanya tampak menatap ku dengan tatapan yang berbeda, sebuah tatapan penuh cinta dan mendamba, entahlah aku tidak tahu.


"Linds, aku mencintaimu, aku tulus menyayangi mu, maukah kamu menikah dengan ku?"


Deg, deg, deg ....


Ya Tuhan, apa ini?


Kenzo menyatakan cinta padaku? apa aku tidak salah dengar. Aku masih berusaha menetralkan debaran jantung ini.


Kenzo nampak merogoh sakunya mengambil sesuatu. Sebuah kotak kecil berwarna merah. Kenzo membuka kotak itu dan mengambil sebuah cicin berlian yang ada di dalamnya.


"Will you marry me, Lindsay?" ucapnya.


Oh Tuhan, apakah aku sedang bermimpi atau menghayal, Kenzo melamarku dan dia melakukan itu di atas ranjang.


Aku dilamar di atas tempat tidur??


Pov end.

__ADS_1


Bersambung ...


Apakah alurnya terlalu cepat 🙏 gimana nie akak Reader tanggapan nya?


__ADS_2