
Happy Reading π
Lindsay menatap langit-langit dikamar yang bernuansa putih pink itu. Tepat tiga hari yang lalu dia menempati nya.
"Nona, waktunya makan siang" ucap seorang wanita yang berusia sekitar 30 tahun itu.
"Inez, sebenarnya siapa tuanmu itu? kenapa dia melakukan semua ini padaku? padahal kita tidak saling mengenal" tanya Lindsay.
Inez mendekat ke arah Lindsay, dia mengarahkan wajahnya ke sisi kiri gadis itu dengan membungkuk.
"Tuan itu sangat tampan, dan seperti nya dia sangat menyayangi mu nona" bisik Inez.
"Kalau begitu beri tahu aku siapa dia? dan kenapa selama tiga hari ini dia tidak mau muncul di hadapan ku?"
"Seperti nya tuan sangat sibuk nona, tapi sepertinya dia sudah sangat mengenal mu" jawab Inez.
Lindsay mengingat satu persatu orang-orang yang dia kenal dan pernah dekat dengannya, tapi dia tidak menemukan nama satu orang pun yang dia curigai.
"Apa Kevin? tapi itu tidak mungkin" gumam Lindsay.
"Siapa Kevin?" tanya Inez.
Lindsay menjadi semakin penasaran karena Inez tidak mengenal Kevin, karena menurut Lindsay hanya pria itu yang pernah sangat dekat dengannya.
"Lalu siapa nama tuanmu itu?" tanya wanita itu lagi.
"Makan dulu baru aku beritahu, kasihan adik bayi yang ada di dalam perut mu kalau Mommy nya tidak mau makan" ucap Inez.
Memang semenjak Lindsay datang ke rumah itu dia sangat susah sekali untuk makan, terkadang dia hanya mau makan kalau ingat ada kehidupan lain dalam perut nya butuh nutrisi.
"Baiklah aku akan makan, tapi setelah itu kamu harus berjanji memberi tahukan siapa orang yang telah membawaku ke sini" ucap Lindsay.
"Baiklah nona"
"Tolong jangan panggil aku nona, kamu masih terlihat begitu muda bahkan mungkin kita seumuran" ucap Lindsay pada Inez.
"Haha, umurku sudah 30 tahun, aku ini lebih tua darimu nona" jawab Inez tergelak.
"Ah benarkah? tapi kamu masih terlihat begitu muda?"
"Mungkin karena faktor selalu bahagia, aku tidak pernah terlalu memikirkan masalah kehidupan yang akan membuat kita stres, jadi lebih baik kita nikmati hidup yang hanya sekali ini" jawab Inez.
Lindsay tersenyum mendengar ucapan wanita itu.
"Ajari aku menikmati hidup Inez" pinta Lindsay.
"Menikmati hidup itu sangat mudah, jangan terlalu membawa ke dalam pikiran setiap masalah yang kita hadapi dan berdamai lah dengan takdir hidup, karena sebenarnya manusia itu mempunyai dua sifat yang saling bertolak belakang, kalau kita suka memikirkan suatu masalah dalam hidup kita tinggal memilih jalan yang satu nya yaitu tidak usah terlalu dipikirkan" jawab Inez.
Lindsay hanya terdiam, entah kenapa tiba-tiba dia teringat dengan Kenzo.
Apakah aku terlalu mengekang pria itu, apa aku terlalu egois. Lindsay membatin.
Di dalam lapas tempat yang pernah Lindsay tempati.
Kevin terlihat menelepon seseorang, sedang kan Mira sedari tadi sibuk berjalan kesana kemari, dia begitu terkejut saat mengetahui bahwa Lindsay sudah tidak ada di sana.
"Bagaimana sayang, apa kamu sudah tahu keberadaan Lindsay?" tanya Mira.
"Aku sudah menelepon beberapa orang tapi tidak ada yang tahu tentang Lindsay, hanya tadi saat aku menelepon kepala polisi tuan Andrew dia hanya mengatakan bahwa Lindsay telah dipindahkan tempat, tapi dia tidak mau mengatakannya dimana tempat itu" jawab Kevin.
"Sebenarnya apa yang terjadi? kenapa Lindsay tiba-tiba dipindahkan?"
"Entahlah sayang, sebaiknya sekarang kita pulang saja, nanti kalau ada kabar tentang Lindsay aku akan memberi tahumu" jawab Kevin.
__ADS_1
Dia merangkul bahu istrinya dan pergi dari tempat itu.
Malam hari di sebuah villa.
"Inez, bukankah kamu sudah berjanji padaku!" seru Lindsay.
Saat ini dia sedang berada di dapur untuk mencari wanita yang tadi siang mau mengatakan tentang siapa orang yang telah menolong nya.
"Ada apa sih nona, aku baru selesai mandi, apa nona sudah lapar?" ucap Inez yang baru keluar dari dalam kamar nya.
"Aku menagih janji mu!"
"Aku kira apa, lagian kenapa harus teriak-teriak sih" ucap Inez membuka kulkas dan mengambil jus jeruk dari dalam
Dia menuangkannya ke dalam sebuah gelas dan menyerahkan pada Lindsay.
"Minulah dulu nona, nanti adik bayinya kehausan karena Mommy nya teriak terus"
"Aku tidak haus"
"Jus jeruk banyak vitamin nona, setelah ini aku akan mengajakmu ke suatu tempat" ucap Inez.
Lindsay mengerutkan keningnya, memang wanita di depan nya itu sama sekali tidak terlihat seperti seorang pelayan.
"Baiklah aku minum, tapi kamu mau mengajak ku kemana?"
"Aduh wanita hamil memang sangat cerewet ya, aku mau mengajakmu makan malam di suatu tempat, karena aku tidak masak tadi" jawab Inez.
Lindsay akhirnya meminum jus itu dari pada terus dipaksa oleh Inez. Wanita itu sudah seperti ibunya sendiri yang sangat protektif dan cerewet soal kesehatan Lindsay.
Bicara soal Ibu tiba-tiba wajah Lindsay berubah sendu, jujur sebenarnya dia sangat merindukan kedua orangtuanya, tapi sepertinya dia harus menahan rindu itu karena Lindsay sudah seperti anak yang di buang oleh keluarganya.
"Kenapa jadi sedih? apa jusnya kurang manis?" tanya Inez.
Lindsay menggeleng.
"Eh tunggu, pakai ini dulu" seru Inez mengambil paper bag di atas meja.
"Apa itu?"
"Ini dress untuk ibu hamil, lihat lah perutmu yang sudah membesar ini nona, masih saja memakai kaos seperti itu, sebaiknya cepat ganti sana dengan dres ini" ucap Inez memberikan paper bag yang berisi beberapa baju khusus untuk ibu hamil.
Lindsay masuk ke dalam kamarnya yang memang berada di lantai bawah itu.
Setelah beberapa saat Lindsay keluar memakai sebuah dress warna biru muda, dia terlihat lebih anggun dengan dress itu.
"Ayo kita pergi ke suatu tempat" ucap Inez menggandeng tangan Lindsay.
Ibu hamil itu hanya menurut saat Inez membawa nya masuk kesebuah mobil. Kemudian Inez duduk di belakang kemudi dan kemudian menghidupkan mobil itu.
"Kenapa aku tidak yakin ya kalau kamu itu seorang pelayan?" ucap Lindsay memicingkan matanya.
"Kenapa tidak yakin nona?"
"Ya penampilan mu ini lebih mirip bodyguard wanita" jawab Lindsay.
Sedangkan Inez hanya tertawa mendengar ucapan Lindsay.
"Apa tuanmu itu seorang kepala mafia?" tanya bumil itu.
"Bukan" jawab Inez menggeleng.
"Ehmm, apa seorang CEO?"
__ADS_1
"Bukan juga, dia hanya karyawan biasa" jawab Inez.
Lindsay menjadi semakin penasaran dengan orang baik itu.
Setelah menempuh waktu hampir Tiga Puluh menit akhirnya mobil itu memasuki sebuah tempat, seperti sebuah rumah yang sangat mungil dan nyaman.
"Kenapa kita kesini? katanya mau makan?" tanya Lindsay melihat sekeliling.
"Ya kita makannya di sini nona, sekarang turunlah"
Inez keluar dari dalam mobil dan membuka kan pintu untuk Lindsay.
"Tuan ku sedang menunggu mu di dalam nona, malam ini dia ingin makan malam bersama mu di tempat ini" ucap Inez.
Entah kenapa tiba-tiba Lindsay menjadi sangat gugup, seperti apa orang yang telah mengeluarkan nya dari dalam penjara.
Dengan langkah hati-hati dan dada yang berdebar Lindsay masuk ke dalam rumah mungil itu.
Ceklek ... Lindsay masuk ke dalam dan di depannya sudah ada meja yang dihiasi bunga dan lilin yang menyala.
Perlahan Lindsay melangkah kah kakinya sambil menatap sekeliling, tiba-tiba ada sebuah suara yang menyapanya dari belakang.
"Hai Linds, apa kabar?"
Lindsay langsung berbalik dan menatap orang di depannya itu dengan mata yang melotot.
"Kenzo!!"
"Iya, ini aku" jawab Kenzo melangkah ke arah wanita itu.
"Jadi kamu lah orang yang telah membebaskan ku dari penjara?"
"Iya, aku ingin kamu tidak kesulitan Linds, aku sangat merasa bersalah karena menyebabkan mu menjadi seperti ini, maka dari itu aku ingin menebus semua kesalahanku dengan cara membawamu pergi dari tempat itu dan menjaga calon anak ku" jawan Kenzo.
Entah kenapa Lindsay menjadi sangat sedih mendengar alasan Kenzo itu.
Sebenarnya hampir sebulan ini Lindsay selalu memikirkan pria itu, entah karena faktor hamil atau bagaimana, yang jelas Lindsay begitu merindukan sosok Ayah biologis dari calon bayinya.
Tapi semua itu hanya dia pendam. Tidak akan membicarakan pada siapapun, dan mungkin lebih baik kalau tidak bertemu dengan Kenzo.
Tapi ternyata saat ini pria yang dia rindukan ada di hadapannya, ingin rasanya Lindsay mendekap pria itu.
Sabar nak, jangan meminta Mommy memeluk Daddy ya, jangan minta yang aneh-aneh. Mommy tidak akan sanggup. Batin Lindsay sambil memegang perutnya.
Seakan dia berinteraksi dengan baby nya itu.
"Lindsay, apa kamu masih membenciku?" tanya Kenzo yang melihat Lindsay hanya diam saja.
Saat ini Kenzo melihat Lindsay yang begitu berbeda, aura kecantikan nya lebih memikat saat dia hamil. Bahkan pria itu melihat Lindsay yang begitu seksi dengan perutnya yang sudah membesar itu.
"Aku tidak membecimu Ken, hanya saja kalau bukan karena anak ini apakah kamu juga akan menolongku dan membebaskan ku dari dalam penjara?"
Pertanyaan Lindsay sangat mengejutkan Kenzo.
"Aku tidak tahu Linds, saat ini yang kupikirkan hanya ingin melindungi dan menjaga mu dan calon anak kita"
Bersambung ....
Mohon dukungannya ya akak readerππ»ππ»ππ»ππ
Baca juga novel othor yang lain dan kasih vote, like dan rate bintang 5 yaππ₯°π
__ADS_1
Terima kasih π₯°π₯°π₯°